Pendapatan Pembudidaya Ikan Masih Membaik di Masa Pandemi

Mheela Nisty - Mediatani.co
  • Bagikan
Tambak budidaya

Mediatani – Pendapatan pembudidaya ikan pada kuartal IV 2020 masih seperti kuartal sebelumnya, yaitu dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 3,5 juta per bulan. Meski tidak mengalami kenaikan, nilai tersebut masih merupakan rata-rata pendapatan dari kuartal II 2020 yang menunjukkan kenaikan 7,8 persen.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto mengungkapkan bahwa hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi pembudidaya ikan mulai membaik selama masa pandemi Covid-19.

Slamet menilai meningkatnya efisiensi produksi budidaya tidak lepas dari berbagai dukungan langsung yang diberikan kepada pembudidaya. Selain itu, usaha pembudidayaan ikan di beberapa daerah yang kembali bergairah juga merupakan efek dari mulai berjalannya rantai suplai.

“Berbagai dukungan yang dilakukan seperti Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI), bantuan benih dan input produksi lainnya, dalam jangka pendek mampu mendongkrak efisiensi produksi budidaya. Terutama selama pandemi ini kita masif melakukan dukungan tersebut di berbagai daerah,” kata Slamet dalam keterangan resmi pada Kamis (14/1/2021).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), adanya perbaikan struktur ekonomi masyarakat pembudidaya ikan di penghujung 2020 membuat Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) pada Desember 2020 senilai 101,24 naik 0,58 poin dibanding pada November yang mencapai 100,65.

Adapun Nilai Tukar Usaha Pembudidayaan Ikan (NTUPi) juga mengalami kenaikan, yaitu 0,77 poin dari periode November yang sebesar 100,94 menjadi 101,72 pada Desember lalu.

Baca Juga :   Tekan Biaya Produksi, KKP Distribusikan Bantuan Benih Kakap Putih dan Pakan Ikan

Menurut Slamet, angka NTPi yang mengalami peningkatan tersebut menunjukkan adanya perbaikan efisiensi usaha yang dipicu oleh harga komoditas utama budidaya yang semakin membaik.

Sistem Distribusi Pulih

Meski inflasi secara nasional pada Desember 2020 mengalami kenaikan 1,68 persen dibanding Desember 2019, tapi karena semakin efisiennya usaha budidaya yang dilakukan, membuat para pelaku budidaya masih merasakan adanya nilai tambah ekonomi.

Slamet berharap indikator ini terus mengalami kenaikan, sehingga ada membuat kapasitas usaha juga naik melalui re-investasi yang dilakukan secara mandiri.

Menurutnya, memasuki triwulan IV, sistem distribusi dan transportasi serta serapan pasar secara perlahan mulai membaik seiring kondisi new normal, sehingga supply dan demand yang selama ini tersumbat juga mulai terurai. Hal inilah yang menurutnya membuat nilai jual beberapa harga komoditas utama mengalami kenaikan.

“Ya. Ada kenaikan daya beli masyarakat pembudidaya, dimana indeks harga yang diterima pembudidaya lebih besar dibanding indeks harga yang dikeluarkan baik untuk konsumsi maupun untuk produksi budidaya,” jelas Slamet.

Berdasarkan yang dipublikasi BPS, perbaikan NTPi secara spasial lebih banyak terpusat di berbagai daerah di Pulau Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kedua daerah tersebut, menurutnya, memberikan kontribusi nilai tukar paling dominan.

Baca Juga :   Peneliti Kakao: Produksi Kakao Indonesia Menurun Tiap Tahunnya

“Ini nanti kita dorong agar NTPi bisa terdistribusi secara merata, sehingga diharapkan akan menekan angka rasio secara nasional,” jelas Slamet.

KKP dorong masyarakat jadi pembudidaya ikan

Guna mengoptimalkan sektor budidaya Ikan di Indonesia, KKP juga terus berupaya untuk mencetak lebih banyak kelompok budidaya ikan. Keinginan Menteri Trenggono ini tidak lepas dari tujuan KKP dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat agar dapat mandiri dan membuat perputaran ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia semakin maju.

Menteri Trenggono mengatakan, untuk menigkatkan hasil ikan budidaya di Indonesia, pengembangan budidaya harus dilakukan secara massif karena sistem yang digunakan lebih terkontrol. Maka dari itu, ia berencana untuk mengoptimalkan pelatihan untuk para kelompok budidaya agar bisa mengelola dengan standar mutu yang baik.

“Misal budidaya nila, lele, gurame, atau patin. Semua komoditas itu secara ekonomi harus dihitung. Dimulai dari perhitungan supply bibit dan supply pakannya, hingga harga pasar ikan agar perputaran ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia bisa meningkat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BRSDM KKP Sjarief Widjaya mengatakan bahwa KKP sendiri telah memberikan pelatihan kepada 300.000 kelompok budidaya selama 5 tahun terakhir.

“Hal ini tentu saja bertujuan untuk mencetak kelompok budidaya ikan yang memiliki sistem mumpuni agar hasil budidaya memiliki kualitas yang baik dan layak dipasarkan,” jelasnya.

  • Bagikan