Serba Salah, Petani Jagung Gorontalo Bingung Atasi Hama Satwa dilindungi

Ilustrasi: ladang jagung di Gorontalo

Mediatani – Salah satu penyebab gagal panen pada tanaman pertanian maupun perkebunan adalah akibat serangan hama. Tidak hanya menghambat petumbuhan, hama bahkan dapat mematikan tanaman tersebut. Berbagai macam cara pun dilakukan para petani untuk mengendalikan hama tersebut.

Namun, tentu bukan perkara yang mudah jika hama tersebut merupakan hewan atau satwa yang dilindungi. Di berbagai daerah di Indonesia konflik petani dengan satwa yang dilindungi masih menjadi persoalan yang serius.

Seperti yang dialami oleh petani jagung Gorontalo. Satwa dilindungi seperti babi hutan dan monyet sudah sangat sering merusak tanaman jagung milik mereka. Selain babi hutan dan monyet, banyak juga burung yang tergolong dilindungi juga kerap menyerang tanaman mereka kala mendekati musim panen.

Tak jarang, mereka terpaksa menangkap bahkan membunuh satwa dilindungi tersebut.. Setiap menjelang musim panen, tanaman mereka harus dijaga ekstra, sebab kalau sedikit lengah, pasti tanaman mereka banyak yang dirusak, meskipun area kebun mereka bukan di kawasan hutan.

Baca Juga  Jaga Kebutuhan Pangan di Tengah Pandemi, Mentan Dorong Urban Farming di Jakarta

Para petani jagung Gorontalo yang mengetahui hama itu adalah satwa dilindungi menjadi bingung harus mengatasi masalah tersebut seperti apa, karena jika dibiarkan akan terus merusak tanaman dan membuat petani merugi.

“Kalau hanya diusir, mereka pasti kembali merusak tanaman kami,” kata Runo Demolawa salah satu petani jagung Gorontalo dilansir dari Liputan6. com, (23/10/2020).

Menurutnya, saat ini mereka takut membunuh atau menangkap hewan itu, sebab satwa dilindungi itu saat ini sudah dalam pengawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Gorontalo. Risiko terjerat hukum yang menjadi pertimbangan bagi mereka para petani.

“Kalau hanya dibiarkan, pasti hasil panen menurun dan modal tidak kembali,” ujarnya.

Runo juga mengatakan, hewan lain yang menyerang tanaman mereka juga sebagian besar burung yang dilindungi, terutama burung nuri yang dating berkelompok menyerang buah jagung yang masih muda.

“Satu kali saja mereka hinggap, puluhan pohon jagung yang habis dimakan,” katanya.

Runo berharap BKSDA Gorontalo tidak hanya diam. Ia meminta solusi agar hasil bertaninya tidak dirusak lagi oleh hewan, namun tetap memperhatikan keselamatan satwa dilindungi tersebut.

Baca Juga  Uji Coba Pola Korporasi Tanaman Pangan Berjalan Efektif

Sementara Kepala BKSDA Gorontalo, Samsudin Hadju mengatakan, memang ini sudah menjadi konflik yang berkepanjangan antara satwa dan masyarakat. Memang itu bukan kawasan hutan, tetapi kami dari BKSDA sendiri meminta masyarakat harus membuat Buffer zone.

Buffer zone sendiri alah batas wilayah yang terbentang di antara kawasan hutan dan kawasan pertanian. Di batas tersebut petani harus menanam tanaman yang menjadi makanan satwa tersebut.

“Jadi kalau sudah ada batas zona itu kemudian di situ ditanami tumbuhan yang menjadi makanan mereka, maka saya yakin mereka tidak masuk ke kebun,” kata Samsudin.

Selain itu, kata Samsudin, jangan ada masyarakat yang membuka lahan di dekat kawasan hutan. Sebab kawasan itu sangat rentan dengan serangan satwa yang dilindungi.

“Minimal kita buat kebun di radius yang cukup jauh dari kawasan hutan,” dia menandaskan.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Artikel Terbaru