Komunitas Internasional Serukan Divestasi Industri Peternakan untuk Cegah Perubahan Iklim

  • Bagikan
ilustrasi. sapi/pixbay/ist

Mediatani – Di sepanjang tahun 2020, semua mata tertuju pada Covid-19. Tetapi, seiring meningkatnya ekspektasi untuk vaksinasi massal pada 2021, tahun ini dijanjikan sebagai waktu untuk fokus pada tantangan lain, yang sama besarnya yakni mitigasi pada perubahan iklim.

Dalam upaya mencegah planet mencapai titik terpanas dalam sejarah, dilansir Sabtu (30/1/2021) dari situs Tribunnews.com bahwa komunitas atau LSM Internasional Sinergia Animal dan organisasi mitra lainnya mendesak bank pembangunan internasional agar mengumumkan divestasi besar-besaran terhadap industri peternakan.

Menurut data FAO, setidaknya ada 14,5 persen dari semua emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia, dikeluarkan dari sektor industri peternakan.

Anggodaka, Campaign Manager Act for Farmed Animals (AFFA) Bank pembangunan Internasional menuturkan bahwa lembaga keuangan memiliki peran yang besar untuk melakukan mitigasi perubahan iklim dengan membentuk rantai produksi.

Mereka bisa memutuskan untuk mendanai praktik pertanian berkelanjutan, atau terus meminjamkan dana miliaran kepada industri peternakan.

Selain tidak ramah lingkungan, industri itu pula menempatkan kita pada risiko pandemi baru, ancaman ketahanan pangan, dan juga kekejaman terhadap hewan dan manusia.

“Bank Dunia dan Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD), merupakan lembaga keuangan yang dibentuk untuk melakukan investasi bagi sektor produktif dan infrastruktur, yang sebagian besar terdapat di negara-negara dunia selatan,” kata Anggodaka.

Diutarakannya, pada bulan November lalu, 450 bank pembangunan publik di dunia mengumumkan, melalui deklarasi bersama bahwa janji untuk menyelaraskan keputusan pendanaan dengan Perjanjian Paris mengenai perubahan iklim.

Dalam surat itu, mereka menyampaikan bahwa “konservasi, pengelolaan dan perlindungan berkelanjutan yakni keanekaragaman hayati, lautan, dan alam merupakan fondasi yang penting untuk pembangunan dan kesejahteraan semua masyarakat, termasuk di dalam merancang sistem pangan yang berkelanjutan.”

Meskipun demikian, tak ada hasil yang menyatakan secara eksplisit perihal adanya rencana divestasi terhadap sektor industri peternakan.

“Berdasarkan bukti saintifik, kami bisa mengatakan bahwa tak mungkin untuk menciptakan sistem pangan yang aman, berkelanjutan, dan adil saat kita tahu bahwa sistem itu sangat bergantung pada produksi hewan, terutama dalam sistem industri kita saat ini,” kata Anggodaka.

Sinergia Animal merekomendasikan agar investasi pada industri peternakan dihentikan dan beralih ke sistem agroekologi, sistem pertanian asli, agroforestri, pertanian organik, sistem pangan nabati, sistem silvo-pastoral   (sistem penggunaan lahan yang menggabungkan penanaman tanaman penghasil makanan ternak atau pakan dan pepohonan untuk memproduksi hasil kayu dan sekaligus memelihara ternak).

Serta inisiatif sistem padang rumput permanen dengan intensitas rendah (agar mengurangi dampak dan imbas yang buruk pada lingkungan).

Sebuah studi terbaru oleh Inter-American Development Bank (IDB) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) menunjukkan bahwa manfaat tambahan ketika beralih ke ekonomi dengan emisi nol yang bersih, yang mencakup penambahan pola makan berbasis nabati: dapat menciptakan 15 juta pekerjaan baru di Amerika Latin dan Karibia pada tahun 2030.

Hingga saat ini, sudah 5 tahun sejak Perjanjian Paris dilakukan, pemerintah dari seluruh dunia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca agar membatasi pemanasan global hingga di bawah 2 derajat Celcius, dibandingkan dengan tingkat pada masa pra-industri.

Namun, survei menunjukkan bahwa tujuan itu mungkin tidak akan dapat tercapai.

Data dari satelit Uni Eropa menunjukkan bahwa pada tahun 2020 merupakan tahun terpanas di dunia dengan jumlah gas CO2 di atmosfer mencapai rekor pada Mei lalu.

Angka yang belum pernah terlihat sejak empat juta tahun lalu.

Menurut NASA, angka itu ialah 19 dari 20 tahun terpanas yang pernah tercatat di Bumi terjadi sejak tahun 2001.

“Hasil mengkhawatirkan ini menunjukkan bahwa jika para pembuat keputusan tak menanggapi perubahan iklim dengan serius, kita akan menuju titik kritis yang mana akan mendorong planet ini dalam kerusakan yang permanen. Dan hal ini mungkin bisa terjadi lebih cepat dari yang kita perkirakan,” ungkap Anggodaka.

Inilah mengapa Sinergia Animal membuat kampanye itu terhadap bank pembangunan saat sebuah surat bersama yang ditandatangani oleh lebih dari 30 LSM di dunia sudah dikirim ke lembaga keuangan internasional dan sebuah petisi yang telah dihitung dengan lebih dari 15.500 tanda tangan https://www.change.org/PendanaanPandemi. (*)

  • Bagikan
Exit mobile version