Mediatani – Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah ampas tahu telah menjadi persoalan saat ini, khususnya di salah satu sentra produsen tahu di Semarang. Untuk mengatasi hal tersebut, tim dosen dari Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang diketuai oleh Dr Ratna Dewi Kusumaningtyas ST MT membuat kegiatan pengabdian yaitu memanfaatkan limbah ampas tahu tersebut menjadi pakan ternak. 

Kegiatan yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unnes ini beranggotakan Haniif Prasetiawan ST MEng, Bayu Triwibowo ST MT, Dhoni Hartanto ST MT MSc, dan Masni Maksiola AMd dibantu mahasiswa Fidyawati, Andre Dianata Hogi Kusuma, Naufal Mudrik Mezaki, Afrizal Mai Mutaqin, serta Rendy Okta Loveyanto.

Ratna Dewi mengungkapkan Kelurahan Sumurrejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang dipilih sebagai lokasi pengabdian karena merupakan kampung tematik makanan olahan kedelai. 

Di wilayah ini, terdapat 4 belas pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang tergabung Kelompok Usaha Bersama Olahan Kedelai (KUB OKE), delapan diantaranya merupakan produsen tahu. Selain itu, terdapat peternakan sapi perah dan sapi potong KTT Rejeki Lumintu di wilayah tersebut yang mengeluhkan tingginya harga pakan ternak.

“Oleh karena itu, pengolahan limbah ampas tahu menjadi pakan ternak bergizi tinggi ini kami harapkan dapat menjadi solusi limbah ampas tahu bagi produsen tahu sekaligus penyedia pakan ternak bergizi tinggi, murah, dan ramah lingkungan bagi kelompok peternak sapi,” ujar Ratna Dewi Kusumaningtyas, dilansir dari Ayosemarang. com. 

Beberapa alasan dilaksanakannya kegiatan tersebut, menurut Ratna, yaitu karena belum adanya pengetahuan tentang dampak negatif limbah ampas tahu, potensi ekonomis, proses pengolahan ampas tahu menjadi produk bernilai tinggi, serta kemampuan wirausaha sekaligus packaging produk.  

Masalah lain yang juga mempengaruhi usaha itu, menurut Ratna yaitu belum adanya informasi tentang cara  pendaftaran dan pengurusan merek dagang. 

Maka dari itu, menurutnya langkah tepat untuk mengatasi berbagai masalah itu adalah dengan melaksanakan kegiatan pengabdian yang memfokuskan penyampaian informasi dampak negatif limbah ampas tahu bagi lingkungan dan kesehatan serta potensi ekonomis limbah tahu.  

Selain itu juga soal peningkatan pengetahuan dan keterampilan produsen tahu untuk memformulasikan, memproduksi pakan ternak secara optimal melalui teknologi tepat guna dan metode aplikasinya ke hewan ternak.

Baca Juga  Gunakan Sistem Modern, Penghasilan Petani Muda Ini Sehari Raup Hingga Rp 100 Juta

“Yang tak kalah penting adalah materi wawasan kewirausahaan terkait pemanfaatan limbah ampas tahu menjadi pakan ternak juga diberikan oleh tim. Dengan begitu, produsen tahu dapat mengolah limbah ampas tahu menjadi pakan ternak dibarengi dengan kemampuan berwirausaha,” ujarnya. 

Salah satu usaha yang memproduksi tahu sekaligus limbah ampas tahu cukup besar di wilayah itu adalah UKM Tahu Pak Muhzidi. Oleh karena itu tim pengabdi berkerja sama dengan UKM Tahu Pak Muhzidin untuk mengefektifkan kegiatan tersebut.

Telah dilakukan Riset pada Ampas Tahu

Sebelum kegiatan pengabdian ini dilakukan, tim telah melakukan riset terlebih dahulu. Terdapat dua formulasi yang diteliti yaitu formulasi A dan B. Masing-masing terdiri dari bahan utama berupa limbah ampas tahu disertai bahan pelengkap yaitu ragi tempe untuk proses fermentasi, dan suplemen amidion untuk penambah nutrisi dengan komposisi yang berbeda. 

Sementara itu, Haniif Prasetiawan dan Bayu Triwibowo menjelaskan, prosedur pembuatan pakan ternak yang dilaksanakan terdiri dari proses pemerasan ampas tahu, pengukusan ampas tahu yang telah diperas dan pendinginan ampas tahu.  

Selanjutnya ampas tahu dicampur rata dengan ragi tempe dan suplemen dengan jumlah tertentu baru kemudian diletakkan di dalam ember tertutup rapat untuk proses fermentasi selama tiga hari. 

Setelah tiga hari, ampas tahu hasil fermentasi dikeringkan di oven. Kedua formulasi tersebut kemudian diujicobakan pada ayam karena pertumbuhan yang cepat dan kemudahan dalam mengamati selama dua pekan.

“Formulasi B menunjukkan hasil terbaik dibanding dengan formulasi A atau pakan pur biasa sehingga formulasi B tersebut dapat diaplikasikan untuk pakan ternak,” papar Haniif didampingi Dhoni Hartanto dan Masni Maksiola. 

Ia menyatakan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini dihasilkan produk pakan ternak dari limbah ampas tahu yang murah, bergizi tinggi dan ramah lingkungan.  

Selain itu, kegiatan ini juga mengakselerasi terbentuknya teknologi tepat guna proses produksi pakan ternak bagi produsen tahu, dan teknologi tepat guna aplikasi pakan ternak pada hewan ternak bagi peternak sapi perah dan sapi potong.  

Kemudian yang paling utama masyarakat produsen Kelurahan Sumurrejo dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berwirausaha pakan ternak dari limbah ampas tahu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here