Sampah Alat Tangkap Ikan Cemari Lautan, Susi: Pelaku Harus Diberi Sanksi

  • Bagikan
Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti

Mediatani – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, kesal dengan kelakuan para pengusaha kapal dan nelayan yang tidak mengelola dengan baik alat tangkap ikan mereka.

Pasalnya, ia menemukan berbagai jenis alat tangkap ikan yang terbuang begitu saja di laut bebas. Sampah alat tangkap itu ditemukannya saat berkunjung di salah satu Pulau yang ada di Natuna.

Lewat sebuah video yang ia unggah di media sosialnya, 24 September 2021, Susi mengaku sangat menyayangkan adanya sampah alat tangkap ikan yang membuat keindahan laut itu menjadi rusak.

“Coba keindahan seperti ini, laut bersih, tenang, namun ada tali temali seperti ini. Jagalah laut. Kalian juga cari makan di laut. Jangan sampai (laut) hancur karena sampah yang kita berikan,” ujar Susi.

Selain dapat membuat keindahan laut rusak, sampah yang berupa alat-alat tangkap ikan ini juga akan membuat kehidupan satwa dan biota laut terganggu.

Mantan Menteri dengan gaya nyentrik itu memperkirakan adanya kura-kura yang kemungkinan terjerat sampah alat tangkap yang mengambang di laut bebas.

Baca Juga :   Tingkatkan Pendapatan di Sektor Kelautan dan Perikanan, KKP Buat 3 Terobosan

Kondisi ini tidak hanya terjadi di perairan Natuna. Ia juga mengaku pernah menemukan sampah serupa di laut-laut yang terdapat di Jawa dan berbagai daerah lainnya di Indonesia.

Menurut data, kata Susi, alat tangkap yang saat ini tidak dikelola mencapai sebanyak 50-70 persendan hanya dibiarkan terbuang menjadi sampah.

Sambil duduk di karang memandang laut yang dipenuhi sampah alat tangkap ikan, Susi meminta pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan.

Ia menyarankan kepada pemerintah agar pengusaha perikanan tangkap maupun nelayan yang tidak mengelola dengan baik alat tangkap ikan bekas itu diberikan sanksi.

“Saya imbau dan mestinya pemerintah memberikan hukuman kepada pengusaha-pengusaha kapal ikan, nelayan-nelayan, yang tidak mengelola alat tangkap bekasnya karena jadi seperti ini,” ujarnya.

Menurut beberapa sumber, Scottish Marine Animal Strandings Scheme (Smass) pernah melaporan bahwa pada 2019 setidaknya terdapat 12 kasus kematian paus yang disebabkan oleh sampah alat tangkap ikan. Salah satunya ditemukan ditemukan mati di Orkney akibat terbelit jaring ikan.

Baca Juga :   Program LIN Maluku Akan Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono kerap mengimbau kepada nelayan maupun pengusaha perikanan untuk menggunakan alat tangkap ikan ramah lingkungan.

Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan itu diyakini dapat memberi keuntungan dari sisi ekonomi maupun juga dari sisi kelestarian lingkungan.

Karena itu, Menteri Trenggono mengapresiasi Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) di Semarang yang telah menggunakan alat tangkap ikan ramah lingkungan.

“Ini mendukung tujuan kita semua untuk mewujudkan keberlanjutan ekosistem di laut,” ujar Trenggono, 30 April 2021 lalu.

Adapun inovasi alat tangkap ramah lingkungan yang diciptakan oleh BBPI Semarang itu diberi nama rumah ikan.

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki oleh rumah ikan ini, diantaranya ukurannya yang besar sehingga ikan-ikan yang tertangkap berupa ikan-ikan berukuran besar dan lebih ramah lingkungan. Trenggono telah meminta pihaknya untuk memasifkan program pembuatan rumah ikan ini.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani