Relawan Wanua Panrita Bagikan Bantuan Pupuk untuk Kelompok Tani Bukit Cindakko

  • Bagikan
Serah Terima Bantuan Pupuk untuk Kelompok Tani Bukit Cindakko, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan
Serah Terima Bantuan Pupuk untuk Kelompok Tani Bukit Cindakko, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan

Mediatani – Relawan Wanua Panrita menyalurkan sebanyak 300 kg pupuk kopi jenis Petrobiofertil kepada kelompok tani Dusun Cindakko, Desa Bontosomba, Kec. Tompobulu, Kab. Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu, 21 Agustus 2021.

Pembagian pupuk ini adalah program lanjutan Wanua Panrita bernama, “Budidaya Kopi untuk Kemandirian Cindakko”, pasca tanam bibit kopi. Sebelumnya, program ini bernama, “Gerakan Penanaman 22.000 Pohon Kopi Cindakko”.

Sejak Januari 2020 lalu, relawan Wanua Panrita bersama kelompok tani kopi di Dusun Cindakko telah menanam sebanyak 22.000 ribu pohon kopi.

Hingga kini, anggota kelompok tani yang dibentuk oleh Wanua Panrita itu sudah terdiri dari 60 petani. Mereka nantinya akan menggunakan pupuk hayati yang dibagikan untuk luas lahan kopi sekitar 60 hektar dengan total wilayah sekitar 32,13 km2.

Ketua Umum Wanua Panrita, Hasdinar mengatakan pemberian pupuk ini merupakan program lanjutan Wanua Panrita yang dinamai, “Budidaya Kopi untuk Kemandirian Cindakko”, pasca tanam bibit kopi.

Proses pembudidayaan ini didanai oleh PT Pertamina MOR VII sebagai program CSR. Adapun 4 sektor lokasi budidaya kopi ini, yakni Calangga, Parang Luarra, Lehe, dan Pattoengeng.

Pada 1 Oktober 2019 lalu, Kopi Cindakko berhasil menjuarai Festival International Coffee Day yang diselenggarakan di Kota Makassar. Varian dan rasa yang unik menjadi ciri khas tersendiri bagi kopi Cindakko dan lidah kaum pecinta kopi.

Baca Juga :   Budidaya Gingseng Sebagai Tanaman Herbal

“Bantuan pupuk ini menjadi salah satu kegiatan dari pendampingan budidaya kopi di Dusun Cindakko. Kami berharap bantuan ini bisa bermanfaat buat petani kopi dan menambah semangat mereka merawat tanaman kopinya,” kata Hasdinar.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan tim pengabdian, diketahui bahwa pengelolaan kopi yang dilakukan di Dusun Cindakko ini masih belum maksimal.

Tanaman kopi yang dikelola oleh masyarakat Cindakko masih dilakukan secara konvensional. Hal ini disebabkan karena masyarakat belum dapat melakukan standarisasi atau grading kopi sehingga kualitas kopi yang dihasilkan kurang maksimal.

Pada bulan September 2018 lalu, PT Pertamina MOR VII bersama komunitas relawan pendidikan Sikola Inspirasi Alam dan masyarakat Dusun Cindakko serta kepala desanya melaksanakan Forum Group Discussion (FGD).

Dalam FGD itu, mereka berdiskusi tentang potensi desa yang dapat dikembangkan untuk membiayai pendidikan berkelanjutan di dusun tersebut.

Dari hasil diskusi antara 15 orang tokoh masyarakat yang hadir saat itu, kemudian bersepakat untuk mengembangkan salah satu potensi produk unggulan desa yaitu kopi.

Potensi budidaya kopi di Dusun Cindakko

Dusun Cindakko adalah sebuah dusun yang berada di pelosok pegunungan Kabupaten Maros yang berbatasan dengan empat kabupaten, yakni Gowa, Sinjai, dan Bone. Dusun tersebut tepatnya berada di Desa Bonto Somba, Kec Tompobulu, Kab Maros.

Baca Juga :   Antusias Guru SD di Kediri Membantu di Tengah Pandemi, Bagi-bagi Ikan Lele Hasil Budidaya

Dusun yang berada di wilayah ketinggian 700 hingga 1300 mdpl ini memiliki akses yang sangat terbatas, mulai dari listrik, sumber air bersih, sinyal telekomunikasi, dan lain-lain.

Meskipun hanya berjarak 35 km dari titik nol kota Makassar, namun masyarakat di Cindakko secara ekonomi dan pendidikan masih jauh tertinggal dengan daerah lainnya.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi terhadap tanaman kopi yang dilaksanakan pada tanggal 9-12 Juli 2021, secara umum, bibit kopi yang ditanam di 4 sektor atau wilayah di dusun tersebut, dapat tumbuh dengan baik dengan jumlah persentase 92% tumbuh dan 8 % diantaranya mati.

Penyebab kematian kebanyakan disebabkan oleh hama, seperti babi hutan, monyet, dan ulat.

Sementara tinggi rata-rata tanaman kopi bisa mencapai sekitar 50 cm. Tinggi ini termasuk pertumbuhan yang melambat atau kerdil mengingat umur tanaman sudah memasuki tahun kedua.

Selain itu, banyak lahan yang juga kurang diperhatikan oleh petani. Akibatnya,lahan tersebut hanya ditutupi oleh gulma. Beberapa daun tanaman kopi kering dan menguning akibat musim kemarau. Karena itu, hasil monitoring ini merekomendasikan pengadaan pemupukan.

Kegiatan ini dipercaya akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman kopi secara signifikan. Dimana kegiatan pemupukan ini dilakukan untuk menambahkan unsur hara yang mampu mempercepat pertumbuhan tanaman kopi. Tanaman kopi tidak akan mampu berproduksi optimal jika pasokan makanannya berkurang.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani