Ilustrasi

Mediatani.co — Beban para petani seiring berjalan waktu terasa semakin bertambah. Problem ini terjadi lantaran selama ini pekerjaan untuk mencangkul sawah atau mengolah sawah tidak dibarengi oleh minat anak muda untuk menjadi buruh tani meskipun dengan upah yang cukup tinggi.

Menurut petani seperti disampaikan Dasum, Didi dan Caryo petani di Desa Pasindangan serta Aep dan Yahya petani di Desa Panyingkiran Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, buruh tani di wilayahnya kini didominasi oleh orang-orang tua yang usianya diatas 30 tahunan bahkan 35 tahun.

Secara umum, anak muda di bawah 30 tahun memilih pekerjaan lain seperti pekerja bangunan di kota-kota besar atau berdagang, bahkan lulusan SMA/MA atau SMK sudah tidak bersedia bekerja di sawah, mereka lebih memilih bekerja di toko atau pabrik yang tidak berhubungan dengan lumpur.

“Anak muda sekarang apalagi lulusan sekolah sudah gengsi bekerja mencangkul atau menyiangi padi, walaupun penghasilan dari mencangkul mungkin lebih besar,” ungkap Aep.

Sementara hingga saat ini saat hampir jarang anak-anak yang tidak sekolah, hampir semua anak yang ada di tiap desa pergi sekolah, jika tidak anak dan orang tua akan malu tidak menyekolahkan anaknya. Di samping itu semua orang tua dan anak semakin sadar kalau pendidikan itu penting bagi anak-anak.

“Risikonya sekarang buruh tani semakin jarang, upah mencangkul juga semakin mahal,” kata Aep.

Menurut Aep dan Dasum, upah mencangkul sendiri selama setengah hari kini mencapai Rp 75.000 hingga 80.000 ditambah makanan ringan dan kopi pada pagi hari. Untuk upah operator traktor setiap hari mencapai Rp 120.000, atau jika borongan upahnya sebesar Rp 3.000 per bata.

Baca Juga  Satgas Citarum Ujicoba Pemanfaatan Limbah Pabrik Tekstil Majalaya

Diduga karena banyak anak yang sekolah tinggi tersebut akibatnya sulit bagi petani untuk mencari buruh tani walaupun upahnya tinggi. Bahkan, kini ada kecenderungan anak muda sekarang pun enggan hidup dari bertani karena bertani dianggap tidak terlalu menguntungkan serta harus kotor kotoran.

Karena sulitnya mencari buruh tani, kini banyak lahan sawah yang terlambat di olah. Padahal sebagian sawah lainnya sudah menjelang ditanami.

Lahan sawah milik Yahya seluas 2 bau kini baru ditraktor, sedangkan pematangnya belum dicangkul dan dibersihkan karena masih menunggu pekerja yang masih mengerjakan sawah orang lain.

Sementara sawah usai ditraktor bagian pinggir dan pematang tetap harus dikerjakan secara manual oleh tenaga manusia, karena traktor hanya meratakan bagian tengah sawah.

Yahya sendiri khawatir jika sawahnya terlambat tanam dan masa tanam tidak bersamaan dengan petani lain atau tetangga sawahnya maka hama akan menyerang sawahnya.

“Sekarang untuk menggarap lahan bawang saja tenaga mencangkul dan menyianginya didatangkan dari Tegal dan Brebes yang dikerjakan secara borongan, karena warga di sini tidak ada yang bisa kerja sekeras warga Brebes atau Tegal,” ungkap Yahya.

Yang harus diwaspadai saat ini adalah buruh tani semakin hilang, minat bertani bagi anak muda juga juga semakin berkurang. Malah kini banyak petani yang lebih memilih menyewakan lahannya dibanding mengolah sendiri.