Simak Cara Seleksi dan Sebar Mulsa yang Tepat bagi Tanaman

  • Bagikan

Mediatani – Dalam merawat tanaman, faktor pupuk merupakan salah satu komponen terpenting yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, ya guys!

Namun sayangnya, pupuk yang dibutuhkan dalam rangka pemupukan tanaman memiliki harga cukup mahal, yang lama-kelamaan bisa membuat kantong jebol.

Nah, apabila kamu memelihara atau berternak ayam di rumah, kamu bisa tuh memanfaatkan kotoran ayam sebagai pupuk tanaman sehingga kamu tak perlu lagi sering-sering membeli pupuk.

“Selain kotoran sapi, kotoran ayam juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk,” jelas Neng Risris Sudolar, dokter hewan sekaligus peneliti pakan dan nutrisi ternak, dalam webminar “Mendulang Rupiah Dari Kohe & Jamur Jakaba” melansir dari Kompas.com, Jumat (4/6/2021).

Risris menuturkan bahwa kotoran ayam memiliki unsur hara yang tinggi. Kadar nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) dari kotoran ayam sangatlah tinggi.

Jika dibandingkan dengan kotoran-kotoran hewan lainnya, kotoran ayam ternyata mempunyai kandungan hara yang tertinggi. Hal itu dikarenakan bagian cair dan bagian padat dari kotoran ayam tercampur menjadi satu.

Untuk menjadikan kotoran ayam sebagai pupuk, relaisasinya tidaklah sulit lho, terlebih untuk ayam yang ada di peternakan.

Risris menjelaskan, limbah ayam atau kotoran ayam itu di peternakan umumnya sudah tercampur dengan sekam sehingga dapat langsung diaplikasikan sebagai pupuk tanaman.

“Jika kotoran ayam itu berasal dari pertenakan yang alasnya sudah ada sekam-sekamnya, sudah bercampur dengan sekam-sekam, langsung digunakan saja,” jelasnya.

Namun, untuk kotoran ayam utuh yang tak tercampur sekam, kamu perlu mengolahnya terlebih dahulu sebelum dijadikan sebagai pupuk.

Kotoran ayam yang masih utuh perlu kamu kumpulkan terlebih dahulu sampai jumlahnya cukup banyak.

Usai terkumpul, kotoran ayam juga perlu diangin-anginkan sampai membuatnya agak mengering sehingga mengurangi kandungan nitrogen yang tinggi.

“Mengeringkan kotoran ayam juga bermanfaat untuk dekomposisi (proses perubahan secara fisik maupun secara kimiawi). Setelah itu, kotoran ayam bisa langsung digunakan,” ujar Risris.

Baca Juga :   Ini Penyebab Daun Keriting Pada Tanaman Cabe

Dalam kegiatan berkebun, di samping pupuk, mulsa pula berperan penting dalam pertumbuhan dan kesuburan tanaman.

Mulsa adalah material yang dibutuhkan tanaman dalam proses pertumbuhan. Material ini berfungsi melindungi akar pada hari-hari panas, mencegah uap air menguap, dan menghentikan pertumbuhan gulma untuk berakar.

Melansir dari laman Better Homes and Gardens, Kamis (27/5/2021), ada dua jenis mulsa dasar, yaitu organik dan anorganik. Mulsa organik terbuat dari kayu, kulit kayu, kompos, potongan rumput, dan daun.

Bahan mulsa ini akan membusuk dan memperbaiki tanah. Mulsa organik mampu bertahan selama beberapa tahun, kemudian Anda harus menambahkan lebih banyak mulsa kembali ke tanaman.

Selain itu, mulsa organik mudah menyebar dan tidak membahayakan jika tercampur ke dalam tanah.

Sedangkan, mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar atau tidak dapat terurai seperti mulsa plastik dan batu.

Mulsa anorganik minim perawatan, tetapi tidak mudah ditanam. Karena itu, mulsa terbaik untuk tanaman adalah mulsa organik.

Cara memilih mulsa organik yang tepat

Setiap jenis mulsa organik memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya, bark nuggets banyak tersedia, tetapi dapat mengapung saat hujan deras.

Kulit kakao memiliki aroma yang khas, tetapi harganya relatif mahal dan beracun bagi anjing. Kulit kayu atau kayu yang diparut adalah mulsa lanskap yang paling umum.

Jenis mulsa ini murah dan mudah diaplikasikan, tetapi tidak menambahkan banyak nutrisi ke tanah seperti beberapa mulsa lainnya.

Tak hanya itu, limbah dari halaman juga dapat menjadi mulsa seperti potongan rumput, daun, dan kompos. Kompos menambahkan banyak nutrisi, tetapi tidak bagus mencegah gulma.

Potongan rumput efektif sebagai mulsa, tetapi jangan menumpuknya terlalu dalam karena bisa menyebabkan basah dan kotor.

Baca Juga :   Dampak Negatif Penggunaan Pestisida Secara Berlebihan

Pastikan tidak pernah menggunakan potongan tanaman sebagai mulsa apabila rumput dirawat dengan herbisida.

Daun adalah mulsa yang sangat baik jika dicabik terlebih dahulu. Jarum pinus tahan lama dan merupakan mulsa yang sangat baik di sekitar tanaman yang menyukai asam seperti azalea karena jarum pinus mengasamkan tanah.

Cara menyebarkan mulsa

Meski proses meletakkan mulsa tampak sederhana, yakni tinggal menaruhnya di atas tanah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Berikut ini cara tepat menyebarkan mulsa pada tanaman;

Beli mulsa sesuai kebutuhan

Hitung berapa banyak mulsa yang harus dibeli. Tidak ada yang lebih membuat frustrasi daripada membeli mulsa yang tidak cukup. Untuk itu, beli mulsa secukupnya atau sesuai dengan kebutuhan.

Tidak terlalu tebal dan tipis

Sebarkan mulsa dengan tebal sekitar lima hingga 10 sentimeter. Hindari menyebarkan terlalu tebal karena apa pun yang lebih tebal bisa menjadi sarang hama.

Begitu juga hindari menaburkan mulsa secara tipis. Ingat, jangan menyebarkan secara boros dan tidak perlu.

Tidak ada waktu yang tepat

Tanaman akan menerima mulsa kapan saja sepanjang tahun. Jika kamu menggunakan mulsa pada akhir musim gugur atau awal musim dingin dan tinggal di iklim dingin, tunggu sampai tanah membeku sebelum menyebarkan mulsa.

Hal ini berarti bahwa tidak ada waktu yang tepat untuk mengaplikasikan mulsa ke tanaman. Kamu dapat mengaplikasikan mulsa kapan pun dibutuhkan.

Tidak menumpuk mulsa

Mulsa di sekitar pohon dan semak adalah cara bagus mencegah cedera akibat mesin pemotong rumput dan pemangkas.

Untuk tanaman dalam pot, sebarkan mulsa setebal lima sampai 10 sentimeter. Jangan menumpuk mulsa di batang tanaman seperti gunung berapi karena dapat memicu timbulnya hama dan penyakit. (*)

  • Bagikan