Petani Sinjai Siap Kembangkan Budidaya Talas Jepang Satoimo

  • Bagikan
Gubernur Sulsel dan beberapa masyarakat panen talas jepang satoimo. Sumber foto: Bonepos.com

Mediatani – Beberapa daerah di Sulawesi Selatan memiliki potensi pertanian yang sangat baik. Salah satu kabupaten yang berpotensi dalam sektor pertaniannya adalah Kabupaten Sinjai. Melihat hal ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berinisiatif untuk mengembangkan potensi tersebut. Dalam langkah awalnya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mempersiapkan bantuan keuangan daerah sekitar Rp64 miliar untuk mendorong peningkatan pembangunan pertanian di Kabupaten Sinjai. Beberapa anggaran digunakan untuk pengembangan budidaya talas jepang satoimo.

M. Nurdin Abdullah, selaku Gubernur Sulawesi Selatan telah memastikan pemerintahannya hadir untuk membangun setiap daerah di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Sinjai, sebagai salah satu penyangga pangan nasional.

Salah satu potensi pertanian yang mulai dikembangkan di Kabupaten Sinjai adalah Budidaya Talas Jepang Satoimo. Para petani di Dusun Bihulo, Desa Bontolempangan, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan siap mengembangkan budidaya Talas Jepang Satoimo untuk memenuhi kebutuhan ekspor di berbagai negara.

“Tahun ini, para petani juga siap mengembangkan budidaya talas jepang satoimo. Mudah-mudahan 2021 ini kami bisa bantu Pemerintah kembangkan talas jepang satoimo”, ungkap Kepala Dusun Bihulo, Desa Bontolempangan, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Hasbi melalui keterangan yang diterima di Makassar, Jumat (8/1)

Baca Juga :   Ini Tips Beternak Sapi Potong di Wilayah Perkotaan ala Komedian Azis Gagap

Talas Jepang Satoimo (Colacasia esculenta var. antiqourum) atau familiar dengan nama Satoimo (Jepang) merupakan sumber pangan alternatif yang layak dikembangkan. Selain bernilai ekonomi tinggi, talas Jepang juga mengandung protein tinggi namun rendah karbohidrat dan gula yang diyakini aman dikonsumsi penderita diabetes. Umbi segar Saitimo mengandung kalsium dan kalori tinggi yang cocok untuk makanan diet. Sedangkan, pati (powder) dijadikan sebagai bahan utama makanan sehat seperti bubur lansia, campuran tepung atau bahan kue. Sementara seratnya dipakai untuk pembuatan jelly, Ice Cream biscuit filling, preparat sup, minuman berserat, pudding, makanan dan minuman diet bagi penderita diabetes.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Selatan mencatat permintaan dan kebutuhan ekspor sangat besar, Namun Sulawesi Selatan baru bisa mengisi 5 % dari permintaan tersebut. Itu karena bahan pangan umbi-umbian ini dinilai menyehatkan bagi masyarakat. Oleh sebab itu, budidaya talas Satoimo bisa dikembangkan di Sulsel dengan potensi lahan yang ada. Bukan saja dalam rangka memanfaatkan potensi pasar ekspor, tetapi juga mulai menginspirasi masyarakat perlunya berdamai dengan bahan makanan utama alternatif.

“Karena itu, selain untuk ekspor, pengembangan budidaya talas jepang satoimo ini bisa dijadikan sebagai ketahanan pangan kita. Produk yang tidak hanya bisa dikonsumsi dalam bentuk aslinya, talas jepang satoimo juga bisa dibuat tepung untuk diversifikasi produk konsumsi”, ujar Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Selatan, Andi Ardin Tjatjo.

Baca Juga :   Kembangkan Pertanian Kota, Mahasiswa Unsoed Gagas Konsep Nanofarm

Pengembangan budidaya jepang satoimo ini didukung dengan pembangunan jalan ruas di Palampang – Munte – Bontolempangan, di Kecamatan Sinjai Barat, Kab Sinjai yang mulai di manfaatkan oleh beberapa warga. Sejak adanya jalan tersebut, akses petani untuk membawa produknya ke pembeli mulai lancar dan tentunya berpengaruh kepada pendapatan para petani.

Menanggapi hal tersebut, Nurdin Abdullah, selaku Gubernur Sulawesi Selatan menyampaikan tahun 2021 ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Pertanian akan memberikan bantuan bibit talas jepang satoimo dan pupuk – pupuk untuk mendukung budidaya talas jepang satoimo di Kabupaten Sinjai.

“Setelah mandiri, baru kita lepas. Kebutuhan terhadap talas jepang ini dalam sebulannya mencapai sekitar 3 ribu ton, dimana 80 persen di suplai dari negara Cina. dan kita tentu saja berharap bisa menggantikan China”. kata Nurdin Abdullah.

 

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani