Pentingnya kerajinan tangan guna menunjang pengembangan wisata berbasis penyu, SPF gelar pelatihan

40
views
Pemateri berfoto bersama peserta (Foto: SPF)
Pemateri berfoto bersama peserta (Foto: SPF)

Serui, Kep. Yapen, Papua – Saireri Paradise Foundation (SPF) pada pekan lalu (14 – 16 Mei 2018) menggelar pelatihan pengembangan wisata di Kampung Sawendui Distrik Raimbawi Kab Kepulauan Yapen Papua. Pelatihan ini dilakukan guna penguatan dan peningkatan kapasitas masyarakat terkait wisata alam berbasis penyu.

Pasang iklan

Akmal Firdaus Pitopang selaku koordinator pelatihan tersebut mengungkapkan bahwasanya pelatihan ini penting untuk digelar agar masyarakat lebih siap dalam pengelolaan wisata alam nantinya. Wisata alam yang ditarget oleh SPF merupakan wisata berbasis penyu, mengingat salah satu sumberdaya yang bisa digunakan sebagai objek daya tarik wisatanya ialah penyu.

“Penyu selalu menjadi satwa yang menarik karena eksotisme dan estetika yang dihadirkan dari bentuk dan keberadaannya. Selain itu penyu juga menjadi indikator satwa yang dilindungi secara global akibat menurunnya populasi penyu di alam.” Ungkapnya pada awak media.

“Edukasi kepada masyarakat terkait penyu perlu terus dilakukan terutama di area-area bertelur penyu. Hal ini penting dilakukan untuk menurunkan angka perburuan terhadap penyu bahkan mencegah adanya pengambilan telur penyu oleh manusia.” Sambung Alumni IPB ini.

Suratman Baharudin selaku koordinator konservasi penyu menjelaskan program-program konservasi penyu memang perlu melibatkan masyarakat sebagai aktor utamanya. Harapannya masyarakat dapat menjadi agen-agen konservasi di tingkat tapak. Hal ini akan sangat diterima oleh masyarakat bila dilakukan edukasi secara terus menerus dan dikerjakan secara baik, apalagi bila sampai masyarakat bisa menerima manfaat langsung dari program konservasi penyu.

“Untuk program konservasi kami ada dua macam, yaitu penyu dan burung cendrawasih. Tetapi target kami, bisa memberikan edukasi kepada masyarakat terkait wisata penyu ini” ungkap Akmal lagi.

“Wisata berbasis penyu ini diharapkan akan bisa menjadi nilai manfaat langsung yang dapat dinikmati oleh masyarakat dari adanya kegiatan konservasi di daerahnya”. Lanjutnya.

Ia pun menjelaskan terkait latar belakang kegiatan pelatihan ini. Akmal menilai ada beberapa hal yang perlu di-upgrade dari masyarakat untuk menunjang wisata, salah satunya ialah hasil kerajinan tangan masyarakat.

“Untuk keperluan tersebut kami rasa perlu menggelar pelatihan ini” kata Pria bertitel Sarjana Kehutanan ini.

Pada kegiatan ini SPF sebagai Lembaga Nonprofit bekerjasama dengan Bank Mayapada dengan tajuk “Pelatihan Pemeliharaan Tukik dan Pengembangan Wisata Berbasis Penyu di Sawendui, Distrik Raimbawi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua”.

Pelatihan kali ini SPF menghadirkan Mokhamad Asyief Khasan Budiman seorang Peneliti dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB. Ia pun bertindak sebagai fasilitator pelatihan selama kegiatan ini berlangsung.

“Atraksi wisata penyu yang dapat ditawarkan kepada pengunjung diantaranya tour mengintip penyu bertelur atau bisa juga kegiatan melepas tukik di pantai”. Ungkap Asyief dalam penjelasan materinya.

Asyief pun menyarankan perlu adanya hasil kerajinan tangan dari masyarakat untuk menunjang pariwisata penyu ini. Ia mengatakan bahwa pengunjung yang datang akan sangat senang bila bisa membawa oleh-oleh berupa kerajinan tangan hasil masyarakat setempat.

“Kegiatan wisata ini haruslah ramah lingkungan. Karena tujuan wisata alam ini ialah untuk edukasi kepada masyarakat sekaligus kepada pengunjung yang nantinya akan datang”. Lanjutnya.

Sebagai fasilitator, Asyief pun membawa beberapa contoh hasil kerajinan tangan yang dapat diproduksi oleh masyarakat. Hasil-hasil kerajinan tersebut secara garis besar bertemakan pantai ataupun penyu.

“Karena wisata ini merupakan wisata terbatas, maka dalam satu kali kunjungan harus dibatasi jumlah pengunjungnya agar tidak merusak lingkungan dan masih bisa terkontrol oleh pengelola.” pungkas Asyief.

Para peserta pelatihan yang berjumlah 20 orang warga setempat itu pun merasa sangat senang atas terselenggaranya pelatihan ini. Mereka mengaku mendapat wawasan baru terkait manfaat konservasi secara langsung.

Selain itu, mereka pun menyatakan bahwasanya mereka mendapatkan inspirasi baru untuk bisa membuat hasil-hasil kerajinan tangan hasil kreativitas mereka. Bahkan beberapa diantara mereka telah berhasil membuat kerajinan tangan dengan tema penyu usai pelatihan tersebut digelar.

“Kami sangat bersyukur dan sangat terbantu dengan adanya Yayasan (SPF-red) di sini, pelatihan yang diadakan Yayasan ini memberi gambaran baru bagi kami.” Ungkap salah seorang peserta.

/end

J