Rusak Akibat Erupsi Semeru, 25 Ha Lahan Pertanian Gagal Panen

  • Bagikan
Sumber foto: malang.suara.com

Mediatani РErupsi Gunung Semeru yang terjadi baru-baru ini telah berdampak pada mereka yang tinggal di sekitar lereng gunung. Selain berdampak pada kerusakan tempat tinggal, erupsi kali ini juga membuat kerusakan pada lahan pertanian warga.

Baca Juga :   Kabupaten Malang Target Produksi Susu Sapi Perah 25 Liter per Hari

Diketahui sekiranya terdapat 25 hektar lahan yang mengalami kerusakan akibat dari guyuran abu vulkani Gunung Semeru sehingga mengalami gagal panen.

Dilansir dari laman viva.com, tanaman yang mengalami kerusakan diantaranya adalah cabai, gubis atau kol, padi, tomat dan tanaman lainnya.

Ironisnya, beberapa tanaman berada pada kondisi siap panen seperti cabai, biasanya dalam satu hektare lahan bisa memanen sepuluh ton cabai. Harga cabai saat ini per kilogram mencapai Rp 30 ribu.

Ketua RW Sumbersari Umbulan mengungkapkan bahwa sebagian besar komoditas cabai yang telah siap panen ini harusnya mahal akan tetapi semua telah hangus akibat erupsi gunung semeru.

“Yang ditanami di sekitar Sungai Curah Kobokan hangus semua akibat lahar dingin itu,” ungkap Ketua RW Sumbersari Umbulan, Desa Supiturang, Lumajang, pada Rabu (8/12/21).

Salah satu daerah yang terkonfirmasi berdampak cukup parah akibat erupsi Gunung Semeru ini adalah daerah Sumbersari Umbulan, Desa Supiturang, Pronojiwo.

Daerah pertanian para warga sebenarnya hanya dilalui oleh sungai kecil yang berasal dari wilayah pegunungan. Akan tetapi, ketika erupsi terjadi, aliran lahar dingin kemudian meluas hingga ke desa mereka.

Tahun 2020 kemarin, ketika gunung semeru mengalami erupsi, aliran lahar terbagi menjadi dua. Aliran pertama, di sungai kecil yang mengalir di lahan pertanian warga. Aliran kedua atau yang utama di dekat Curah Kobokan

Poniri, salah satu petani setempat, mengungkapkan bahwa lahan pertanian yang mengalami kerusakan milik para petani telah bersertifikat. Saat ini para petani mulai resah dengan lahan miliknya dan ragu untuk mulai menanam kembali.

Pasalnya, erupsi Gunung Semeru yang terjadi sejak tahun 2020 hingga tahun 2021 warga otomatis akan mengalami gagal panen sebab tanaman mereka kemungkinan besar akan rusak karena guyuran abu vulkanik.

“Bukan milik Perhutani sudah tersertifikasi semua milik petani. Kalau saya lihat sudah tidak bisa ditanami lagi takut ada lahar lagi Semeru saja sudah gundul. Saya tidak mau kalau menanam terus hangus lagi,” jelas Poniri.

Menanggapi hal ini, Bupati Lumajang Thoriqul Haq menyampaikan bahwa saat ini yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah setempat adalah terlebih dahulu melakukan pendataan.

Mereka tengah menginventarisir terkait total dari kerugian para warga akibat erupsi gunung semeru ini. Kemudian setelah itu akan dilakukan musyawarah dengan sejumlah pihak termasuk juga para warga.

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus didata terlebih dahulu seperti area pertanian atau persawahan yang masih bisa ditanam kembali atau sudah tidak layak untuk ditanami harus didata terlebih dahulu terkait kerugiannya.

  • Bagikan