Manfaatkan Potensi Lokal, Slamet Sukses Olah Daun Serai Jadi Minyak Herbal

Slamet melakukan proses packaging produk minyak serai miliknya

Mediatani – Memanfaatkan potensi lokal sebagai peluang usaha memang butuh kejelian. Slamet Riyadi yang awalnya seorang petani kini beralih mengembangkan produksi minyak serai di Kabupaten Batang dengan memanfaatkan tanaman serai di sela-sela pepohonan besar.

Minyak serai produksi Slamet Riyadi di Kabupaten Batang ini mengalami peningkatan pesanan yang drastis. Usaha produksi rumahan di Desa Sodong, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang makin maju selama pandemi ini. 

“Alhamdulillah selama pandemi ini permintaan minyak serai meningkat. Biasanya seminggu hanya 2,5 liter, sekarang ini bisa sampai 10 liter,” tuturnya, Kamis (23/7). 

Dalam seminggu dia hanya mampu memproduksi 7 hingga 10 liter minyak serai untuk memenuhi permintaan. Slamet  pun mengaku kewalahan memenuhi pesanan karena produksi minyak serai masih menggunakan cara tradisional.

“Banyak sebenarnya pesanan tapi karena produksinya belum maksimal dan bahan baku juga masih dalam proses tanam jadi ya masih kewalahan,” imbuhnya.

IKLAN

Ayah empat anak itu menceritakan, ia memanfaatkan tanaman serai sebagai obat herbal. Minyak serai yang diproduksinya itu memiliki aroma khas wangi hangat pedas. Dikatakannya, dia sangat menjaga kualitas minyak serai hasil penyulingan murni tanpa ada bahan campuran apapun. 

“Saya menjaga sekali kualitas tidak ada campuran apapun murni minyak dari tanaman serai,” terang Slamet dikutip dari Tribunjateng. com.

Untuk membuat minyak serai, tumpukan daun yang dipanen dimasukkan ke dalam tungku panas dan direbus selama hampir satu jam.

“Agar kualitas minyak serai baik maka suhu panas harus tetap terjaga, usai direbus hampir satu jam, uap akan muncul dan mengalir melalui pipa besi,” jelasnya.

Pada saat uap mengalir, dilakukan juga pendinginan dengan air dalam tong. Proses itu dilakukan agar minyak yang keluar dalam keadaan dingin. 

Minyak yang bercampur dengan uap air itu kemudian dipisahkan dengan melakukan penyaringan. Meskipun sederhana, namun proses penyulingan membutuhkan ketelitian dan ketrampilan.

Menurutnya, minyak serai sendiri mempunyai 21 manfaat di antaranya adalah untuk minyak pijat, memperbaiki kinerja pencernaan, meredakan nyeri, dan merawat kulit.

“Untuk harga jual minyak ia bandrol mulai Rp 7.500 untuk botol 15 Mililiter, dan Rp 30 Ribu untuk botol berisi 50 Mililiter,” pungkasnya.

Sebanyak 450 mililiter minyak serai yang diproduksinya itu membutuhkan sekitar 65 kilogram daun serai. Sehari-hari dalam proses produksi dibantu anaknya, dan tiga orang pekerjanya. 

Keunggulan minyak serai ini juga yaitu tak ada masa kedaluwarsa alias tak ada expirednya. 

Diakuinya, pemasaran masih sebatas di kota-kota di Jawa Tengah. Ia bahkan masih melalui media sosial dan gethok tular tetangga. Hal itu karena ia masih mengurus izin BPOM dan alat yang digunakan masih sangat sederhana.

“Nanti kalau sudah lengkap BPOMnya akan kami kembangkan lagi alat produksinya. Kita siapkan alat penyulingan yang lebih besar,” terang Slamet.