Saluran Irigasi Direhabilitasi, Mentan SYL Harapkan Produktivitas di Sulsel Meningkat

  • Bagikan
Sumber foto: tribunnews.com

Mediatani – Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) melakukan kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) yang dilakukan di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kegiatan rehabilitasi irigasi tersebut tenyata berdampak positif terutama terhadap sektor pertanian yang ada di Wajo.

Kegiatan padat karya dinilai cukup efisien dalam meningkatkan produktivitas pertanian khususnya di Desa Leppangeng, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo. Tercatat selama ini produktivitas hasil pertanian yang sebelumnya hanya sebesar 5,3 ton per hektare (Ha) kini meningkat menjadi sebesar 6,7 ton per hektar (Ha). Angka ini bertambah disebabkan oleh saluran irigasi yang telah direhabilitasi.

Ditempat terpisah, Syahrul Yasin Limpo selaku Menteri Pertanian Republik Indonesia, mengharapkan adanya peningkatan pendapatan dari para petani yang ada di Kabupaten Wajo setelah dilakukan kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT) ini.

“Kita harapkan adanya peningkatan produktivitas pada sektor pertanian sehingga pendapatan para petani pun meningkat. Oleh sebab itu, kita ingin agar saluran irigasi yang sudah direhabilitasi ini segera mungkin dapat dimanfaatkan dan dijaga dengan baik,” tutur Mentan SYL.

Sementara itu, Sarwo Edhy selaku Dirjen Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi tersier tidak hanya melakukan perbaikan terhadap saluran irigasi tersier yang sudah rusak. Tetapi irigasi yang telah direhabilitasi diharapkan bisa dimaksimalkan fungsinya terutama sebagai water management.

“Saluran irigasi yang telah direhabilitasi akan kita maksimalkan dan juga ditingkatkan fungsinya. Sehingga jumlah lahan yang mampu teraliri air bisa meningkat. Tidak hanya itu, saluran irigasi yang fungsinya bisa dimaksimalkan agar luas tanam juga bertambah,” Lanjut Sarwo Edhy.

“Dengan RJIT ini, kita harapkan pasokan air yang ada di saluran irigasi tersebut mampu menjangkau lebih banyak petakan-petakan sawah,” katanya.

Di Kabupaten Wajo itu sendiri, kegiatan yang berupa rehabilitasi jaringan ini dilakukan secara swakelola oleh Kelompok Tani Padi Mekar XIX di Daerah Irigasi Palaguna. Saluran irigasi ini memiliki panjang saluran irigasi mencapai sekitar 107 meter. Kondisi pada saluran irigasi sebelum adanya perbaikan hanya berupa saluran yang banyak mengandung tanah, sehingga pendistribusian air menuju lahan sawah di bagian hilir agak kurang lancar.

“Melalui kegiatan rehabilitasi ini, saluran irigasi tersier saat ini menjadi saluran permanen menggunakan konstruksi pasangan batu dengan dua sisi saluran. JIka sebelumnya luas layanan irigasi 50 ha, namun setelah rehabilitasi jaringan irigasi tersier meningkat menjadi seluas 55 ha,” kata Sarwo Edhy.

Pada lokasi tersebut yang sebelumnya intensitas pertanaman (IP) 200 atau dua kali tanam dalam setahun, diharapkan dapat meningkatkan IP menjadi 300.

“Namun, paling tidak IP 200 dapat dipertahankan,” katanya.

Daerah yang mendapat kesempatan untuk direhabilitasi irigasinya berdasarkan dan harus sesuai kewenangan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten/kota, dan irigasi pada tingkat desa yang memerlukan rehabilitasi atau peningkatan. Perlu diketahui tentang beberapa hal yang harus ditinjau dan diperhatikan untuk memenuhi kriteria lokasi adalah diutamakan pada jaringan irigasi yang tersiernya mengalami kerusakan dan/atau memerlukan peningkatan, jaringan irigasi primer dan sekunder dalam kondisi baik dengan tersedianya sumber air dan juga dibuktikan dengan Surat Keterangan dari Dinas/Balai lingkup pengairan, tersedianya sumber air apabila berada pada jaringan irigasi desa, dan lokasi dilengkapi dengan koordinat (LU/LS – BT/BB).

Program-program seperti ini diharapkan ke depannya bisa masuk ke Desa-desa yang ada di Indonesia yang memang betul-betul membutuhkan agar masyarakat desa bisa lebih sejahtera.

  • Bagikan