Mantan Menteri KKP Terkejut Harga Daging Sapi Impor Australia di Vietnam Bisa Lebih Murah

  • Bagikan
Mantan Menteri Perikanan dan Keluatan, Susi Pudjiastuti/IST

Mediatani – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti secara blak-blakan mempertanyakan napas perdagangan Indonesia yang menurut pengamatannya memiliki keambiguan yang tak masuk akal.

Susi Pudjiastuti melontarkan pertanyaan tersebut kepada Menteri Perdagangan yang baru Muhammad Lutfi dalam program acara Susi Cek Ombak yang dipandunya bersama co-host Komika Kiky Saputri, di stasiun televisi swasta Metro TV yang tayang Rabu malam, 17 Februari 2021, sebagaimana diberitakan tempo.co, yang dikutip mediatani.co, Kamis (25/2/2021).

Susi Pudjiastuti pun menceritakan pengalamannya sebagai stakeholder petani garam di Indonesia. Menurut dia, terkadang kontrol perdagangan atas kuota impor sering kali kurang tegas dalam pelaksanaan aturannya, sehingga menyebabkan harganya malah jatuh di tingkat petani.

Permasalahan anjloknya harga garam di tingkat petani itu telah menjadi perhatian Susi Pudjiastuti. Bahkan ketika dirinya masih menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Persoalan harga jatuh itu adalah impor terlalu banyak dan bocor. Titik. Itu persoalannya,” kata Susi saat memaparkan pencapaian program-program Kementerian Kelautan dan Perikanan semester I di kantornya, Jakarta, Kamis, 4 Juli 2019, silam, dikutip, Kamis (25/2/2021) dari sumber yang sama.

Dalam wawancara bersama Mendag Muhammad Lutfi itu, Doktor Honoris Causa Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini juga menceritakan pengalamannya saat Menteri Agriculture-nya Vietnam berkunjung ke Indonesia.

Baca Juga :   Bantuan Budidaya Ikan untuk Pesantren di Kabupaten Sinjai Mendapat Hasil Memuaskan

Susi Pudjiastuti juga mengajak tamu dari Vietnam itu untuk jalan-jalan ke Natuna, “Kita cerita banyak hal termasuk (impor) daging sapi, saya tanya Vietnam impor dari mana? Dari Australia, katanya,” tutur perempuan yang dikenal tegas ini.

Susi Pudjiastuti juga menanyakan kepada tamu kenegaraannya itu perihal harga jual paling mahal daging sapi impor yang mana Indonesia dan Vietnam sama-sama memasok dari Australia.

Susi Pudjiastuti pun terkejut saat mengetahui bahwa harga tersebut lebih murah dibanding dengan harga pasaran di Indonesia.

Dirinya kemudian mempertanyakan apakah alasan jarak bisa mempengaruhi harga yang jika dilihat secara kasat mata bahkan Indonesia bahkan lebih dekat dengan Australia.

“Kenapa Vietnam murah, Indonesia mahal? Apakah itu tidak mungkin tidak ada permainan sehingga harga tetap mahal? Karena hukum dagang, permintaan turun mestinya harganya turun,” ujar Susi Pudjiastuti.

Menanggapi pertanyaan tersebut Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi menuturkan bahwa pihaknya mengakui perihal permasalahan perdagangan Indonesia yang memang problematik dan harus diselesaikan.

Menteri Muhammad Lutfi pula menyebutkan bahwa penyebab harga daging sapi impor lebih murah di Vietnam lantaran hal ini sudah terjadi puluhan tahun.

“InsyaAllah saya rapikan, jadi pembeli dan penjual mendapatkan manfaat keuntungan yang wajar,” tuturnya.

Kepada Susi Pudjiastuti, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menambahkan bahwa yang terpenting adalah masyarakat Indonesia tak dirugikan karena harga daging sapi impor yang lebih mahal dibanding negara lain.

Baca Juga :   Wujudkan Swasembada Daging, Mentan SYL Panen Pedet di Lombok Tengah

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan mediatani.co, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mengantisipasi kebutuhan dan ketersediaan daging sapi dan kerbau saat Ramadhan dan Idul Fitri 2021 dengan menyiapkan rencana impor.

Dikutip Rabu (10/2/2021) dari situs Ihram.co.id, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah menjelaskan bahwa kebutuhan daging sapi atau kerbau secara nasional untuk 2021 mencapai angka 696.956 ton dengan perhitungan konsumsinya per kapita 2,56 kg/tahun.

Sementara itu, perihal ketersediaan daging sapi atau kerbau lokal hanya berkisar 473.814 ton. Maka dari itu, kebutuhan dan ketersediaan daging sapi/kerbau nasional sepanjang tahun 2021 masih memerlukan jumlah sebanyak 223.142 ton.

“Kekurangan tersebut akan dipenuhi dari impor baik dalam bentuk sapi bakalan, bakalan yang dipotong dan impor daging sapi atau kerbau,” kata Nasrullah di Jakarta, Selasa (9/2) yang disadur Rabu (10/2/2021) dari situs Ihram.co.id.

Ada pun perihal impor yang renacana akan dilakukan pemerintah, perinciannya yakni dalam bentuk sapi bakalan dengan jumlah sebanyak 502 ribu ekor, bakalan yang dipotong sebanyak 430 ribu ekor atau setara 96.367 ton dan impor daging sapi/kerbau sebanyak 185.500 ton. (*)

  • Bagikan