Menafsir Kembali Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia

Oleh: Sampean

Dalam tulisan berjudul Petani dan Periode Transisi  yang sebelumnya dimuat dalam laman mediatani.co berupaya menggambarkan transisi perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Eropa dari masyarakat Agraris ke masyarakat industri. Pembukaan tulisan tersebut cukup menyentil dengan mengungkai penjelasan Barrington Moore, JR bahwa hanya ada satu jalan menuju mode masyarakat industri yakni jalan Kapitalisme dan Demokrasi politik.

Ungkapan tersebut sangat menyederhanakan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Perubahan sosial pada masyarakat sekiranya tidak pernah tunggal dan tidak pernah berjalan linear. Elias (Evers 1988) Dalam perubahan pola evolusi masyarakat terbentuk menjadi “ragam-pola”dalam membentuk sistem sosial dunia yang tunggal.

Dari fondasi teori tersebut muncul beragam teori menggambarkan sistem dunia yang berupaya memotret perubahan kehidupan masyarakat dunia. Masyarakat bergerak menuju ketunggalan sistem dunia yakni “Modernisasi” dan “Globalisasi” sebagai jalan emansipasi masyarakat pre-historis industrial [Agraris dan merkantilis] menuju Masyarakat Industri.

Bell (Sanderson 2011) mengungkapkan bahwa kehadiran Modernisasi maupun globalisasi akan menghancurkan basis ekonomi subsisten, sistem ikatan primordial, dan identitas diganti dengan ikatan spesialisasi dan profesi sebagai bagian dari sistem kapitalisme mutakhir (Post-kapitalisme).

Moore, Elies, dan Bell gagal meramalkan gerak transisi perubahan masyarakat. Amerika Serikat boleh berbangga dengan segala pencapaian penemuan teknologi mutakhir, Menciptakan Senjata Pemusnah, dan membangun kota Megapolitan. Amerika Serikat (USA) tidak mampu mengubah masyarakat sepenuhnya menjadi masyarakat tanpa ikatan primordial, Amerika Serikat termasuk negara paling rasis (baca : the ethnic economy, Ivan Light).

Kita harus mengakui keberhasilan USA dalam menjalankan ekonomi kapitalisme dan demokrasi politik. Tapi, perubahan masyarakat USA tidak menyeluruh berkembang menjadi masyarakat kapitalisme. Dalam Masyarakat USA masih menyimpang Anasir Suku Amish yang mempertahankan sistem ekonomi subsisten dan tetap menggunakan alat-alat pertanian di masyarakat Eropa di Abad 16. Suku Amish sampai saat ini masih tetap bertahan dari berbagai serangan modernitas USA bahkan komunitas Amish menolak Asuransi dan berbagai program pemerintah USA untuk meningkatkan kualitas hidup Komunitas Amish. Ini membuktikan bahwa Kapitalisme dan demokrasi politik bukan jalan tunggal menuju masyarakat Industri.

Dari Komunitas Amish membuktikan pernyataan Alfred Weber (Evers 1988) proses peradaban tetap menjadi kekuatan pendorong evolusioner, hanya saja; hasilnya tidak semestinya tunggal. Dan, tidak juga bahwa setiap masyarakat harus menempuh siklus pasang surut yang sama. Masyarakat Amish tetap mengalami perubahan dari tekanan modernitas ataupun globalisasi tapi bukan jalan Ekonomi Kapitalisme ataupun demokratisasi politik tetapi prinsip dasar kesederhanaan penghidupan dan berpegang pada prinsip religiusnya. Masyarakat Amish tidak pernah mengarungi tiga lintasan dunia modern Barrington More Jr yakni Rute Kapitalisme – Demokratis, Kapitalis-Reaksioner, dan Komunis. Masyarakat tetap mempertahankan Sistem ekonomi Subsisten.

Dalam Petani dan Periode Transisi memaparkan Revolusi Puritan, Revolusi Perancis, dan Perang Saudara Amerika didasarkan jalan kapitalis dengan sistem politik gaya fasisme. Cina dan Rusia didasarkan jalan komunis sedangkan Jerman dan Japan berdasarkan jalan Kapitalis – reaksioner. Ketiga jalan tersebut menuntun masyarakat pada ketunggalan sistem dunia yakni masyarakat Industri. Ketiga Jalan ini tidak serta-merta dilalui setiap negara bahkan setiap komunitas terkecil dalam masyarakat.

Dalam penelitian Chie Nakane (1967) basis ekonomi Japan dibangun dari prinsip kekerabatan (kinship) di mana tanah di kelola secara komunal atau berkelompok (rumah tangga). Prinsip kekerabatan tersebut menjadi kemajuan ekonomi Japan untuk memasuki masyarakat industrial yang berbasis pada rumah tangga (houshold) atau ikatan kekerabatan.

Dari beragam ilustrasi yang digambarkan penulis dalam tulisannya Petani dan Periode Transisi kehilangan konteks dalam menjabarkan transisi masyarakat Indonesia. Penulis kesulitan menggunakan rute lintasan yang dialami Indonesia dalam teori transisi tersebut. Bahkan, Penulis gagal menggunakan teori tersebut untuk menjelaskan masyarakat Indonesia. Sebab; Masyarakat Indonesia tidak pernah memasuki lintasan manapun baik rute Kapitalis-demokratis, Kapitalis-reaksioner, apalagi Komunis.

Selain itu, Penulis gagal menjelaskan konteks peristiwa dan waktu untuk menggambarkan proses transisi masyarakat Indonesia. Di sisi lain, harus diakui bahwa penulis berhasil memotret perubahan masyarakat petani di Indonesia didasari kepentingan “komoditas” untuk memenuhi permintaan pasar. Konteks ini hanya berlaku pada awal kedatangan bangsa-bangsa Eropa untuk menjajah. Penulis tidak menyentuh sama sekali kondisi masyarakat pre-kolonial sehingga pandangannya bias kolonial. Lalu, bagaimana Transisi Masyarakat Indonesia ?

Transisi Masyarakat Petani Indonesia

Persoalan bertani di Indonesia bukan lagi persoalan industrialisasi melalui lintasan-lintasan yang dialami Eropa. Sebab, Eropa dan Indonesia memeliki struktur sosial yang berbeda pula. Bukan Hanya itu, Eropa tidak pernah mengalami penundukan dan penjajahan sebagaimana yang dialami masyarakat Indonesia.

Perkembangan Masyarakat Eropa dipengaruhi kesadaran aristokrasi terhadap privatisasi lahan dalam monopoli sistem penghidupan (Polanyi 2001). Sementara, Indonesia mengalami berbagai fase transisi pertanian di pedesaan termasuk dalam bentuk kepemilikan maupun dalam penggunaan dan penguasaan lahan pertanian. Perubahan tersebut dilihat pola transformasi desa Indonesia yang berlangsung di abad 18-19.

transformasi desa di abad 19 (Sumber: Temple 1987)

Sementara, pra-kolonial sistem pertanian masyarakat desa Indonesia lebih banyak diatur oleh kalangan raja, terutama masyarakat Jawa. Sebab, wilayah di luar Jawa pada Abad 16, masyarakat Indonesia masih menggunakan sistem berburu dan meramu, dan berladang berpindah-pindah. Bahkan, Karakteristik masyarakat ini masih berlangsung sampai saat ini sebagai mana dipraktekkan pada suku Anak dalam di Sumatra. Suku Anak dalam kerap kali berbenturan dengan sistem pertanian modern ala kapitalisme. Keberadaan mereka sebagai penghambat produksi perkebunan.

Pada hakikatnya, Indonesia tidak pernah mengalami transisi pertanian. Perkembangan pertanian berkembang secara acak-kaduk. Di berbagai wilayah di Indonesia berkembang secara cepat, tapi; di wilayah bergerak lamban, bahkan menolak berubah termasuk komunitas Badui di Banteng dan Komunitas Ammatoa Kajang di Sulawesi Selatan. Selain itu, Ketidakjelasan pola perubahan masyarakat pertanian Indonesia dipengaruhi oleh pewarisan kolonial dalam mengelola lahan pertanian.

Revolusi hijau yang digalakkan oleh orde baru tidak ubah dengan sistem tanam paksa yang diterapkan oleh Pemerintahan Belanda. Lalu, apa yang berubah ? masyarakat petani di Indonesia tidak pernah berubah mulai zaman kolonial hingga sekarang. Program pengembangan pertanian di Indonesia masih tetap berbasis komoditi dan modernisasi alat pertanian.