Diskusi Warung Pemula, Kampus Harus Berpihak Pada Desa

118
views

Mediatani.co – Bogor. Diskusi warung pemula kembali digelar. Kegiatan yang diadakan secara series di Kopi Warung Pemula kali ini membahas tentang tema “Dari Kampus dan Desa Membangun Peradaban”.

Diskusi berjudul Colloquy serie ke-8 ini kali ini menghadirkan Ir Siti Nurianty (Kepala Dinas Hortikultur, Tanaman pangan, dan Perkebunan Kabupaten Bogor), Dr Sofyan Sjaf (Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB), Nurdiansyah (Ketua BEM KM IPB), Syaehu Syam (Kepala Desa Babakan), dan Urip Iskandar (Kepala Desa Cibitung Wetan).

Siti menyoroti bahwa desa akan tumbuh dan berkembang apabila ekonominya berkembang. Potensi desa dapat dikembangkan dengan baik dengan mengoptimalkan Alokasi Dana Desa (ADD), kelembagaan ekonomi desa seperti BUMDes, dan sumber daya manusia yang ada di masing-masing desa.

“Sesuai visi dalam mewujudkan Kabupaten Bogor termaju, nyaman, dan berkeadaban, Pemerintah Kabupaten tidak bisa apabila bekerja sendiri, tanpa melibatkan peran kampus dan masyarakat”, ungkap Siti

Sementara Sofyan mengatakan bahwasanya Desa adalah sumber nilai bagi peradaban Indonesia. Oleh karena itu desa menjadi kekuatan besar bagi bangkitnya peradaban Indonesia.

“Contohnya potensi kekuatan pangan. 7.498 desa yang terdapat di Indonesia, 73,14 persen merupakan desa pertanian, sayangnya potensi desa tersebut masih belumlah bisa dioptimalkan dan cenderung terkesan abai. Ini bisa jadi memang kesalahan dari kampus yang tidak bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat” Ungkap Sofyan

Sofyan berpendapat bahwasanya kampus merupakan tempat melahirkan intelektual dan aktivis desa, tak ada di tempat lain. Ia menjelaskan bahwa kekuatan aktivisme kampus untuk ‘turun desa’ masih terganjal dua hal: birokrasi kampus berbelit dan pembelajaran yag masih terkesan teoris-sentris. Sehingga hal tersebut secara tidak langsung menciptakan paradigma mahasiswa tentang orientasi aktivitasnya.

“Tugas mahasiswa bukan menjalankan program pemerintah, tapi memberikan energi bagi masyarakat dan negaranya, baik berbentuk kritik, saran, maupun pengabdian-pengabdian yang konkret”, jabar Sofyan.

Di sisi lain Nurdin selaku Presiden Mahasiswa IPB menjelaskan bahwa mahasiswa pun telah memberikan kontribusinya sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Meski begitu, pria yang akrab disapa Dadan ini masih menemukan beberapa kelemahan, seperti bentuk bina desa oleh organisasi-organisasi mahasiswa yang masih berjalan sendiri-sendiri.

“Baik BEM KM, Himpro-Himpro, maupun Ormawa, punya program bina desanya masing-masing”, jelas Dadan. 

Meski begitu, menurut Nurdiansyah, kesepakatan telah muncul antara BEM KM, Himpro dan Ormawa membentuk program bina desa bersama. Desa yang direncakan seperti Desa Cihideung Udik dan Desa Ciherang.

Pada pembahasannya Syaehu (Kepala Desa Babakan) menekankan mengenai perubahan tata ruang desa, seiring derasnya aliran pendatang.

“Perubahan Babakan dari Desa menjadi Kota, (menyebabkan) jadi kumuh. Itulah kekhawatiran kami”, ungkapnya.

Ia mencontohkan beberapa perubahan-perubahan mencolok seperti dari semula daerah Babakan mayoritas sawah dan kebun karet berubah menjadi kebun ‘beton’

Pada sesi selanjutnya, Urip (Kepala Desa Cibitung Wetan) juga memaparkan keluh kesah mengenai masalah dana desa. Baginya, dana desa yang telah diatur dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 2012 tentang Desa masih perlu penjabaran.

“Kami sebagai perangkat desa masih bertanya-tanya, dengan dana desa yang begitu besar, tetapi aturan yang dituangkan masih terlalu umum”, keluh Urip.

Baginya, perlu regulasi yang jelas dan lebih spesifik mengenai pengelolaan dana desa yang terlampau besar.

Apalagi, menurut Urip lagi, dana desa yang begitu besar tersebut justru tidak dibarengi dengan bimbingan dari pemerintah. Menurutnya, penuangan di dalam Legislasi belum tentu ‘bertitik temu’ di lapangan yang konkret.

“Latar belakang Jawara, Jaro, (akan) kelabakan terhadap sistem UU Desa. Perlu pembimbingan dan pendetailan (regulasi) proses pemanfaatan dan pengelolaan dana desa”, terangnya.

Siti Nurianty juga menimpali bahwa Pemerintahan Kabupaten Bogor, Pertanian dan Perkebunan menjadi concern. Nuryanti menjelaskan bahwa potensi desa di Kabupaten Bogor sangat begitu besar. Nuryanti memberikan contoh tentang prestasi Silver and Bronze Prize yang diraih oleh dua desa di Kabupaten Bogor dalam Festival Kopi di Paris.

“Di Kabupaten Bogor sendiri, lahan kopi seluas lima ribu hektar. Potensi yang begitu besar”, ungkapnya.

Meski begitu, contoh tersebut hanyalah secuil. Potensi desa yang begitu besar tidak akan maksimal tergali tanpa adanya partisipasi masyarakat dan koordinasi antar-lembaga.

“Potensi (desa) ini begitu besar. Tapi tidak bisa menjadi kekuatan bila kecamatan, pemkab yang jalan sendiri. Perlu partisipasi masyarakat dan koordinasi”, ucap Nuryanti.

Sofyan sjaf menengahi dengan penjelasan teori kongkretnya. Ia berpendapat bahwa tantangan hari ini adalah bagaimana melahirkan peradaban dari desa, karena desa adalah unit kelembagaan sosial terkecil di mana sistem sosial berjalan.

Lebih lanjut Sofyan memaparkan, bahwa dalam membangun peradaban sebagai landasan dalam mengelola sumberdaya alam di Indonesia, desa dan kampus harus berkolaborasi.

“Desa sebagai sumber nilai-nilai, sementara kampus adalah pusat intelektualitas dalam memproduksi sekaligus mereproduksi pengetahuan dan inovasi yang dibutuhkan oleh desa. Kebutuhan teknologi oleh masyarakat, harus mampu dijawab oleh kampus. Jika kampus tidak mampu hadir di desa, maka peradaban tidak mungkin terbangun”. Pungkasnya.