Agus (bertopi) dan Ali Maksun memeriksa bulir padi yang mulai berisi di lahan pertanian organik milik mereka di Desa Kencong, Kecamatan Kepung. (MOCH. DIDIN SAPUTRO, Radar Kediri)

Mediatani – Seorang petani organik asal Desa Kencong, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Ali Maksun berhasil menerapkan pertanian dengan sistem organik. Tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia, ia mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Maksun bercerita awal dirinya menggunakan sistem ini ketika mengalami sakit lambung. Saat itu ada yang mengajak budidaya padi dengan sistem organik. Dan setelah ia mengonsumsi itu ternyata berpengaruh pada tubuhnya.

“Dulu saya sakit lambung lama, ternyata makan nasi dari beras organik lama-kelamaan sakitnya bekurang,” terang Maksun, dikutip dari RadarKediri, Minggu (18/10/2020).

Untuk hasilnya memang tak seberapa pada awalnya. Namun dengan tekad yang gigih, Maksun terus konsisten untuk mengembangkan sistem pertanian ramah lingkungan ini. Berbagai pelatihan dari PPL dan tim ahli yang didatangkan oleh Pemerintah Desa juga diikutinya.

Petani sekaligus guru MTs itu menyebut bahwa dengan cara konvensional akan banyak kandungan bahan kimia yang bisa merusak lingkungan. Bahkan hal itu pastinya bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Selama terjun di pertanian organik, masalah kelangkaan pupuk yang selalu dialami juga dapat teratasi. Petani di Desa Kencong kini menjadi lebih mandiri, karena tidak mengandalkan pupuk bersubsidi.

“Kami tidak memikirkan pupuk. Karena organik ini apa yang ada di sekeliling kita, maka kita manfaatkan,” ungkap Maksun.

Petani lain, Budi Agus Santoso menyampaikan, dirinya menggunakan pelepah pisang sebagai bahan pupuk organik. Sementara Maksun, berbeda bahan, menggunakan kartok atau tumbuhan liar untuk bahan pupuk organiknya.

“Alhamdulillah ada keberhasilan. Tanaman juga bagus,” tambahnya.

Selain itu, salah satu yang membuat sehat adalah tak adanya pestisida kimia. Untuk pestisida, mereka memanfaatkan pestisida hayati yang diracik sendiri dari tanaman dan rempah.

Baca Juga  Setelah Dianggap Punah Tanaman Ini Kembali Ditemukan Di Selandia Baru

“Musuh alami masih banyak yang hidup. Sehingga ekosistem terjaga, rantai makanan pun tetap berkesinambungan,” jelas Maksun.

Maksun mengakui, pertanian organik membutuhkan biaya produksi yang lebih tinggi. Namun itu sebanding dengan hasil penjualan beras organik yang jauh lebih tinggi dari beras biasa.

“Bisa dua kali lipat,” ungkap Maksun.

Meskipun pertanian organik membutuhkan proses yang panjang, Maksun tetap konsisten untuk menjalaninya. Karena menurutnya dengan bertani organik lebih banyak untungnya dibanding non-organik.

Agus Santoso juga mengakui hal yang sama, bercocok tanam dengan sistem organik sudah terlanjur terbiasa dilakukannya. Dalam budidaya juga Agus mengaku hampir tak menemui kendala berarti saat budidaya. Hanya ada beberapa hama yang menyerang. Seperti tikus dan burung. Namun itu masih bisa ditoleransi dan dikendalikan.

“Sementara kendala yang lain-lain tidak ada sama sekali,” tandasnya.

Justru menurutnya pertanian organik ini banyak kelebihan dibandingkan kendala atau kekurangan. Salah satunya adalah dalam hal pengairan. Apalagi di saat musim kemarau seperti ini.

“Kami berani pengairan hingga 15 hari. Itu jauh lebih efisien dibandingkan pertanian padi konvensional yang satu minggu sekali melakukan pengairan,” ujarnya.

Agus mulai mencoba pertanian organik sejak 2010. Bersama rekannya, Ali Maksun. Baginya, bertani organik ini perlu waktu dan proses. Termasuk melihat kondisi lahan. Apabila lahan itu bagus dan sehat, tak perlu waktu lama untuk mengembangkan pertanian organik.

“Satu sampai dua tahun sudah bisa dikatakan organik. Tapi kalau tanahnya memang sakit atau rusak, bisa jadi sampai 5 tahun dikatakan organik,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here