Menteri Perdagangan Harap BUMN Bisa Intervensi Harga Daging Sapi

  • Bagikan
ILUSTRASI. daging sapi australia/ist

Mediatani – Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk lakukan intervensi pada harga sapi.

“Ini memastikan agar hari raya Idulfitri dan puasa 2021 aman,” ujar Lutfi, dalam konferensi pers virtual Indonesian Trade Outlook 2021, Jumat, 29 Januari 2021, dikutip Minggu (31/1/2021) dari situs berita medcom.id.

Menurut dia, dalam mengatasi masalah itu pihaknya bakal mencari alternatif lain agar dapat memastikan Indonesia mendapatkan suplai sapi yang baik dengan harga yang juga kompetitif.

“Nah mudah-mudahan Australia cepat dapat menjamin suplai dari Australia. Dan kita tentunya juga tetap ingin membeli,” jelas Lutfi.

Dia menuturkan Australia hingga kini menjadi mitra utama Indonesia dalam pasokan sapi. Lutfi menjelaskan bahwa tren harga sapi Australia yang biasanya antara USD2,5-USD2,8 per kilogram (kg). Bahkan tak pernah lebih dari USD3 per kg.

“Menurut hemat saya, ini memang sudah menjadi tidak sehat. Ini akan berdampak pada konsumsi dan gizi rakyat Indonesia, saya mesti mempunyai alternatif. Alternatif itu, lagi kita godok di dalam dan sebentar lagi akan keluar dan biarkan,” pungkas dia.

Kementerian Pertanian (Kementan), sebelumnya juga menyebutkan impor daging sapi bakalan akan datang pada Februari 2021 nanti.

Baca Juga :   Pemkab Lebak Optimis Jadi Sentra Penghasil Sapi Peranakan Ongol

Upaya impor itu juga untuk menjaga stabilitas harga dan kecukupan ketersediaan sapi siap potong.

“Mulai Februari nanti, untuk tanggalnya masih tentatif. Daging yang diimpor terdiri atas sapi bakalan dan daging sapi,” kata Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan Syamsul Maarif dari sumber yang sama yang Mengutip dari Mediaindonesia.com, Minggu, 24 Januari 2021 lalu.

Dirinya menyebut, dalam rangka menjaga stabilisasi harga dan kecukupan ketersediaan sapi siap potong, pemerintah dalam waktu dekat, melalui Kementerian Perdagangan akan melakukan pemberian izin kepada para importir.

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan mediatani.co bahwa Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan juga meminta pemerintah perlu segera memperkuat berbagai infrastruktur peternakan yang memadai di kawasan produksi sapi.

Hal itu kata dia juga sebagai cara mengantisipasi kenaikan harga daging sapi.

“Saya anggap pemerintah perlu segera memperkuat infrastruktur peternakan di daerah produsen, untuk meningkatkan produksi daging sapi nasional,” kata Johan Rosihan dalam rilis di Jakarta, Selasa, dikutip Rabu (27/1/2021) dari situs berita antaranews.com, terkait harga daging sapi yang terus merangkak naik sejak awal 2021.

Johan mengatakan, harga daging sapi selama lima tahun terakhir ini cenderung meningkat dengan rata-rata 15 persen per tahun, karena defisit daging sapi di Indonesia. Sementara konsumsi daging sapi terus mengalami peningkatan sekitar rata-rata 2,11 persen.

Baca Juga :   Kisah Pemanfaatan Limbah Ternak di Pinrang, dari Keluhan Warga hingga Biogas Gratis untuk Tetangga

Dirinya mengingatkan agar ketersediaan daging sapi pada akhir 2020 hanya 47.836 ton, sementara, prediksi kebutuhan daging sapi pada 2021 mencapai 696.956 ton, disertai produksi dalam negeri dari sapi lokal pada 2020 hanya mencapai 404.997 ton.

“Saya melihat pemerintah perlu memfokuskan diri melakukan pengembangan sapi lokal untuk memenuhi permintaan daging yang cenderung meningkat,” kata Johan.

Untuk itu, dia menuturkan, Kementerian Pertanian diharapkannya mampu melakukan terobosan besar untuk menggairahkan para peternak sapi. Hal itu diupayakan agar populasi sapi lokal dapat ditingkatkan untuk memenuhi permintaan pasokan daging sapi.

Johan pula mengutarakan harapannya agar pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan populasi sapi potong yang hingga saat ini hanya berkisar 18,17 juta ekor.

“Satu di antaranya ialah bentuk infrastruktur peternakan di daerah produsen yang penting untuk dikembangkan adalah penerapan program pemuliaan melalui pendekatan kelembagaan peternak agar ada perbaikan implementasi teknologi pakan, genetik dan reproduksi secara maksimal dalam peningkatan produktivitas yang berkelanjutan”, paparnya. (*)

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani