Tembus Pasar Jepang, Jengkol Sumbar Menambah Rentetan Komoditas Ekspor Indonesia

Alifah Nurkhairina - Mediatani.co
  • Bagikan
Sumber foto: nusadaily.com

Mediatani – Sektor pertanian nasional kembali mengabarkan hal bahagia. Salah satu komoditas andalan Indonesia berhasil tembus ke pasar global. Adalah jengkol asal Sumatera Barat, salah satu komoditas Indonesia yang telah melaju ke pasar ekspor hingga menyentuh negeri sakura Jepang.

Merespon hal tersebut, Iswan Haryanto selaku Kepala Karantina Pertanian Padang menyampaikan tentang data pada sistem perkarantinaan, IQFAST di wilayah kerjanya jengkol asal Sumatera Barat sebelumnya tidak pernah masuk ke pasar ekspor. Yang menarik menurutnya adalah pelaku usaha atau eksportirnya masih terlihat muda. Artinya peluang komoditas pertanian asal Sumatera Barat di pasar luar negeri akan terus terbuka lebar.

“Setelah banyak komoditas pertanian Sumatera Barat berhasil berkelana di pasar mancanegara. Kini giliran komoditas Jengkol menyentuh Jepang,” katanya.

Merespon hal tersebut, Ditjen Teknis Hortikultura dan Dinas Pertanian serta kerja sama pelaku usaha dan petani, mendukung pencapaian ini bahwa budidaya tanaman jengkol tidak hanya berdasarkan kuantitas tetapi juga sudah lebih berkualitas.

Kepala Karantina Pertanian Kelas I Padang Iswan Haryanto mengungkapkan dengan adanya ekspor ini akan membuat bertambahnya rentetan komoditas pertanian di Sumbar yang di ekspor selain komoditas manggis. Menurut Iswan, dengan adanya pesanan komoditas jengkol hasil produksi Sumatera Barat ke Jepang itu, dari penjelasan eksportir adalah permintaan dari perantau Minang yang tinggal di Jepang.

Baca Juga :   Bupati Jember Terpilih Gandeng Universitas Jember Benahi Sektor Pertanian

Sementara itu di sisi lain, Syafrizal selaku Kepala Dinas Tanaman Pangan Perkebunan dan Hortikultura Sumatera Barat mengungkapkan bahwa daerah penghasil jengkol yang terbaik itu berlokasi di Kabupaten Pesisir Selatan. Setelah itu dari daerah selanjutnya berturut – turut adalah Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Agam dan Limapuluh Kota.

“Memang kita tengah mengupayakan adanya pengembangan komoditas tanaman jengkol ini. Sekadar informasi, jengkol ini adalah jenis tanaman tua, sehingga tidak terlalu sulit untuk ditanam,” jelasnya.

Dia juga menyebutkan, pada daerah Pesisir Selatan, komoditas jengkol varietas Lokan dan Bareh sementara dilakukan pengembangannya. Untuk kedua jengkol varietas itu memang memiliki potensi yang sangat bagus, dan juga tentunya bisa mengangkat perekonomian para petani, Hal ini disebabkan karena harga jualnya bisa mencapai tiga kali lipat lebih mahal dibanding komoditas buah tanaman sejenis. Sehingga jika tanaman kedua varietas itu dikembangkan dengan maksimal tentunya bisa memberi dampak kepada peningkatan perekonomian petani pembudidaya.

Baca Juga :   Sisa Beras Impor Vietnam Tahun 2018 Masih Ada di Banyuwangi, Buwas: Jangan Buru-buru Impor

Hanya saja sebut pria yang akrab disapa Jejeng ini menyatakan bahwa indukan jengkol yang memiliki kadar amilosa rendah tersebut, hanya tersisa tiga batang di Kecamatan Air Pura di Pesisir Selatan, dengan rincian satu batang indukan varietas Lokan dan dua batang indukan varietas Bareh.

Untuk mematuhi aturan dan juga protokol ekspor ke negara tujuan, Iswan mengatakan, akan dilakukan serangkaian tindakan karantina pertanian agar memastikan keamanan dan kesehatan dari komoditas yang ingin diekspor.

“Pada bulan Februari 2021, tercatat sebanyak seratus kilogram jengkol menuju ke Tokyo, Jepang dan telah melewati sertifikasi karantina pertanian. Sertifikat kesehatan karantina tumbuhan atau phytosanitary certificate (PC) diterbitkan pihaknya sebagai jaminan produk telah memenuhi persyaratan negara tujuan” katanya di Padang, Kamis 18 Februari 2021.

Sementara itu, Ali Jamil selaku Kepala Badan Karantina Pertanian memberikan apresiasinya terhadap adanya ragam dan negara tujuan ekspor baru asal Sumatera Barat.

“Ragam dan negara tujuan ekspor baru menjadi fokus untuk mencapai target Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Pertanian. ini adalah pesan pak Mentan SYL kepada Badan Karantina Pertanian selaku koordinator,” singkatnya.

 

  • Bagikan