Pemuda Maros Ini Beternak Ayam Batik, Harganya Menggiurkan

  • Bagikan
ayam batik/ist

Mediatani – Mungkin bagi sebagian orang memelihara ayam adalah hal yang mudah kan? Tapi, bagaimana jika yang dipelihara ini adalah jenis ayam batik yang masih tergolong langka di masyarakat?

Nah, hal inilah yang sedang digeluti oleh seorang pemuda asal Maros, Ersa Sahar Reza.

Diketahui pula, Reza mulai menggeluti hobinya saat duduk di bangku SMA, lho. “Awalnya cuma hobi, tapi makin ke sini makin tertarik untuk memelihara berbagai jenis ayam batik,” ucap Reza dikutip, Kamis (10/6/2021) dari laman Tribunmaros.com.

Beralamat di Lingkungan Panjallingan, Bontoa, Maros,  Sulawesi Selatan, Reza rupanya memelihara belasan ayam Batik.

Saat ini saja di kandang miliknya, ada dua jenis yang ia kembang-biakkan, yakni Ayam batik Italy dan ayam batik Kanada.

“Saat ini jumlah ayam batik yang ada di sini jumlahnya ada sebelas ekor. Sebelumnya ada 3 jenis, tapi dioper ke teman. Jadi saat ini cuma ada 2 jenis yakni batik Italy dan batik Kanada,” ucapnya saat ditemui di kediamannya.

Reza menjelaskan, kesebelas ayam ini pun didatangkan langsung dari luar negeri. Untuk memelihara ayam batik, tidaklah sulit, kunci utamanya adalah kebersihan kandang.

“Kalau mau merawat ayam batik, yang paling penting adalah menjaga kebersihan kandang, minumnya harus diperhatikan begitupun pakannya,” jelas dia.

Pakan ayam yang cocok untuk ayam batik adalah kombinasi dari jagung pecah, beras merah, gandum dan kacang hijau.

Selain memelihara, Reza pun juga menjual ayam batik miliknya apabila memang ada yang berminat untuk membeli. Untuk memasarkan ayam batik miliknya, ia memanfaatkan sosial media Facebook.

Dia juga menawarkan harga yang cukup bervariasi dan tergantung dengan kualitas ayamnya.

“Harganya mulai 500 ribu, hingga 15 juta tergantung dengan kualitas ayam, kalau kualitas kontes ini yang harganya mahal,” terangnya.

Selain itu, keterbatasan jumlah keberadaan ayam atau limited edition, tentunya juga menjadi penentu harga dari ayam batik.

Selain ayam batik, ia pun memelihara berbagai jenis merpati hias yang juga sudah memenangi berbagai konter perlombaan.

Berinovasi di Tengah Pandemi, Aris Beternak Puyuh, Ayam hingga Maggot

Selain aksi rpemuda asal Maros. rupanya ada sosok peternak inspiratif linnya.

Meski, merebaknya pandemi Covid-19 berdampak ke berbagai sektor usaha. Hal ini pun membuat peternak patah arang.

Ibarat pepatah, Banyak Jalan Menuju Roma. Yup! Sebagaimana dilakukan seorang Warga Kampung Sukadana, Kecamatan Buay Bahuga, Kabupaten Way Kanan, Lampung, bernama Aris Jumani.

Awaknya sempat terkendala dengan minim pendapatan dari pekerjaannya sebagai pekerja serabutan gegara Pandemi Covid-19, ia akhirnya berinisiatif memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk beternak burung puyuh dan budidaya maggot.

Aris mengisahkan bahwa dirinya mulai beternak puyuh sejak pandemi Covid-19 melanda. “Bermodal sedikit demi sedikit, saya lalu mulai bangun kandang dan menambah populasi puyuhnya. Awalnya sih hanya sekedar hobi, tapi kemudian saya berinisiatif untuk dijadikan sumber penghasilan keluarga karena di rumahkan (berhenti bekerja),” kisah Aris, dilansir, Selasa (8/6/2021) dari laman Lampung77.com.

Ia mengakui usaha ternak puyuh yang dijalaninya itu kini sudah menjadi usaha keluarga dengan populasi sekitar 800 ekor puyuh dan produksi telur sekitar 2-3 Kg per harinya.

“Pertama kali, saya membeli 200 butir telur puyuh dan ditetaskan sendiri Sekarang alhamdulillah sudah mencapai 800 ekor. Rata-rata kalau untuk terluarnya bisa 2 kg perhari dan dijual ke pengepul dengan harga Rp35 ribu per Kg,” akunya.

“Kalau untuk perawatannya sebenarnya cukup mudah. Terpenting kita perhatikan kebersihan kandang dan rutin memberi makan 2 kali sehari pada pagi dan sore,” sambungnya…baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

  • Bagikan