Inspiratif! Aiptu Paruhuman Rangkuti, Peternak Bebek Petelur Beromzet Rp16 Juta Perbulan

Busrah Ardan - Mediatani.co
  • Bagikan
Aiptu Paruhuman Rangkuti merupakan seorang polisi dan juga peternak bebek petelur/tangkapan layar Youtube Pos Kota/IST

Mediatani – Rasa pengabdian terhadap bangsa tak lantas menjadikannya meninggalkan usaha untuk mandiri secara ekonomi. Hal itulah yang dilakukan oleh Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) H Paruhuman Rangkuti, yang merupakan personel Polres Serang.

Aiptu Rangkuti pun kini sukses beternak bebek petelur. Warga Komplek Banten Lestari, Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang, Kota Serang, ini bisa dikatakan sosok pria yang tak kenal menyerah dalam dunia wirausaha.

Kesuksesannya itu merupakan buah dari beberapa kali dirinya gagal merintis usaha. Meski begitu tak menjadikannya putus asa.

Paling anyar, modal puluhan juta rupiah habis saat usaha budi daya ikan lele yang dikelolanya tidak membuahkan hasil.

Saat ini di luar jam tugasnya sebagai personil Satuan Intelkam, pada lahan seluas 400 meter persegi bekas budi daya ikan lele tidak jauh rumahnya di Kampung Lebaksilih, Kelurahan Unyur, Kota Serang, Aiptu Paruhuman Rangkuti pun menjalani usaha ternak bebek yang diberi nama “The Farm Warohmah”.

Siapa sangka, hanya berbekal pengetahuan yang didapat dari rekan, pria kelahiran Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara ini malah sukses berternak bebek.

Dengan ketekunannya memelihara bebek, dalam kurun waktu 2 tahun, Aiptu Rangkuti kini mampu meraup omzet mencapai Rp16 hingga Rp18 juta perbulannya.

“Jujur saja, saya tidak punya ilmu memelihara bebek tapi berkat bimbingan teman dan pengetahuan yang didapat dari google serta keyakinan yang kuat sekarang sudah dapat ilmunya,” ujar pria yang akrab disapa Rangkuti, melansir, Rabu (7/4/2021) dari situs bantennews.co.id.

Bapak dua anak ini menceritakan bahwa awalnya dirinya hanya membeli 300 ekor bebek seharga Rp70.000 per ekor.

Baca Juga :   Rekomendasi 6 Tanaman Merambat-menjuntai Cantik, Cocok untuk di Rumah

Selain membeli bebek, dia  juga menyiapkan biaya membeli pakan dan vitamin sekitar Rp7 juta untuk kebutuhan makanan ternak selama satu bulan. Untuk pakan bebek ini dibeli dari toko pakan serta dari penggilingan padi.

Rangkuti mengisahkan, dari 300 ekor bebek dirinya bisa menghasilkan paling sedikit 200 butir telur setiap harinya dan mampu meraih pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan.

Jumlah yang sebenarnya sudah melebihi gaji yang diterima sebagai anggota polisi setiap bulannya.

Meski demikian, ia tak lantas cepat berpuas diri. Keuntungan yang dia peroleh dikumpulkan dan kemudian dibelanjakan untuk mengembangkan usaha membeli bebek hingga mencapai 800 ekor.

Dengan bertambahnya bebek, otomatis belanja untuk pakan ternak juga bertambah menjadi sebesar Rp17.800.000 dalam kebutuhan selama satu bulan.

Namun produktifitas telur juga bertambah, saat ini dalam sehari jumlah telurnya rata-rata mencapai 600 butir.

“Alhamdulilah, sekarang dari 800 bebek sudah menghasilkan telur rata-rata 600 butir setiap hari dan saya bisa menyuplai ke agen telur bebek seharga Rp1.900 hingga Rp2.000/butir bahkan banyak pelanggan yang langsung datang ke kandang,”

“Omzet sekarang tidak kurang dari Rp16 juta per bulan,” tutur Rangkuti yang mengaku sudah mempekerjakan 2 orang warga setempat.

Baca Juga :   Pemerintah Harus Memanfaatkan Hasil Penelitian Bidang Perikanan

Menurut suami dari Hj Tri Silowati, S.Pd itu, faktor tempat dan pemeliharaan adalah hal yang penting dalam beternak bebek.

Sebab, jelas dia, jika stres karena tempatnya tidak nyaman, akan mengurangi produktifitas telur.

“Oleh karena itu, perlu disiapkan juga kolam buat mandi bebek, dan saluran air atau got untuk pembuangan air agar kandang tetap kering,” jelas dia.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga bersedia membagi tips kesuksesannya menjalankan bisnis peternakan bebek. Modal pertama yang harus dimiliki adalah tekad dan ketelatenan.

“Intinya, jangan kenal menyerah, jika ada kemauan pasti ada jalan dan bisa sukses. Untuk urusan modal tidak perlu merogoh kantong yang besar, tapi bisa dimulai dari kecil. Ingat pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit,” kata pria kelahiran 10 Desember 1975, ini.

Diakhir obrolan, pria yang dikenal murah senyum ini berharap usaha sampingan seperti yang dilakukannya bisa menjadi inspirasi rekan-rekan kerjanya untuk bekal di masa tua.

Terlebih yang mendekati masa purna bhakti (pensiun) dan tentunya tanpa mengganggu tugas utamanya sebagai abdi negara.

Ia pun berharap usaha ternak bebeknya bisa terus berkembang dan bisa lebih banyak lagi dengan harapan dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak lagi, khususnya masyarakat setempat. (*)

  • Bagikan