Inovasi Mahasiswa Medan Olah Limbah Tongkol Jagung Jadi Pakan Ternak

  • Bagikan
Dedi saat diwawancarai wartawan terkait inovasi pakan ternaknya/via tribun-medan.com/tangkapan layar tribun-medan.com/IST

Mediatani – Tak sedikit seorang mahasiswa di Indonesia yang kreatif dalam menciptakan prodak yang berguna bagi bangsanya Indonesia. Satu di antaranya ialah sosok Mahasiswa Universitas Medan Area (UMA) Medan, Fakultas Sains dan Tekhnologi Biologi, bernama Dedi.

Dedi sendiri menginisiasi pakan ternak dari olahan tongkol jagung dan susu kadarluasa. Dia menceritakan terciptanya Pakan Ternak berawal dari banyaknya tongkol jagung yang berserak di mana-mana dan tersisa dari petani jagung.

Bahkan banyak petani jagung di daerahnya membuat tongkol Jagung ini melimpah dan terbuang sia-sia. “Jadi karena tongkol Jagung ini menjadi limbah, kami berinisiatif memiliki ide untuk membuat Pakan Ternak dari tongkol jagung dengan menggunakan beberapa bahan campuran,” tuturnya, Minggu (14/3/2021) yang dikutip Selasa (16/3/2021) dari situs tribun-medan.com.

Adapun bahan campuran tersebut seperti, menggunakan bakteri, polis, molases dan menambahkan susu kadarluasa untuk protein pakan ternak. Lalu, timnya juga memberikan campuran garam sebagai bahan perasa Pakan Ternaknya.

“Jadi proses awalnya, kami kumpulkan terlebih dahulu tongkol Jagung dari Petani Jagung. Kemudian, setelah kami kumpulkan, kami giling dan kami haluskan memakai mesin. Setelah itu baru kami fermentasikan dengan menggunakan bakteri dengan campuran molases,” tuturnya.

Ia menerangkan setelah proses fermentasi selama empat hari. Kemudian, barulah dicampurkan serbuk padi, susu kadarluasa dan garam dapur. Selanjutnya, semua bahan dimasukkan dan dicampur secara merata, lalu pakan siap untuk dikemas untuk diberikan kepada hewan ternak.

Baca Juga :   Mahasiswa Kreatif di Masa Pandemi, Dapat Hibah British Council hingga Buat Masker dari Sekam

“Pakan ternak ini dibuat untuk ternak ayam, bebek dan burung. Jadi satu Kilogram Pakan Ternak yang dibuat menggunakan tongkol Jagung hanya membutuhkan biaya bekisar Rp 3.000-an,” tuturnya.

Sedangkan, untuk pakan yang dijual di pasaran, harganya mencapai Rp 12 ribuan hingga Rp 13 ribuan per Kilogramnya. Maka secara ekonomis, pembuatan Pakan Ternak dari tongkol jagung itu diperkirakan hemat hingga Rp 8000 -an per Kilogramnya.

Dia melanjutkan, menyampaikan dengan keberhasilan ini diharapkan dapat membantu para perternak untuk menghemat biaya pakan ternak. Apalagi saat ini merupakan masa yang sulit, yakni Pandemi Covid-19.

Sebagaimana diketahui berbagai sektor perekonomian mengalami kesulitan. “Dengan adanya penemuan bahan ternak dari limbah Jagung, dapat membantu para pereternak yang saat ini dalam kesulitan di tengah Pandemi Covid-19 untuk membeli pakan ternak yang terbilang mahal. Sehingga para peternak juga dapat membuat pakan ternak sendiri,” katanya.

Bukan hanya mahasiswa, tapi dari kalangan pelajar pun berhasil membuat inovasi dari produk peternakan. Sebagaimana diberitakan mediatani.co sebelumnya, dua pelajar SMP 1 Kudus, Jawa Tengah yang meneliti tentang pemanfaatan kefir dari susu kambing etawa untuk bioterapi pemulihan operasi divertikulitis duodenum, berhasil menyabet medali emas di ajang ASEAN Innovative Science and Enterpreneurship Fair (AISEF) 2021.

Baca Juga :   Himagro Unhas Akan Rayakan Ulang Tahun ke 36 Lewat Tudang Sipulung

“Pelajar yang terlibat dalam perlombaan tersebut yakni Mirza Tsabita Wafa’ana dan Muhammad Fariz Kautsar siswa kelas IX. Hanya saja, medalinya belum kami terima karena masih menunggu,” kata Guru Pembimbing SMP 1 Kudus Sri Winarni didampingi kedua siswa berprestasi tersebut di Kudus, Kamis (4/3/2021) dikutip, Senin (8/3/2021) dari situs merdeka.com yang juga mengutip dari Antara.

Peserta ajang AISEF yang digelar 18 Februari 2021 itu berjumlah 505 tim dari 20 negara. Pelaksanaan lomba berlangsung secara virtual melalui aplikasi zoom pada Kamis (18/2/2021).

Meskipun berlangsung secara virtual, namun kedua pelajar tidak boleh didampingi guru maupun orang tua sehingga keduanya benar-benar mempresentasikan penelitiannya itu sendiri serta menunjukkan bukti hasil penelitiannya berupa video proses pembuatan kefir.

Mirza Tsabita Wafa’ana mengungkapkan bahwa inovasi pemanfaatan kefir susu kambing etawa untuk bioterapi pemulihan operasi divertikulitis duodenum atau peradangan yang terjadi pada kantung-kantung yang terbentuk di sepanjang saluran percernaan, berawal dari keluhan teman ibunya yang mengalami gejala tersebut yang belum juga sembuh meski telah melakukan pengobatan.

Baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani