Kisah Pemanfaatan Limbah Ternak di Pinrang, dari Keluhan Warga hingga Biogas Gratis untuk Tetangga

  • Bagikan
Mahyuddin, peternak sekaligus Ketua Kelompok Tani Sipatuo Desa Lebang, saat memanfaatkan limbah kotoran ternak untuk pemenuhan biogas rumah tangganya. Foto: Nurdin Amir/Via Mongabay.co.id/IST

Mediatani – Pagi-pagi sekali, Subandi (65) baru saja usai memberi pakan sapinya yang berjumlah lima ekor. Setelah selesai, ia kemudian mengalirkan kotoran hewan ternaknya itu ke dalam digester atau tempat penampung yang berfungsi sebagai reaktor biogas. Alat itulah yang berfungsi mengubah kotoran sapi menjadi biogas dalam skala rumah tangga.

Aktivitasnya itu telah menjadi rutinitas. Dia sudah melakukannya sekitar 10 tahun belakangan. Dari pemanfaatan kotoran sapi miliknya, warga Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang ini tak pelu lagi memikirkan perihal membeli gas elpiji atau mencari kayu bakar untuk kebutuhan rumah tangganya.

“Dulu, rata-rata dalam sebulan kami  pakai 3 tabung elpiji ukuran 3 kg dengan harga berkisar 20 hingga 25 ribu rupiah per tabungnya. Sekarang saya sudah gak pernah beli elpiji, enak sekali mi,” terang Subandi dikutip Kamis (11/3/2021) dari situs mongabay.co.id.

Jika dirunut, perkenalan Subandi dengan energi biogas itu sebenarnya berasal dari keluhan tetangga dan warga sekitar dari sapi-sapi yang dipeliharanya. Sebelum tahun 2010 silam, banyak tetangganya yang mengeluhkan bau kotoran atau urin sapi milik Subandi yang bertebaran di jalan, maupun di belakang rumahnya. Apalagi pada saat musim penghujan, baunya menjadi sangat menyengat.

Menurut cerita Subandi, sekitar tahun 2010, dia bersama peternak lainnya di Desa Tatae mulai diajarkan oleh penyuluh dari Dinas Peternakan Kabupaten Pinrang untuk mengolah kotoran ternak menjadi biogas.

Dia juga mengisahkan, awal-awal pemanfaatan biogas, banyak peternak yang masih sangsi dengan keberhasilan metode pengolahan baru tersebut.

“Awalnya hanya saya seorang yang pakai biogas,” sebut Subandi.

Limbah kotoran tidak dibuang tapi bisa dimanfaatkan menjadi biogas dan pupuk kompos. Foto: Nurdin Amir/Via Mongabay/IST

Bisa Beri Gas Gratis buat Tetangga

Melihat keberhasilan reaktor biogas milik Subandi dan lepasnya dia dari ketergantungan gas elpiji, membuat mulai membuat banyak orang yang tertarik mengikuti teladannya.

“Dari 2010 sampai sekarang dari satu rumah tangga, kemudian ditambah lagi dua rumah di sebelah memanfaatkan untuk kebutuhan masak rumah tangga, mereka tidak pernah beli elpiji lagi. Terus ada kelompok-kelompok lain yang mengikuti.” Kisahnya.

Menurut perhitungan Subandi, dari satu ekor sapi itu, apabila limbahnnya dikumpulkan untuk dijadikan biogas, maka bisa mencukupi kebutuhan energi untuk dua orang dewasa per harinya.

Dengan lima ekor sapi yang dimiliki itu, berarti bisa mencukupi kebutuhan sekitar 10 orang dewasa. Karena di rumahnya hanya ada tiga orang, energi biogas yang dihasilkan, dia berikan ke tetangganya secara cuma-cuma.

Tak hanya itu, dari limbah biogas yaitu kompos selama ini dimanfaatkan untuk tanaman di kebun atau sawah untuk itu menekan penggunaan pupuk kimia.

“Pupuk kompos bisa kita pakai di sawah. Kemudian kita juga masih pakai pupuk kimia, tapi sangat sedikit, paling 20-25 persen saja. Sebelum ada pupuk kompos ini, 100 persen pupuk kimia semua.” tuturnya.

Menurut dia, kualitas hasil pertanian itu lebih bagus ketimbang menggunakan pupuk kimia 100 persen. Rasa nasi-nya pun katanya jadi jauh berbeda rasanya, pun tidak cepat basi.

Masyarakat Desa Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang pun sekarang tak khawatir lagi dengan banyaknya limbah ternak sapi yang bisa mencemari lingkungan masyarakat sekitar.

“Biogas itu kan awalnya karena adanya pencemaran lingkungan, karena itu kita arahkan untuk pengolahan teknologi yang benar,” ujar Hasrul, Penyuluh Peternakan dan Kesehatan Hewan (PPKH) Dinas Peternakan Kabupaten Pinrang.

Bersama rekan sesama penyuluh, dia melakukan pendampingan terhadap sejumlah kelompok ternak sapi di Kabupaten Pinrang sejak tahun 2010.

“Awalnya, kelompok tani ini tak tahu apa-apa tentang teknologi. Jadi, kami beri penyuluhan tentang pengolahan limbah dan pemeliharaan sapi yang benar dan baik. Juga cara untuk menghasilkan inseminasi buatan untuk mendapatkan sapi besar dengan cara kawin silangan-silangan itu,” ujarnya.

Untuk Kelurahan Tatae Pinrang, kelompok tani ini mendapat sejumlah bantuan untuk biogas, baik dari Dinas Lingkungan Hidup maupun dari Program Biogas Rumah (BIRU).

Kedua program ini sebenarnya saling komplementer, bedanya biogas program BIRU fokusnya diberikan untuk pemenuhan skala rumah tangga. Perbedaannya juga ada pada bentuk digester. Bantuan dari Dinas Peternakan ukurannya lebih besar.

Menurut Hasrul, upaya pendampingan dari satu kelompok tani ternak ke kelompok lain cukup berhasil. Untuk Kelompok Tani Ternak Anugerah Kelurahan Tatae, yang beranggotakan 15 orang, 70 persen di antaranya telah berhasil dalam pengolahan limbah ternak dan peternakan sapinya.

Kelompok Tani Ternak Anugerah ini memiliki kurang lebih 50 ekor sapi dengan sistem dikandangkan.

“Biogas di kelurahan Tatae, awalnya dilakukan Kelompok Tani Anugrah saja, dua tiga tahun kemudian terbentuk Abadi, Makmur dan Trisakti, kelompok baru. Itu dapat bantuan biogas semua. Termasuk bantuan sapi, kemudian pembuatan kompos.”

Peternak pun diajarkan untuk menggunakan teknologi digester, cara packing kompos, pemrosesan pupuk cair hingga melakukan fermentasi pakan bagi sapi.

Beternak sapi melalui kawin silang juga mulai diperkenalkan. Saat ini peternak rata-rata telah memelihara sapi silangan jenis Limosin dan Simental.

“Dengan cara inseminasi buatan, maka dapat menghasilkan sapi-sapi yang besar dan menambah kesejahteraan masyarakat.”

Keberhasilan Subandi mengolah kotoran ternaknya menjadi biogas dan kompos menjadi contoh tersendiri bagi warga di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang.
Foto: Nurdin Amir/Via Mongabay.co.id/IST

Semua Dapat Dimanfaatkan

Potensi pengembangan biogas di Kabupaten Pinrang memang terbilang cukup menunjang, hal itu dikarenakan populasi ternak sapi terbilang besar. Data BPS 2019 saja, populasi ternak sapi di Kabupaten Pinrang mencapai 28.687 ekor. 

Pemerintah daerah pun membuat target agar setiap kecamatan memiliki paling tidak satu desa/kelurahan yang membangun reaktor biogas skala rumah tangga.

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Pinrang, H. Ilyas, mengatakan untuk pengembangan biogas di Pinrang diarahkan pada pemanfaatan limbah ternak untuk pupuk kandang dan pupuk organik cair.

“Tujuan pengolahan peternakan adalah dengan sistem zero waste (nol limbah). Pak Subandi sudah berjalan biogasnya selama 10 tahun. Kemudian tahun 2015 masuk dukungan Program BIRU di Pinrang yang membangun ratusan biogas kerjasama dengan masyarakat. Semoga bisa berkembang lagi,” ujar Ilyas.

Lanjut Ilyas, target yang ingin dicapai adalah bagaimana upaya feses (kotoran) sapi tidak terbuang begitu saja, namun dimanfaatkan menjadi biogas. Dengan pengelolaan peternakan lewat sistem zero waste, maka semua limbah ternak berguna.

“Kami fokus kepada pembinaan, yaitu memberikan bimbingan dan penyuluhan kepala penerima biogas yang tersebar di sepuluh kecamatan yang ada di Pinrang,” ucapnya.

Data Dinas Peternakan dan Perkebunan menunjukkan jumlah penerima bantuan biogas di Kabupaten Pinrang sebanyak 447 buah di 10 kecamatan, terbanyak di Kecamatan Patampanua, yaitu 133 buah.

Untuk bantuan penerima biogas, Dinas menerapkan aturan bahwa sapi harus dikandangkan agar feses dapat dikumpulkan, jika pun tidak maka minimal semi intensif.

“Minimal, kalau malam dikandangkan, siang dilepas, dan kita upayakan dari kelompok tani,” ungkap Ilyas.

Terkait dengan produksi pupuk, maka proses biogas amat menguntungkan untuk berbagai jenis tanaman pertanian. Selain organik, pupuk cair hasil buangan biogas (bio slurry) tidak perlu lagi difermentasi.

“Kan dari hasil biogas ada dua hasil pupuknya, ada pupuk organik cair dan ada pupuk kompos. Pupuk organik cair saat ini tidak bisa dijual karena belum punya izin edar. Tapi bisa dipakai dalam kelompok sendiri atau dibagikan ke tetangganya,” terangnya.

Selain di Pinrang, pemanfaatan kotoran ternak untuk pemenuhan biogas juga dilakukan para peternak di kabupaten lain di Sulawesi Selatan.  Seperti di Desa Lebang, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang yang dilakukan oleh Mahyuddin (57) peternak yang miliki 30 ekor sapi.

Mahyuddin sendiri mampu menampung limbah kotoran sapi perah sebanyak 300-350 kg per hari dari seluruh sapinya. Setiap ekor sapi perah katanya menghasilkan 10 kg kotoran sapi.

“Kotoran sapi sangat melimpah. Hanya membutuhkan maksimal 7 ekor kotoran sapi bisa mi jadi biogas atau 100 kilogram per hari dari 2 reaktor biogas,” katanya.

Hal serupa juga dijumpai di Dusun Lekkong, Desa Pinang yang merupakan salah satu sentra sapi perah di Enrekang, sekaligus sebagai penghasil makanan khas dangke yang terbuat dari olahan susu sapi. Di sini para produsen telah menggunakan energi biogas untuk memproduksi pangan khas ini.

Rasna contohnya, dia mulai memproduksi dangke sejak tahun 1993. Dulu dia mengandalkan kayu bakar untuk memasak dangke maupun kebutuhan rumah tangga sehari-hari. “Tahun 2000 pakai tabung elpiji. Mulai tahun 2005 beralih memakai biogas yang dikenalkan oleh pemerintah,” katanya.

Sejak biogas hadir, dirinya kemudian berhenti membeli tabung elpiji untuk kebutuhan memasak sehari-hari, termasuk memasak susu sapi perah yang dibuat menjadi dangke. Sebutnya, selama rajin mengisi digester dapat dipastikan energi asal biogas pun selalu tersedia. (*)

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version