Sapi Bali, Sapi Lokal Unik yang Mendunia

  • Bagikan
Ilustrasi: Sapi Bali
Ilustrasi: Sapi Bali

Mediatani – Sapi juga merupakan hewan ternak yang membuat sektor peternakan di Indonesia menjadi cukup berkembang. Salah satu bangsa sapi asli dan murni dari Indonesia adalah Sapi Bali.

Jika ditinjau dari sejarahnya, sapi bali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Pulau Bali. Dari dulu, masyarakat peternakan di Pulau Bali telah memelihara Sapi Bali secara turun menurun.

Mereka memelihara Sapi Bali untuk membajak sawah dan tegalan. Selain itu, kotoran dari sapi tersebut dijadikan pupuk kandang untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.

Para pakar menyebutkan Sapi Bali adalah jenis ternak ruminansia yang memiliki keunikan khusus. Bukan hanya di Asia dan Indonesia, Dunia juga mengakui keunikan dari Sapi Bali ini. Dilansir dari nusabali.com, berikut penjelasan tentang keunikan Sapi Bali.  

Hewan ternak lokal dengan daya adaptasi tinggi

Kelebihan yang dimiliki Sapi Bali yaitu bisa tumbuh dan bertahan hidup dengan kondisi alam dan pakan seadanya. Hewan ternak ini juga bisa hidup dan berkembang biak di tanah-tanah kritis, tandus, gersang, dan di tempat yang pakan hijauannya sangat terbatas.

Selain itu, Sapi Bali juga dapat beradaptasi di berbagai lingkungan alam tropis. Sehingga, para pakar peternakan dunia memberi gelar sebagai hewan ternak perintis.

Daya serap pakan yang tinggi  

Sapi Bali sangat disukai oleh para peternak sebab memiliki kemampuan daya serap pakan yang tinggi. Hewan ternak ini tidak perlu selalu merumput, karena bisa mencari makan dengan menyampah.

Baca Juga :   Cara Unik Peringati Upacara HUT RI ke-76, Warga Magelang Bawa Sapi dan Kambing

Keunikan menyampah Sapi Bali ini sering terlihat di beberapa daerah, salah satunya yaitu di tempat pembuangan akhir sampah di Suwung, Denpasar Selatan.

Banyak Sapi Bali diternakkan disini dengan cara digembalakan di antara sampah dan menyantap limbah, mulai dari sisa-sisa dapur rumah tangga hingga kertas-kertas yang terbuang.

Tak hanya itu, peternak di desa-desa dengan kemampuan pengelolaan yang masih tradisional masih mengandalkan ketersediaan pakan hijauan. Oleh sebab itu, usaha pengembangan Sapi Bali harus mengarah ke petani peternak.

Karena itu, upaya para akademisi seperti penelitian perlu dilakukan oleh guru besar peternakan Universitas Udayana. Salah satunya dengan mengusulkan strategi pengembangan sapi unik dunia ini melalui ketersediaan pakan hijauan unggul di desa-desa merata di seluruh Bali, dan mudah diperoleh peternak.

Selain itu, perlu ada perhatian khusus pemerintah agar peternak dapat memperoleh bibit pakan hijauan unggul secara cuma-cuma. Hal ini bisa dilakukan melalui pembangunan demonstrasi plot (demplot) pakan hijauan dan rutin untuk para petani peternak berdiskusi antara penyuluh dan pakar (akademisi).

Keunikan warna Sapi Bali jantan dan betina

Sapi betina memiliki ciri yaitu kaki yang seperti mengenakan kaus putih dari lutut ke bawah. Terdapat warna putih melebar pada kedua pantatnya, bak cermin yang membuatnya tampil eksotik. Ciri itu juga membuat pemerhati bilang bahwa Sapi Bali itu seksi.

Baca Juga :   Jelang Puasa, Daya Beli Daging Sapi di Pasar Baru Bekasi Menurun

Untuk sapi jantan, keunikan yang dimiliki tampak saat masih muda tubuhnya berwarna merah bata dan setelah dewasa atau setelah masak kelamin, warnanya berubah menjadi hitam. Perlu diketahui bahwa perubahan warna ini hanya terjadi pada Sapi Bali.

Daging Sapi Bali kurang diminati restoran besar dan hotel 

Meski memiliki berbagai keunggulan, sapi ini juga punya kekurangan. Sapi Bali susah menembus restoran besar dan hotel karena kualitas dagingnya tidak baik untuk dibuat bistik. Penikmat bistik biasanya hanya doyan dengan sapi wagyu, penghasil daging nomor satu dan mahal khas Jepang.

Wisatawan tidak menyukai bistik Sapi Bali karena marbling atau persebaran lemak di antara jaringan dagingnya rendah. Karena marblingnya rendah, daging sapi bali tidak gurih dan kenyal.

Penyakit Jembrana hanya menyerang Sapi Bali

Kekurangan lain yang dimiliki sapi bali yaitu dapat terserang penyakit jembrana yang pertama kali mewabah di Jembrana 1964-1967. Penyakit yang belum ditemukan obatnya ini merupakan pembantai nomor satu Sapi Bali. Penyakit ini biasanya diatasi dengan melakukan pencegahan pada caplak agar virusnya dapat dimatikan.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani