Tahu Gak Sih? Udang Bisa Kena Penyakit Dekil Lho!

  • Bagikan
Ilustrasi: fouling disease

Mediatani – Tahu gak sih kalau ternyata udang bisa terkena penyakit dekil? Penyakit dekil pada udang dikenal juga dengan sebutan Fouling Disease. Penyakit ini disebabkan oleh adanya mikroorganisme yang menempel pada organ insang atau seluruh bagian tubuh udang. Mikroorganisme tersebut kemudian akan mengifeksi si udang.

Definisi Fouling Disease (Penyakit Dekil Pada Udang)

Penyakit dekil merupakan penyakit yang membuat tampilan udang menjadi tidak menarik karena berlumut dan insang berwarna hitam. Fouling disease sangat berpotensi membahayakan udang yang terinfeksi. Penyakit ini dapat menyebabkan udang terutama larva akan sulit bergerak, makan, berenang, serta dapat mengganggu proses moulting.

Penyakit udang dekil merupakan jenis penyakit yang dapat menyerang berbagai jenis udang penaeid. Akan tetapi, setiap daerah memiliki varian tertentu sehingga membutuhkan perhatian lebih pada proses perkarantinaan.  Penyakit ini juga dapat ditularkan secara horizontal (langsung)

Penyebab Infeksi

Penyakit dekil pada udang dapat terjadi akibat adanya peningkatan populasi berupa peningkatan bahan organik dan detritus (fragmen tubuh dan kotoran organisme) yang melayang di dalam air.

Baca Juga :   Hanya Jangkau Pasar Lokal, Budidaya Ikan Nila Black Prima di Tasikmalaya Untung Rp 10 Juta

Mikroorganisme yang menginfeksi udang termasuk dalam organisme epibiont atau epikomensal golongan alga dan protozoa, contohnya seperti alga hijau biru yang memiliki filament dan protozoa Zoothamnium penaei, Epistylis sp., Vorticella sp, dan  Acineta sp. Selain itu penyakit dekil pada udang juga dapat disebabkan oleh bakteri berfilamen (Leucothrix mucor) dan bakteri batang.

Gejala Yang Timbul

Ketika udang terinfeksi oleh mikroorganisme penyebab penyakit dekil, maka kita perlu mewaspadai gejala-gejala yang timbul, seperti:

  • Udang yang terserang penyakit ini akan terlihat diselimuti oleh mikroorganisme yang berwarna hijau lumut atau keputihan.
  • Udang akan berenang ke permukaan air atau tepian dan menunjukkan gejala latergi dan kehilangan opasitas.
  • Udang yang terinfeksi, tubuhnya akan terlihat berwarna buram dan tampak kotor karena terdapat nekrosa pada jaringan tubuh udang.
  • Udang yang terinfeksi akan menimbulkan warna kemerahan atau kecoklatan pada insang udang.
  • Udang yang terinfeksi akan tampak lemah, kesulitan bernafas, dan nafsu makannya menurun. Bahkan dapat berujung pada kematian.
  • Proses pergantian cangkang (moulting) pada udang akan terhambat dan timbul peradangan pada kulit.
  • Pada udang dewasa mikroorganisme umumnya menginfeksi insang udang. Namun pada larva, mikroorganisme tersebut akan menginfeksi di area kaki, mata, serta bagian mulut udang, sehingga akan mengganggu pergerakan dan proses makan pada udang.
  • Pada gejala dengan tingkat yang tinggi, udang akan mengalami mortalitas atau kematian yang diikuti stress, perlambatan pertumbuhan, perubahan warana insang dan appendage
Baca Juga :   NTB Bangun Industrialisasi Produk Laut Berbasis Lingkungan

Cara Pengendalian Infeksi

Dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit, kita dapat melakukan pengelolaan media budidaya dengan baik, seperti:

  • Memberikan disinfeksi pada kolam pemeliharaan dan sumber air tempat udang hidup.
  • Menambahkan vitamin C pada pemberian pakan selama pemeliharaan udang.
  • Memperbaiki kualitas air tempat udang hidup dengan mengurangi jumlah bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  • Jika tingkat pravelensi dan intensitasnya rendah, maka kita dapat melakukan perendaman dalam larutan formalin pada dosis 25-50 ppm selama 24 jam atau lebih.
  • Menggunakan manipulasi parameter kualitas air untuk merangsang pergantian cangkang kulit (moulting) pada udang.
  • Bagikan