Peternak Itik Food Estate di Kalimantan Tengah Panen Hasil

  • Bagikan
Hasil panen dari Food Estate kalimantan Tengah/via Republika.co.id/IST

Mediatani – Saat ini pemerintah sedang giat-giatnya mengembangkan kawasan Food Estate di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Food Estate itu diintegrasikan dengan komoditas utama padi dan jagung dengan komoditas hortikultura, perkebunan, peternakan, sebagai pendukung di dalam satu kawasan.

Pada sektor peternakan, komoditas yang mulai dikembangkan adalah itik. Seperti halnya pengembangan komoditas lain, peternakan itik di kawasan Food Estate pun dikembangkan berbasis korporasi, sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi peternak.

“Nilai tambah bisa didapatkan dengan mengintegrasikan usaha mulai dari hulu sampai hilir, yaitu dari pembibitan, budidaya, pascapanen, dan pemasaran,” ungkap Nasrullah, dalam keterangan pers, Kamis (8/4), melansir, Senin (12/4/2021) dari situs republika.co.id.

Saat ini, kelompok penerima manfaat di kawasan Food Estate Kalteng telah menikmati hasil dari budidaya ternak itik.

Rata-rata produksi telurnya sudah mencapai 200 sampai 370 butir per hari dari 500 ekor induk dengan umur berkisar tujuh sampai delapan bulan.

Menurut Nasrullah, analisis usaha dari budidaya itik petelur memang menjanjikan. Setiap kelompok penerima manfaat dapat memperoleh keuntungan per bulan dari budidaya itik petelur sebesar Rp2.240.000 dari penjualan telur segar.

“Keuntungan yang diterima oleh kelompok bisa meningkat, jadi Rp8.800.000 jika telur segar diolah lebih lanjut menjadi telur asin. Kelompok yang dibimbing oleh penyuluh dan petugas dinas setempat, sudah memulai pembuatan telur asin untuk meningkatkan nilai jual telur itik,” jelas Nasrullah.

Baca Juga :   Peternak Karanganyar Kembangkan Rumput Pakchong untuk Hemat Biaya Pakan

Selain pengolahan, Nasrullah menuturkan kemajuan juga terlihat dalam hal pemasaran. Para peternak sudah bisa memanfaatkan penjualan online dan sistem COD (Cash On Delivery) langsung ke konsumen dengan difasilitasi oleh dinas setempat.

Kelompok secara mandiri bisa membeli pakan itik sendiri dari hasil penjualan telur dan telur asin setelah bantuan pakan habis diberikan.

“Semakin mandiri kelompok penerima manfaat dalam mengelola usaha ternak itik mulai dari hulu sampai hilir menjadi salah satu indikator keberhasilan peningkatan usaha peternakan,” tutur Nasrullah.

Nasrullah menjelaskan, penerima manfaat pengembangan itik di Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas dialokasikan dalam tiga klaster di 15 kelompok ternak, dengan jumlah total ternak yang telah dikelola 7.650 ekor itik yang terdiri dari 7.500 ekor itik betina dan 150 ekor itik jantan.

“Itik yang diterima setiap kelompok penerima manfaat sejumlah 510 ekor, yaitu 500 ekor betina dan 10 ekor jantan, dengan kriteria itik lokal dan/atau persilangan jenis petelur, umur siap produksi minimal umur empat bulan, telah divaksin avian influenza, dan memiliki sertifikat veteriner/Surat Keterangan Kesehatan Hewan,” sebutnya.

Kementan pun memberikan bantuan pakan setiap kelompok sebanyak 6.100 kilogram (kg) yang terdiri atas pakan itik grower (17-20 minggu) sebanyak 1.950 kg dan pakan itik layer (21-28 minggu) sebanyak 4.150 kg.

Baca Juga :   Perkuat Ketahanan Pangan, Kementan Harap Penyuluh dan Petani Berkolaborasi

Pakan yang diberikan berupa pakan komplit pabrikan untuk itik petelur sesuai SNI dan memiliki Nomor Pendaftaran Pakan (NPP).

Selain itu, Kementan memberikan paket bantuan bahan pembuatan kandang kepada setiap kelompok untuk dibuatkan satu unit kandang.

Pembuatan kandang harus memenuhi beberapa ketentuan, seperti cukup untuk menampung semua itik dewasa, berbentuk panggung, memiliki alas, dinding, dan atap, serta sirkulasi udara yang baik.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menerangkan, pada tahun 2020 pemerintah telah menetapkan wilayah Kalimantan Tengah.

Khususnya, di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas menjadi lumbung pangan atau Food Estate di luar Pulau Jawa dan sebagai salah satu program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024.

Pengembangan kawasan Food Estate sendiri dilaksanakan di lahan eks Proyek Lahan Gambut (PLG) dan sekitarnya.

“Pengembangan kawasan Food Estate berbasis korporasi petani di lahan rawa Kalimantan Tengah ini sejatinya memiliki keunggulan komparatif seperti sumber daya lahan yang cukup luas, sumber daya air dan iklim yang sesuai dan modal sosial budaya yang mendukung,” tandas Syahrul dalam siaran persnya, mengutip dari situs yang sama. (*)

  • Bagikan