Banner Iklan @a2tani.id

Manfaatkan Limbah Minyak Goreng Jadi Biodiesel, Milenials Ini Untung Ratusan Juta

  • Bagikan
Ilustrasi Minyak Jelantah/IST

Mediatani – Minyak goreng bekas pakai atau minyak jelantah lazimnya kerap dibuang oleh penggunanya setelah digunakan. Namun, hal itu tak dilakukan oleh seorang pemuda berusia 21 tahun yakni Andi Hilmi.

Pria asal Makasar, Sulawesi Selatan ini justru melihat minyak jelantah sebagai peluang bisnis yang menggiurkan. Minyak goreng bekas pakai digunakan sebagai bahan baku pengembangan biodiesel.

Banner Iklan @a2tani.id

Setiap bulannya, dirinya pun mampu menerima omzet sebesar Rp200 juta. Berawal dari kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), dari situ sehingga mengakibatkan para nelayan di Makasar tak bisa melaut.

Andi pun mulai mencari solusi untuk menggantikan BBM dengan biodiesel dari minyak jelantah. “Saya berusaha mencari pengganti energi terbarukan agar bisa digunakan oleh para nelayan. Prinsip saya, karya yang kita buat harus sesuai dengan kebutuhan pada saat itu,” katanya, melansir, Senin (19/4/2021) dari situs Kompas.com yang juga mengutip dari website Kementerian ESDM, Sabtu (17/4/2021).

Tidak berhenti ke para nelayan saja, Andi terus berusaha untuk memperluas jaring usahanya. Ia pun memutuskan untuk mengikuti organisasi seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Jejaring ini pun dimanfaatakan betul oleh Andi setelah mengikuti kompetisi berbagai forum di tingkat nasional dan internasional.

Bahkan tak sedikit yang menawarkan berbagai bentuk kerja sama dari jejaring tersebut.

Menurut dia bisnis pengolahan jelantah jadi biodiesel masih memiliki banyak tantangan, antara lain dalam teknologi pengolahan dan proses pengumpulan minyak jelantah.

Baca Juga :   Pengendara Keluhkan Harus Berbagi Jalan dengan Sapi, Anggota DPRD Makassar: Belum Ada Solusi

Untuk mengumpulkan pasokan minyak, Andi membuat bank minyak jelantah RT/RW dengan fasilitas seperti check point dan jerigen.

Dengan ini dia dapat mengintegrasi satu kota. Namun, untuk membuat bank minyak jelantah yang ideal, diperlukan biaya tidak sedikit.

Oleh karenanya, Andi mengajak perusahaan besar untuk bekerja sama membuat bank minyak jelantah melalui program CSR.

Hingga saat ini, Andi sudah membuat bank sampah di sekitar 20 sekolah, menyasar 500 siswa yang berarti membidik 500 rumah tangga.

Tantangan lain dari sisi teknis biodiesel adalah karakteristik bawaan dari minyak jelantah yang akan sulit memenuhi tuntutan tinggi kualitas biodiesel untuk B30.

Untuk meningkatkan jumlah pasokan minyak jelantah, Andi sering melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar. Ia mengajak masyarakat menabung minyak jelantah.

Nantinya, tabungan minyak jelantah ini ditukar dengan minyak goreng baru dan nantinya terbiasa mengonsumsi minyak goreng yang sehat.

Andi juga mengedukasi nelayan yang awalnya enggan menggunakan biodiesel karena warnanya berbeda dari solar, sehingga mereka khawatir kapal jadi rusak.

Andi memastikan, selain harganya lebih murah daripada solar, biodiesel juga tidak akan merusak mesin kapal.

Ibu-ibu Rumah Tangga di Gresik Berinovasi dengan Manfaatkan Minyak Jelantah Jadi Sabun

Pada masa wabah pandemi Covid-19, inovasi dan kreatifitas harus terus ditingkatkan. Dikarenakan banyak aktivitas yang dihentikan di keramaian, tapi tidak dengan inovasi. Ya, itulah yang dilakukan ibu-ibu rumah tangga di Kabupaten Gresik Jawa Timur.

Baca Juga :   Terdampak Tumpahan Minyak di Laut, Begini Nasib Nelayan dan Petambak Karawang

Mereka diajak untuk memanfaatkan minyak jelantah atau sisa minyak goreng lalu kemudian dijadikan sabun. Sebagaimana dikutip, Sabtu (6/3/2021) dari situs timesindonesia.co.id, awalnya, minyak jelantah dimulai dengan proses penjernihan minyak jelantah.

Hal itu juga cukup mudah, karena disaring dengan kain dan tamping minyak dalam wadah. Saat proses penjernihan ini bisa gunakan arang untuk menyerap kotoran.

Setelah itu, minyak jelantah yang sudah murni dicampur dengan larutan soda api (NaOH), minyak kelapa, cuka apel, fragrance oil atau jeruk nipis, pewarna makanan, serta ekstrak daun binahong sebagai bahan anti bakteri.

Ketua Pelatihan, Siti Fitriah menuturkan bahwa dalam masa pandemi ini pihaknya tidak memanggil banyak peserta tetapi hanya dibatasi cukup 10 peserta saja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Karena masih dalam masa pandemi, akhirnya cuma 10 peserta saja tapi sudah banyak yang ingin ikut kegiatan ini,” katanya, Kamis (4/3/2021).

Diungkapkan Fitriah bahwa dari limbah minyak goreng yang dijadikan sabun batang dan sabun cair itu, nantinya bisa dibuat cuci tangan. Sementara untuk prosesnya butuh waktu 15 menit dengan takaran yang sesuai dan untuk menjadi sabun dibutuhkan waktu 3 jam atau 1 hari… Baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

Banner Iklan Mediatani
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani