Intip Cara Warga Cukanggenteng Hasilkan Cuan Belasan Juta dari Olahan Ikan Pindang

Mheela Nisty - Mediatani.co
  • Bagikan
Pengolahan ikan pindang di Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung.

Mediatani – Ikan pindang merupakan makanan olahan ikan khas Indonesia yang sudah familiar di lidah dan cukup digemari berbagai kalangan masyarakat. Hal itu membuat ikan pindang ini menjadi bisnis yang cukup menjanjikan untuk dijalankan.

Salah satu yang memanfaatkan potensi pasar tersebut adalah Yais Rohman, pemilik Fatih Fish UMKM Pindang dari Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung.

Pengusaha ini mampu mengolah sebanyak 7 kwintal ikan cakalang atau tongkol, bandeng, dan layang yang dibelinya di Pasar Caringin Bandung untuk dijadikan ikan pindang. Paling cepat ikan olahannya itu bisa terjual selama 5 hari dan paling lama selama seminggu.

“Belanja ikannya seminggu sekali itu. Kalau abis, beli gitu we kan. Kan dagangnya nggak tetep, kadang naik kadang turun gitu. Paling cepat 5 hari, kalau paling lama seminggu. Tapi Alhamdulillah selalu laku,” ujarnya dilansir dari Detik.

Usaha olahan ikan pindang yang dijalankan Yais masih terbilang tradisional. Di belakang rumahnya, Ia dan suaminya mengolah ikan dengan menggunakan bambu sebagai bahan bakar untuk merebus ikan-ikan tersebut dan menggunakan pengawet alami berupa garam kasar.

Yais mengungkapkan bahwa dirinya hanya membutuhkan waktu selama satu hari dari pagi sampai sore untuk mengolah ikan. Selanjutnya, dia dan suaminya tinggal menjual ikan pindang yang sudah jadi. Selain dirinya, ia mengatakan banyak warga Desa Cukanggenteng lainnya yang juga menjalankan bisnis ikan pindang ini. Bahkan, Desa Cukanggenteng dikatakannya telah menjadi sentra ikan pindang.

Baca Juga :   PTPN V Kucurkan Bantuan Modal ke Desa Lumbung Ayam Pedaging Riau

“Itu udah dari dulunya disebut kaya gitu. Mungkin usaha masyarakatnya banyak yang jualan pindang gitu dari dulunya. Terus (emang pasarnya banyak) gitu di Bandung mah ikan pindang, (biasanya) dimasak-masak (dibikin) balado gitu (ikannya),” ungkapnya.

Menurutnya, karena pengolahannya hanya memakan waktu satu hari, banyak warga Desa Cukanggenteng yang juga menjalankan usaha atau profesi lain selain bisnis ikan pindang, ada yang bekerja sebagai petani dan ada juga yang menjalani profesi lainnya.

Untuk proses pengolahannya, ikan yang akan dipindang terlebih dahulu harus dicuci. Setelah bersih, ikan disusun sesuai jenisnya masing-masing dalam sebuah wadah kemudian diberikan garam. Setelah itu, ikan direbus selama 6-8 jam.

Pada saat ikan direbus, wadah ditutup dan diberikan garam kasar yang padat. Cara tersebut berfungsi sebagai pengawet alami. Di belakang rumahnya itu, Yais memiliki hingga 20 tungku untuk memindang ikan-ikan tersebut.

Baca Juga :   Kisah Perempuan Pencari Kerang yang Melestarikan Kearifan Lokal di Hutan Bakau Jayapura

Yais mengatakan jika ikan tidak direbus dengan waktu dan pemberian garam yang kurang maksimal, hal itu akan membuat ikan pindang tak tahan lama. Setelah direbus, ikan tersebut ditaruh di atas daun pisang atau kertas makanan dan selanjutnya siap untuk dipasarkan.

Yais menjelaskan ikan pindang buatannya tersebut biasanya akan dijual di Pasar Ciwidey dan Soreang. Selain di pasar, ia juga menjualnya melalui pedagang keliling dari rumah ke rumah.

Untuk harga jualnya, ia mengatakan harga ikan pindang dengan jenis cakalang dijual seharga Rp 60 ribu per kg. Sedangkan untuk ikan bandeng dan layang biasanya dijual per ekor seharga Rp 5.000 atau Rp 6.000 tergantung ukuran ikan. Dari hasil jualan ikan pindangnya itu, ia menyebut bisa mencapai omzet hingga Rp 15 juta per minggunya.

Modal awal yang digunakan untuk memindang 7 kwintal ikan per minggunya, dia membutuhkan sekitar Rp 12 juta. Itu berarti, Yais bisa mendapat untung sekitar Rp 3 juta per minggu atau sekitar Rp 12 juta per bulannya dari bisnis ikan pindang yang dijalankannya. Ia pun berharap bisnis ikan pindangnya semakin dikenal masyarakat dan bertekad untuk menjangkau pasar internasional.

  • Bagikan