Saatnya Petani Jadi Eksportir, Ekspor Tanaman Kini Tidak Harus Berkapasitas Besar

  • Bagikan
Tanaman hias yang siap dikirim

Mediatani – Menjadi eksportir kini bukan lagi menjadi hal yang sulit untuk diwujudkan, termasuk bagi petani di Indonesia. Produk yang dihasilkan petani sudah bisa diekspor dalam jumlah satuan atau tanpa harus menunggu berton-ton dan menggunakan kendaraan pengangkut seperti kontainer.

Wakil Ketua Perhimpunan Horti Ekspor Milenial Indonesia (Perhemi), Liling Watiyasita, menjelaskan petani mesti memanfaatkan peluang itu sebaik mungkin untuk mendapat untung yang berkali lipat.

Dengan adanya peluang ekspor dengan kapasitas kecil ini, petani juga tidak lagi harus memproduksi banyak atau harus memiliki lahan yang luasnya berhektar-hektar untuk memenuhi kuota dari calon pembeli.

“Itu mindset yang harus diubah, bahwa ekspor tidak harus berkapasitas besar dan berkesinambungan” kata perempuan yang akrab disapa Ita ini, dilansir dari Kumparan, Selasa (18/1).

Selama ini, tambah Ita, pemenuhan kuota berkapasitas besar menjadi momok bagi banyak petani untuk mengekspor produk tanamannya. Sebab, masih sedikit petani yang memiliki lahan cukup luas untuk bisa memenuhi kapasitas produksi yang besar tersebut.

Padahal, saat ini kapasitas produk bukan faktor utama untuk bisa melakukan ekspor, melainkan apakah tanaman tersebut bebas dari nematode dan bakterisida, serta sesuai dengan aturan yang berlaku di negara tujuan.

Hal yang senada juga diutarakan Ketua Umum Perhemi, Triadi Nugroho. Produk yang dihasilakan petani sudah bisa langsung dijual secara langsung ke end user atau pengguna.

Karena itu, petani tidak lagi harus melalui perusahaan untuk menjual produksnya, Meski demikan, produk itu harus sesuai dengan syarat kapasitas minimal dan harus berkelanjutan.

Seperti restoran-restoran atau kafe yang ada di Amerika dan Eropa. Menurut Triadi, mereka kini sudah berani mengimpor kebutuhan bahan-bahan dalam jumlah kecil untuk mendapatkan kualitas terbaik.

Misalnya, rempah-rempah seperti pala atau cengkeh yang mereka impor hanya sebanyak 20 kg sampai 30 kg, karena cukup untuk kebutuhan mereka selama dua sampai tiga bulan.

Atau bahkan kopi dari Indonesia yang diimpor hanya sebanyak beberapa kilogram. Dengan begitu, kopi seperti dari Flores, Bali, atau Gayo yang didapatkan bisa memiliki kualitas terbaik untuk menu-menu otentik mereka.

“Mereka sudah berani mengimpor dalam jumlah kecil, sehingga peluangnya terbuka besar. Apalagi petani bisa menjual produk mereka langsung ke pengguna,” ungkap Triadi Nugroho.

Sebab itu, saat ini Perhemi tengah fokus untuk mendorong dan mendampingi petani untuk bisa menjadi eksportir agar perekonomian mereka bisa mengalami peningkatan.

Salah satu wujud dukungan yang diberikan yakni dengan membantu proses pengurusan berbagai izin dan syarat ekspor ke berbagai negara, sehingga petani cukup fokus merawat tanaman sebaik-baiknya hingga menghasilkan produk yang berkualitas.

Kini Perhemi juga telah membuat marketplace khusus yang dapat memudahkan petani menjual produk-produknya, mulai dari tanaman hias, buah, bahkan sampai rempah. Melalui marketplace itu, petani bisa berhubungan langsung dengan pelanggan-pelanggan untuk menjual produk-produknya ke luar negeri.

“Di pasar ekspor, harganya jauh lebih tinggi, minimal 3 sampai 10 kali lipat sehingga sangat menguntungkan bagi para petani hortikultura,” ujarnya.

Setelah beroperasi selama tujuh bulan pada tahun 2021, saat ini Perhemi telah menggandeng 25 petani hortikultura dalam skala kecil dan menengah, meskipun baru 13 petani yang sudah bisa ekspor.

Mereka sudah lebih dari 80 kali mengirim tanamannya ke 14 negara tujuan ekspor mulai dari Amerika, Eropa, Australia, hingga Timur Tengah dengan nilai yang mencapai Rp 590 juta. Sementara untuk tahun ini, Perhemi menargetkan nilai ekspor sebesar Rp 3 miliar.

“Jadi kami ajak petani untuk jadi pengusaha, jadi eksportir, jangan cuman bertani saja,” pungkas Triadi Nugroho.

  • Bagikan