Tren Pertanian Hidroponik Kian Diminati di Burkina Faso Afrika

  • Bagikan
Sumber foto: beautynesia.com

Mediatani – Kegiatan menanam saat ini kian diminati oleh orang-orang. Digitalisasi dan pemanfaatan teknologi di sektor pertanian ternyata dapat menarik perhatian sejumlah kalangan. Salah satu teknik pertanian yang diterapkan adalah sistem hidroponik.

Baca Juga :   SCF Berikan Bantuan dan Pelatihan Usaha Hidroponik untuk Masyarakat Terdampak Pandemi

Di Indonesia itu sendiri, pertanian hidroponik sudah tidak asing lagi. Berbagai kalangan sudah menggeluti sistem pertanian yang satu ini. Wajar saja, sistem hidroponik dapat diterapkan pada lahan terbatas, sehingga menjadi solusi untuk mereka yang ingin bertani tetapi tidak memiliki lahan yang luas.

Dilansir dari laman Republika.id, sementara itu di Afrika, sistem pertanian secara hidroponik ini rupanya kian diminati. Metode hidroponik ini dapat menghemat penggunaan air dan tanah serta menggunakan bahan alamiah seperti sabut kelapa.

Di Ibukota Burkina Faso, Ouagadougou, hanya air dan sabut kelapa yang dibutuhkan untuk menanam kacang hijau dan tomat. Para petani di sana belajar tentang bagaimana bisa bertani tanpa harus membutuhkan media tanah.

Adjaratou Sanogo, salah seorang petani hidroponik, beberapa tahun lalu memutuskan untuk mulai menggunakan hidroponik. Hal ini dia sadari setelah ketersediaan sayur-sayuran di pasar kota-kota yang mulai berkurang stoknya pada waktu-waktu tertentu.

“Petani di sini sudah bekerja dengan cara tradisional sejak dahulu kala,“ ungkap Adjaratou Sanogo.

Meskipun demikian, diketahui hasil panen yang diperoleh mengalami penurunan. Bahkan, banyak dari petani tersebut yang tidak mampu mencukupi kebutuhan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarga. Sehingga, tidak ada hasil pertaniannya yang tersisa untuk dijual.

Terkait masalah ini, para ahli merasa khawatir dengan hasil pertanian di kawasan Sahel, Afrika yang diprediksi akan berkurang hingga 30 persen. Melihat angka ini, Adjaratou Sanogo pun menggelar pusat pelatihan dengan sokongan internasional. Dirinya mengaku ingin membagikan ilmunya kepada banyak orang.

Alhasil, pelatihan yang digelarnya mendapat respon yang baik dari banyak orang. Pelatihan yang dibuatnya sudah mencukupi kuota atau sudah penuh. Hal ini karena penyampaian informasi tentang pelatihan ini disebar dengan bantuan media sosial.

Bahkan, kabarnya pelatihan ini sudah menyebar hingga ke negara tetangga Chad, Congo dan Mali. Mereka yang mengikuti pelatihan ini tertarik sebab selain punya potensi bisnis atau sekadar hanya ingin menambah pengetahuan.

Evelyne Dahani, salah seorang peserta pelatihan mengaku bahwa dirinya ikut pelatihan ini karena ingin menanam tanaman organik untuk dikonsumsi secara pribadi bersama keluarganya, kapan saja dia mau.

“Dengan menerapkan sistem pertanian hidroponik, kita tidak lagi tergantung pada musim. Kita bisa memanen sepanjang tahun,” ungkapnya.

Dengan bantuan hidroponik, orang-orang yang dilatih bisa mengembangkan sayuran dengan lebih cepat. Pelatihan spesial ongkosnya 10 Euro. Banyak dari mereka mengambil lebih banyak pelatihan, tinggal lebih lama dan membayar lebih banyak.

“Kami memilih ikut pelatihan selama empat bulan, karena mulai dari menanam sampai panen lamanya sekitar empat bulan. Dengan demikian, mereka tahu tahapan produksi,” pungkasnya.

  • Bagikan