Kembangkan Teknologi Pertanian, Kementan Aplikasikan Kecerdasan Artificial

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo

Mediatani – Sektor pertanian yang mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19 ini, tidak lepas dari bantuan teknologi pertanian yang kini berkembang pesat dalam membantu industri pertanian.

Berkembangnya teknologi pertanian tersebut juga sangat membantu semua pihak yang terlibat dalam industri pertanian. Salah satu inovasi teknologi yang cukup membantu dalam sektor pertanian adalah Artificial Intelligence (AI).

Kementerian Pertanian (Kementan) sendiri telah mulai menjalankan pengembangan AI dalam sektor pertanian sejak era kepemimpinan Mentan Syahrul Yasin Limpo. Kementan turut andil dalam mengembangkan AI karena ketahanan pangan menjadi prioritas target pemenuhan AI sampai dengan 2045.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Suwandi dalam diskusi di kegiatan Artificial Intelligence Summit 2020 (AIS 2020) yang diselenggarakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 10-13 November 2020.

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai ajang unjuk kemampuan pada masyarakat global akan kemampuan komponen bangsa Indonesia dalam mengembangkan teknologi kecerdasan artifisial dan untuk menunjukan berbagai produk Inovasi dalam kecerdasan artifisial di Indonesia.

Maka dari itu, untuk meningkatkan produktivitas bagi bisnis dan efisiensi investasi sumberdaya manusia di Indonesia, perlu dilakukan pengembangan Kecerdasan Artificial (KA). Kecerdasan Artifisial (KA) ini sejalan dengan quickwin dan Roadmap Stranas BPPT.

Suwandi menuturkan beberapa hal yang berbasis teknologi telah diterapkan Kementan antara lain pemanfaatan satelit citralandsat-8 dan sentinel-2 dari LAPAN untuk memonitor perkembangan pertanaman padi dengan tingkat resolusi tinggi.

“Kami ada ruang kendali pusat data pertanian sampai tingkat kecamatan, disebutnya Agriculture War Room atau AWR,” sebut Suwandi.

Secara rinci, data dan informasi dari sensor, data sekunder, primer maupun laporan langsung dari petani terkirim pada AWR sebagai komando strategis nasional (kostranas) di bawah kendali Menteri Pertanian yang terkoneksi secara online dengan kostratani di BPP kecamatan, kostrada dibawah Bupati/walikota di Distan Kabupaten maupun Kostrawil dibawah Gubernur berada di Distan Provinsi, langsung direspon dan ditindaklanjuti di lapangan.

Suwandi menyebut kini saatnya memanfaatkan citra satelit, radar, drone, CCTV untuk memonitor kondisi pertanian. Data-data yang dirilis BMKG dipantau rutin untuk antisipasi dini terhadap perubahan iklim bisa berupa banjir, kekeringan dan lainnya.

Data-data dan informasi ini penting diolah dengan KA dijadikan sebagai bahan early warning system (EWS) Data dan informasi yang diperoleh diolah dengan KA dan diproses menjadi rekomendasi tindaklanjut.

“Misalnya dari data tersebut ditemukan pertanaman sedang terserang tikus atau terkena banjir, maka dapat dengan cepat direspon dan ditindaklanjuti dengan gerakkan brigade yang ada di lapangan. Saat ini sudah terbentuk brigade La Nina, Brigade Tanam, Brigade hama penyakit, maupun Brigade panen,” sebut Suwandi.

Untuk mempermudah akses teknologi, banyak aplikasi yang saat ini sudah diterapkan seperti Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu (SI Katam Terpadu) yang memuat informasi penting seputar tanam padi, Siperditan yang memuat peringatan dini dan penanganan dampak perubahan iklim pada sektor pertanian, serta Sarita sebagai sistem informasi pelaku agribisnis tanaman pangan.

Selain itu, penggunaan drone yang selama ini digunakan sebagai alat untuk memantau pertanaman, juga dapat menyebar benih, menabur pupuk dan menyemprot pestisida.

Kemudian untuk melakukan penyiraman air pada tanaman, teknik sprinkel maupun irigasi tetes sudah diperkenalkan dengan autonomus dan untuk kegiatan tertentu dibantu dengan robotik.

Di tempat sama Asril Jarin dari BPPT menyebutkan strategi nasional pemerintah bidang Artificial Intelligence(Kecerdasan Artifisial/AI)  yakni bidang pendidikan dan riset, kesehatan, mobilitas (smart city), ketahanan pangan dan reformasi birokrasi menjadi area prioritas ditargetkan untuk dipenuhi sampai 2045.

Dalam bidang ketahanan pangan, Sistem Kecerdasan Artifisial direncanakan untuk memprediksi panen tanaman per wilayah. Pengembangan Sistem Prediksi panen padi akan memanfaatkan citra satelit dengan Sistem prediksi lokasi lahan tanam yang cocok, jenis varietas yang cocok untuk lahan tertentu termasuk prediksi hasil panen dengan menggunakan kecerdasan artifisial guna membantu analisa dan perhitungan potensi pencapaian dan optimalisasi target produksi dari tanaman-tanaman di daerah-daerah.

“Sistem ini dikembangkan melalui pemprosesan gambar dari foto-foto yang diambil dari udara atau satelit termasuk pengolahan data-data kualitas gelombang sinar matahari, benih tanaman dan lahan pada laboratorium. Sistem akan menggabungkan informasi-informasi lain, seperti: kualitas tanah, cuaca setempat, dan pemilihan teknologi otomatisasi,” ujar Asril.

Selain untuk memprediksi hasil panen, hasil olah data serta gambar-gambar yang diambil dari udara dan satelit dapat juga diolah untuk memberikan informasi wilayah tanaman atau peruntukan tanaman tersebut.

Baca Juga  Inilah 3 Kontribusi Penting Teknologi Industri Pertanian di Bidang Peternakan
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Artikel Terbaru