Kisah Rayndra, Peternak Domba Gibas yang Kantongi Omzet Ratusan Juta

  • Bagikan
Usaha peternakan domba gibas milik Rayndra Syahdan Mahmudin (foto: jalantikus.com)

Mediatani – Menjadi peternak adalah profesi yang sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang utamanya bagi anak muda atau milenial masa kini.

Terlebih, lahan untuk bertani dan beternak di Tanah Air banyak yang sudah beralih fungsi menjadi bangunan pabrik, perumahan, atau perkantoran. Hal ini membuat Indonesia terancam mengalami krisis pangan karena tidak ada lagi yang akan menjadi petani.

Mindset itulah yang melekat pada seorang petani muda milenial asal Magelang ini. Dia adalah Rayndra Syahdan Mahmudin, yang sejak kecil sudah bercita-cita untuk menjadi petani sukses.

Tak banyak pemuda seperti dirinya yang menganggap usaha bertani dan beternak adalah peluang usaha yang menjanjikan dan membuat kita bisa meraih kesuksesan yang cepat.

Ia sudah memulai karirnya saat masih menempuh pendidikan di Polbangtan Yoma, Magelang. Sambil kuliah, Rayndra sudah merintis berbagai macam usaha mulai dari menjual sayur dan usaha ayam joper, walaupun pada akhirnya gagal.

Namun, kegagalan tersebut bukan akhir dari segalanya bagi Rayndra. Ia mencoba bangkit dengan menjalankan usaha ternak domba dan terus mengembangkannya hingga pemasarannya semakin luas.

Intergrasi ternak domba dan tanaman jagung dan kedelai

Selain budidaya ternak domba gibas, Ia juga memberdayakan petani-petani di sekitar kandang. Hal itu dilakukannya mengintegrasikan ternak domba dan tanaman pertaniannya.

Baca Juga :   Asal Muasal Peternakan Rakyat di Blitar, Kini Dijuluki Sentra Produk Unggas

Tanaman yang ditanam petani itu antara lain jagung dan kedelai yang limbahnya dapat digunakan sebagai pakan ternak, sementara kotoran yang dihasilkan dari ternak dombanya dapat menyuburkan tanah tanaman.

“Selain saling menguntungkan antara kotoran ternak, limbah pertanian jagung dan kedelai bisa digunakan di peternakan saya. Saat ini saya sudah mendampingi sekitar 200 petani,” kata Rayndra dikutip dari laman jalantikus.com, Minggu 29 Agustus 2021.

Salah satu alasan kenapa Rayndra memilih beternak domba gibas, karena hewan ternak itu banyak diminati oleh masyarakat Jawa Tengah. Beternak domba gibas juga biaya pakannya terhitung murah karena bisa diambil dari limbah pertanian.

“Ternak domba diberi pakan dari limbah jagung dan kedelai, seperti menggunakan pohon jagung dan kulit kedelai. Ada juga ampas tahu dan ketela untuk tambahan suplemen pada pakan domba. Karena di dalam usaha peternakan ketika bisa menekan biaya produksi terutama pakan, akan menambah keuntungan peternak,” jelas Rayndra.

Kandang domba gibas milik Rayndra Syahdan Mahmudin
Kandang domba gibas milik Rayndra Syahdan Mahmudin (©YouTube/Kementerian Pertanian)

Membuat kandang yang sederhana dan murah juga mengurangi biaya modal yang dikeluarkan. Selain itu, ia juga sengaja membuat kandang dengan sederhana dan murah agar agar bisa ditiru oleh petani atau peternak lainnya.

“Jika petani di desa, apabila mau belajar peternakan tapi investasi untuk kandangnya saja sudah mahal. Model kandang yang saya gunakan bisa untuk ditiru,” ujarnya.

Baca Juga :   Tingkatkan Produktivitas, Wagub Jabar Harap Ada Kontribusi Pemuda Terhadap Pertanian

Walaupun kandangnya sederhana, tambah Rayndra, tapi pemeliharaan yang dilakukan tetap memperhatikan SOP. Karena pada dasarnya prinsip kandang yaitu tempat yang bisa digunakan untuk tempat berteduh dan hewan ternak merasa nyaman.

Untuk menghemat pakan,  para domba milik Rayndra menggunakan limbah jagung dari para petani di sekitar kandangnya.

Dengan memanfaatan limbah jagung, para petani jagung yang di musim kemarau tidak punya pendapatan bisa terbantu keuangannya, karena limbah jagung yang mereka kumpulkan dibeli Rayndra untuk pakan ternaknya.

“Limbah jagung sebaiknya jangan hanya dibuang, dibakar, padahal sebenarnya bisa digunakan untuk peternakan dan bisa menekan biaya pakan.  Tapi kalau di tempat ini, bertani jagung harus kita bentuk karena masyarakat di sini belum terbiasa,” kata Rayndra.

Tekad Rayndra yang kuat dalam menjalankan usaha ternak domba akhirnya membuahkan hasil. Omzet hingga Rp200 juta dari berjualan domba berhasil diraupnya setiap bulan.

Khusus untuk menjelang Idul Adha, dia bisa menjual sebanyak 700 ekor domba. Bila satu dombanya dihargai Rp2,5 juta, maka dalam sebulannya dia bisa menghasilkan sebanyak Rp1,5 miliar.

Dengan penghasilannya yang sebanyak itu, menurut Rayndra, sudah terbukti bahwa petani merupakan profesi yang menjanjikan karena bisa menghasilkan penghasilan yang banyak.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani