Wabah PMK Belum Membaik, Pemda dan Peternak Sapi di Jabar Masih Butuh Bantuan

  • Bagikan
Sumber foto: https://www.detik.com/

Mediatani – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Jawa Barat (Jabar) saat ini belum memperlihatkan adanya tanda-tanda penurunan. Pemerintah daerah (Pemda) dan para peternak masih mengharapkan bantuan obat dan vitamin baik dari Pemerintah provinsi maupun dari pusat.

Baca Juga :   Indonesia Bakal Punya Shrimp Estate Seluas 10.000 Ha

Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar, setidaknya telah ada sebanyak 4.100 sapi potong, perah serta domba dan kambing yang tertular penyakit PMK sampai dengan Rabu (1/6/2022). Kasus ini terjadi di 20 kabupaten/kota.

Ketua Umum Koperasi Peternakan Sapi Bandung Selatan, Pangalengan Aun Gunawan mengungkapkan bahwa saat ini ada sebanyak 700 dari 13.700 total ekor sapi telah tertular penyakit PMK.

Hal tersebut menyebabkan produksi susu sapi menurun 10-90 persen. Dari total produksi susu yang sebelumnya mencapai 75 ton per hari, kini menjadi hanya sebanyak 63-64 ton per hari.

”Alhamdulillah, saat ini 50 persen sapi yang tertular sudah sembuh. Tetapi, kami tetap harus waspada karena persebaran penyakit ini luas dan masif,” ungkap Aun pada Kamis (2/6/2022).

Aun menerangkan, saat ini para peternak masih menunggu adanya vaksinasi ternak dari pemerintah. Namun, ia tetap menghibau pada para peternak agar melakukan pengobatan secara mandiri, seperti pemberian air kelapa agar memperkuat daya tahan tubuh ternak.

”Kami butuh bantuan pemerintah. Bayangkan, kalau ada satu sapi yang mati, para peternak butuh 2,5 tahun untuk mendapatkan sapi siap perah,” jelas Aun.

Kondisi serupa juga melanda Kabupaten Kuningan. Tercatat, ada 323 ternak yang telah suspek PMK hingga Kamis, dimana 98 ekor diantaranya dinyatakan sembuh, sementara 11 ekor terpaksa dipotong bersyarat.

Dalam dua pekan terakhir, kasus PMK terus menyebar di delapan kecamatan. Daerah tersebut yaitu, Garawangi, Cigugur, Cilebak, Cibingin, Kuningan, Kramatmulya, Lebakwangi dan Luragung. Daerah Cigugur yang merupakan sentra sapi perah menjadi daerah dengan kasus terbanyak yaitu 264 ekor sapi.

Sekretaris Koperasi Serba Usaha (KSU) Karya Nugraha Jaya, Junen mengungkapkan, penyakit PMK menyebabkan produksi susu berkurang. Hal tersebut dikarenakan sapi para peternak sulit untuk makan.

Sebelumnya, seekor sapi mampu menghasilkan hingga 15-20 liter per hari. Namun, kini seekor sapi hanya mampu memproduksi sebanyak 2 liter per hari saja.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kuningan, Dadi Hariadi menjelaskan, untuk meminimalisir masuknya sapi dari luar daerah, diberlakukan sistem penguncian wilayah.

Sapi dari luar daerah tidak diperbolehkan masuk jika tidak memiliki dokumen, seperti surat kesehatan hewan. Sebaliknya, sapi dari daerah wabah di Kuningan juga dilarang keluar.

Meskipun sejak pertengahan Mei lalu penularan penyakit PMK terus meluas, pihaknya mengakui terkendala pada obat-obatan untuk sapi yang terdampak.

”Obat-obat tidak mencukupi karena penyakit ini tidak diduga. Kami hanya gunakan anggaran yang ada. Kami bagi 50 persen untuk puskeswan dan sisanya untuk PMK,” ungkap Dadi.

Pejabat Otoritas Veteriner Kabupaten Kuningan, Rofiq juga menambahkan bahwa saat ini obat dan vitamin yang tersedia hanya cukup untuk 200 hingga 300 ekor ternak.

”Ini sangat minim. Di Blok Cigeureung (Cigugur) saja ada sekitar 1.500 sapi. Jadi, obat yang ada sekarang hanya untuk sapi yang sakit,” ungkap Rofiq yang juga merupakan dokter hewan.

Padahal, menurutnya, populasi sapi perah mencapai 7.000 ekor, sapi potong mencapai 29.000 ekor, dan domba mencapai 120.000 ekor. Itu sebabnya, Rofiq berharap kepada pemerintah provinsi dan pusat agar memberikan bantuan obat serta vitamin untuk ternak yang terdampak PMK.

”Kami juga mengajukan anggaran BTT (belanja tak terduga) kepada bupati,” bebernya.

  • Bagikan