ITS Siap Luncurkan Ocean FarmITS, Akuakultur Berkonsep Ekowisata Bahari Terapung

  • Bagikan
Dr Eng Yeyes Mulyadi ST MSc selaku Ketua Tim Ocean FarmITS saat memberi penjelasan pada soft launching Ocean FarmITS di Malang pada Februari 2020.

Mediatani – Sebagai salah satu kampus yang bertekad untuk memajukan sektor maritim Indonesia, Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya melalui tim dosen Departemen Teknik Kelautan dan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) ITS akan segera meluncurkan inovasi Ocean Farm.

Terobosan ini rencananya akan diaplikasikan di wilayah Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap. Setelah itu, inovasi berupa Keramba Jaring Apung ini juga akan dikembangkan di Teluk Sidoasri, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Dilansir dari Sariagri, Rabu, (17/2), Ketua Tim Ocean FarmsITS, Dr Eng Yeyes Mulyadi ST MSc mengatakan bahwa dua lokasi diletakkannya Keramba Jaring Apung (KJA) ini akan mengembangkan komoditas unggul yakni ikan tuna.

Yeyes menuturkan inovasi Ocean FarmITS ini adalah suatu bangunan budidaya ikan (akuakultur) sekaligus ekowisata bahari terapung yang pertama di Indonesia. Sehingga, selain memiliki aspek akuakultur, Ocean FarmITS juga berkonsep pariwisata yang menawarkan edutoursim, dimana para wisatawan dapat belajar mengenai akuakultur ikan tuna di laut.

“Ke depan kami juga akan mengembangkan paket wisata, restoran di tengah laut, paket penyelam, paket menginap, dan lainnya,” ungkapnya.

Yeyes mengatakan, sebelumnya telah dilaksanakan soft launching pada Februari 2020 lalu, namun karena adanya pandemi membuat proyek ini menemui beberapa kendala, mulai dari adanya pembatasan tenaga kerja di lapangan hingga beberapa komponen yang tidak bisa diimpor.

Tak tanggung-tanggung, menurut Yeyes, proyek yang turut disokong oleh PT Pertamina ini telah menghabiskan dana sekitar Rp1,3 miliar. Selain itu, beberapa pihak yang juga ikut berkolaborasi pada proyek ini, yaitu Teknik Kelautan, Biologi, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual (DKV), dan Teknik Industri.

Baca Juga :   Menanti Saat Berbuka Puasa dengan Menikmati Sensasi Terapi Gigitan Ikan

Yeyes menjelaskan bahwa KJA ini terdiri dari beberapa komponen, salah satunya yaitu komponen pengapung yang berperan penting terhadap struktur bangunan karena berfungsi untuk meredam getaran ombak. Menurutnya, komponen tersebut akan dirakit di pantai dekat lokasi dan dibawa langsung ke titik yang sudah ditentukan.

Yeyes menyampaikan saat pengerjaan proyek Ocean FarmITS ini sudah mencapai 95 persen. Selain itu, nama Ocean FarmITS juga telah didaftarkan untuk Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dan desain industri produk serta merek dagang.

“Insya Allah mendekati Maret atau April mendatang akan launching ke publik,” tandasnya.

Rencananya, Tim Ocean FarmITS  akan melakukan launching ke publik secara hybrid antara online dan offline. Sehingga, hanya beberapa kru saja yang melakukan perakitan di lapangan, dan para pemangku kepenting mengikutinya secara online.

“Semoga acara launching Ocean FarmITS ini ke depannya dapat berjalan dengan lancar,” pungkasnya.

Latar belakang dibuatnya Ocean FarmITS

Pada acara Soft Launching beberapa waktu lalu, salah satu tim dosen, Nur Syahroni ST MT PhD, memaparkan bahwa terobosan inovasi Ocean FarmITS ini berangkat dari masalah turunnya hasil tangkap nelayan di sekitar Teluk Sidoasri, Malang. Salah satu lokasi yang akan menjadi tempat diletakkannya Karamba Jaring Apung (KJA) ini, menurutnya, berpotensi untuk melakukan budidaya ikan laut besar.

Baca Juga :   KKP Sarankan Budikdamber Untuk Ketahanan Gizi Masyarakat

Selain dari aspek akuakultur dan pariwisata, Roni mengatakan bahwa Ocean FarmITS juga dirancang dengan mempertimbangkan timbulnya masalah lingkungan akibat pencemaran sisa pakan ikan hasil budidaya. Selain itu, KJA yang dirancang di lepas pantai (offshore) ini juga mampu bertahan stabil menghadapi kondisi laut yang terbilang ekstrem.

“Ditambah lagi, bangunan offshore seperti ini merupakan ilmu utama yang dipelajari di departemen kami (Teknik Kelautan ITS, red),” ujarnya.

Roni menjelaskan bahwa proyek ini merupakan lanjutan dari rintisan Pusat Studi Kelautan ITS sebelumnya. Sebagai orang yang memimpin pusat studi tersebut, Roni menggagas proyek ini bersama rekan jurusannya pada tahun 2016 dan mulai masuk ke tahap perancangan pada tahun 2017.

Namun, lanjutnya, karena proyek Ocean FarmITS tersebut perlu andil multidisiplin keilmuan, maka penggarapannya dilakukan oleh beberapa departemen di bawah pusat studi.

Roni dan tim percaya jika proyek ini akan memberi dampak positif, baik untuk ITS sendiri maupun  masyarakat sekitar. Dengan menonjolkan konsep budidaya dan wisata, proyek ini ditargetkan harus melibatkan masyarakat di wilayah sekitar pantai (Sidoasri). Sehingga, perekonomian masyarakat juga dapat semakin membaik.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani