Konflik Ukraina Berdampak pada Ketahanan Pangan, Ini Peringatan dari FAO

  • Bagikan
Sumber foto: jurnas.com

Mediatani РKepala ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa, Maximo Torero memperingatkan akan dampak dari konflik Rusia-Ukraina terhadap ketahanan pangan dunia pada Rabu (16/3/22).

Menurutnya, saat ini telah dilakukan simulasi untuk menilai dampak potensial yang terjadi pada harga pangan internasional yang disebabkan oleh pengurangan ekspor sereal dan minyak nabati karena konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.

Dilansir dari laman msn.com, Maximo Torero kepada wartawan di Markas Besar PBB, New York mengungkapkan, berdasarkan nilai dasar yang sudah meningkat, harga gandum akan meningkat sebesar 8,7 persen dalam skenario guncangan sedang dan 21,5 persen dalam skenario guncangan berat.

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditi jagung, yakni sebesr 8,2 persen dalam kasus sedang dan 19,5 persen dalam kondisi yang parah. Sementara harga untuk biji-bijian kasar juga naik  7 hingga 19,9 persen, dan minyak sayur mencapai 10,5-17,9 persen.

Dalam skenario moderat, dampak konflik tersebut secara global terhadap ketahanan pangan bisa mengakibatkan jumlah orang yang kekurangan gizi meningkat sebesar 7,6 juta orang. Menurut Torero, tingkat ini sementara akan mengalami peningkatan hingga 13,1 juta orang dalam keadaan guncangan berat.

Selain itu, kata Torero, tekanan terhadap kenaikan harga pupuk tambahan yang berasal dari gangguan dan biaya transportasi yang termasuk tinggi menyusul pemberlakuan pembatasan ekspor dan karena kenaikan tajam tarif angkutan curah dan peti kemas yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

Harga pangan internasional telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa, bahkan ketika konflik di Ukraina belum terjadi. Indeks Harga Pangan FAO rata-rata 140,7 poin di Februari, naik 3,9 persen dari Januari, dan 20,7 persen di atas levelnya setahun sebelumnya.

Pada tahun 2021, Rusia dan Ukraina merupakan negara yang berada di peringkat teratas pengekspor gandum, rapeseed, jagung, biji bunga matahari, dan minyak bunga matahari. Untuk bagiannya, Rusia juga menjadi negara pengekspor pupuk nitrogen terbesar di dunia dan pemasok pupuk kalium dan fosfor terbesar kedua.

Secara keseluruhan, hampir lima puluh negara bergantung pada Rusia dan Ukraina untuk lebih dari tiga puluh persen kebutuhan impor gandum mereka. Dari jumlah tersebut, 26 negara bergantung pada kedua negara untuk lebih dari lima puluh persen kebutuhan impor gandum mereka.

Gandum merupakan makanan pokok bagi lebih dari 35 persen populasi yang ada di dunia. Menurut Torero, krisis tersebut menjadi tantangan terhadap ketahanan pangan oleh banyak negara, terkhusus untuk negara-negara yang berpenghasilan rendah, yang hanya bergantung pada impor pangan, dan populasi yang rentan.

Di sektor gandum dan meslin, Rusia merupakan negara pengekspor gandum global teratas. Rusia telah mengirimkan sebanyak 32,9 juta ton gandum dan meslin, atau setara dengan 18 persen pengiriman global pada tahun 2021.

Pada tahun 2021, Ukraina merupakan pengekspor gandum terbesar kelima di dunia. Ukraina telah mengekspor kurang lebih 20 juta ton gandum dan meslin dan dengan pangsa pasar global 10 persen.

  • Bagikan