Keren, Ekspor Tanaman Hias RI Tetap Tumbuh Meski Pandemi

  • Bagikan
Sumber foto: antaranews.com

Mediatani РLembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/ Indonesia Eximbank) telah mencatat bahwa di tahun 2021 ini, ekspor tanaman hias Indonesia berhasil mengalami pertumbuhan positif meski pandemi masih terus melanda.

Berdasarkan data dari LPEI, ditahun 2021, nilai ekspor tanaman hias Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan hingga 96,79% yoy mencapai US$17,79 juta. Diikuti dengan pertumbuhan volume yang besarnya mencapai 62,31% yoy menjadi 5,30 ribu ton.

Kepala Divisi Indonesia Eximbank Rini Satriani mengatakan bahwa pertumbuhan yang terjadi di tahun 2022, tidak akan sebesar tahun sebelumnya. Hal ini karena adanya faktor high based effect, yang di tahun 2020 pertumbuhan melonjak tinggi seiring dengan pemulihan ekonomi global yang mulai membaik.

“Ekspor tanaman hias tahun 2022 diproyeksikan naik tipis sekitar 1-2% secara yoy melanjutkan pertumbuhan positif. Meski, tidak setinggi tahun sebelumnya yang naik 96,79% yoy,” kata Rini dilansir dari laman cnbcindonesia.com, pada Rabu (16/2/22).

Rini menjelaskan bahwa percepatan perluasan vaksinasi turut memberi katalis positif bagi pasar global tanaman hias. Meski demikian, lanjut Rini, penyebaran virus varian Omicron kembali menekan dan memicu kekhawatiran akan kembali membuat pemulihan ekonomi global menjadi lambat.

Baca Juga :   Masyarakat di Tasikmalaya Bertahan Selama Pandemi dengan Budidaya Ikan Nila dan Lobster

Termasuk pada ekspor tanaman hias Indonesia. Berdasarkan data LPEI, ada sepuluh tujuan ekspor utama produk tanaman hias Indonesia yang tercatat sepanjang tahun 2021.

Selama periode Januari-September 2021, tercatat bahwa Jepang menjadi negara tujuan ekspor utama tanaman hias asal Indonesia dengan pangsa sebesar 32,23 persen. Lalu diikuti oleh Singapura 15,55 persen, Amerika Serikat 13,12 persen, Belanda 13,03 persen, dan China 5,60 persen.

Sementara itu, peningkatan nilai ekspor tanaman hias pada periode bulan Januari-September 2021 mampu dicatatkan oleh Jepang yaitu sebesar 31,72 persen (yoy) menjadi 3,47 juta dolar AS yang didorong oleh ekspor produk lumut mosse dan lichen.

“Antara lain Jepang dengan porsi ekspor sebesar 26,84%, diikuti dengan Singapura (19,14%), Belanda (13,56%), Amerika Serikat(12,90%), China (4,75%), Korea Selatan (3,97%), Australia (3,75%), Thailand (3,44%), Malaysia (3,01%), dan Kanada (1,78%),” ungkapnya.

Baca Juga :   Korea Utara Hadapi Krisis Pangan Terparah, Harga Teh Mencapai Rp1 Juta Per Kantong

Sementara ekspor ke negara Malaysia dan Thailand mengalami penurunan terdalam. Masing-masing minus 19,34% yoy menjadi US$611,65 ribu untuk Thailand dan turun 16,14% yoy menjadi US$534,91 ribu untuk Malaysia.

“Penurunan ekspor ke Thailand didorong oleh berkurangnya permintaan akibat penguncian wilayah yang ketat pada awal tahun 2021. Awal tahun itu kan ada perayaan hari Valentine,” ungkapnya.

Berdasarkan jenis, tanaman hias lainnya yang meliputi tanaman cangkok dan tanaman genus Hevea berhasil mendominasi pangsa ekspor tanaman hias Indonesia hingga 56,84%, setara dengan US$10,54 juta, diikuti dengan Lumut Moss dan Lichen sebesar 21,22% (US$3,94 juta), serta Bunga dan Kucup Bunga Potong Segar (13,36% setara dengan US$2,48 juta).

Sebagai informasi tambahan, komponen ekspor tanaman hias Indonesia didominasi oleh berbagai produk bunga dan kuncup bunga potong segar dengan porsi yaitu sebesar 26,92 persen, diikuti oleh lumut mosse dan lichen sebesar 22,54 persen serta berbagai tanaman hias jenis lainnya sebesar 50,53 persen.

  • Bagikan