Banner Iklan @a2tani.id

Krisis Bahan Baku Ancam Budaya Pembuatan Kapal Pinisi

  • Bagikan
Jurnal Celebes gelar diskusi bareng Jurnalis di Makassar, Sabtu, 19/6/2021/mediatani.co/ard

Mediatani – Direktur JURnaL Celebes Mustam Arif mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap krisis bahan baku kayu Bitti yang dapat mengancam budaya pembuatan kapal Pinisi.

Apalagi hal ini berkaitan dengan budaya dan tradisi orang Bugis dalam pembuatan kapal Pinisi.

Banner Iklan @a2tani.id

Hal itu dinilainya, juga ada dilematis karena kayu yang menjadi bahan baku kapal Pinisi mulai terkikis dan berkurang stoknya.

“Kayu utama itu kayu Bitti. Problemnya untuk mendapatkan kayu Bitti yang bagus itu usianya harus mencapai 30-40 tahun. Dan kita tidak bisa bergantung dengan ini terus karena pasti habis,” kata Mustam Arif dalam pertemuan dengan jurnalis di Makassar Sabtu 19 Juni.

Dia mengungkapkan, ketika persediaan kayu habis, apakah industri kapal Pinisi akan bertahan? Bisa, jika ada solusi, ungkapnya.

“Teman-teman memang mengusulkan budidaya atau ada program konservasi. Meski akan lama tapi harus dilakukan. Karena jangan sampai Pinisi akan tinggal nama. Kita pernah ke sana dan berbicara dengan para pembuat kapal, mereka bahkan memperkirakan 10 sampai 15 tahun ke depan sudah tidak ada lagi, kolaps,” sebut Arif.

Ditambah, jika persediaan kurang, bisa jadi para penerus akan beralih profesi akibat tidak adanya lagi bahan baku. Kultur baharinya pun dipastikan semakin tergerus.

Dari informasi itu, pihaknya berharap ada program budidaya dengan rekayasa genetik yang canggih bisa menjadi solusi dalam persediaan kayu Bitti ini.

Baca Juga :   Mentan Syahrul Yasin Limpo Buat Pesan Untuk Mahasiswa Indonesia

“Jika ada rekayasa gen itu bagus. Jadi, seperti, memperpendek usia panen kayunya,” harapnya.

Sementara itu, dia menambahkan permintaan kapal Pinisi terhadap dunia pariwisata semakin tinggi, apalagi orientasi pariwisata saat ini memiliki aspek tradisional.

Bukan hanya permintaan antar pulau, lanjut dia, ternyata permintaan dari luar negeri pun hampir setiap tahun terus ada.

“Industri Pinisi di Bulukumba itu memang memasok permintaan dari mana saja. Seperti halnya pariwisata bahari di Labuhan Bajo, Raja Ampat itu kan ada kapal Pinisi-nya. Bahkan ke Sumatera, Malaysia. Justru sekarang banyak dari Eropa dan kawasan Asia tenggara,” jelasnya.

Sukardi, salah seorang pelaku industri kayu di Bulukumba yang terkait dengan pembuatan perahu, menyatakan saat ini ada keprihatinan kalangan pembuat pinisi.

Dia bilang, suatu ketika kemungkinan pinisi yang tersohor sebagai produksi kebudayaan Bugis tersebut kemungkinan hanya tinggal nama.

Setelah Kayu Bitti berkurang di Bulukumba, pembuat pinisi mendapatkan pasokan dari daerah lain di Sulawesi Selatan.

Tetapi, ketika daerah lain di Sulsel juga kesulitan, pembuat perahu

mendatangkan dari Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Maluku, Maluku Utara dan Papua.

Pihaknya berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan perlu memikirkan keberlanjutan perahu pinisi berbahan baku kayu.

Lokakarya JURnaL Celebes, Pelaku Industri Kayu Meminta Bantuan Pemerintah

Selain berkurangnya bahan baku pembuatan kapal Pinisi, kondisi pandemi saat ini juga membuat banyak pelaku industri kayu menjerit.

Baca Juga :   Pemprov Sulsel Siapkan 5.000 Hektare Lahan di Seko Luwu Utara sebagai Pusat Peternakan Terintegrasi  

Para pelaku industri kayu di Sulawesi Selatan mengharapkan pertolongan pemerintah agar diberikan bantuan modal, akses pasar, keterampilan inovatif dan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).

Hal ini disampaikan oleh pihak JURnaL Celebes atau Perkumpulan Jurnalis Advokasi Lingkungan – Jaringan Pemantau Independen Kehutanan Wilayah Sulawesi Selatan pada Hari Sabtu (19/6/2021) lalu.

Sebagai bahan penilaian kondisi hutan, JURnal Celebes melakukan program pemantauan hutan dan peredaran kayu di Sulawesi Selatan.

Harapannya dengan penilaian tersebut harapannya dapat diketahui apakah kondisi ini akan berdampak ganda seperti ancaman kelanjutan industri kayu, serta upaya penegakan hukum dan regulasi tata kelola kehutanan berkelanjutan.

Menilai kondisi tersebut, JURnaL Celebes berharap agar pemerintah dapat mengambil langkah strategis dan bukan hanya insentif jangka pendek selama masa pandemi.

Sebab, hal yang membuat industri kayu bisa bertahan dan bangkit adalah tersedianya bahan baku yang legal berkelanjutan.

Direktur JURnaL Celebes, Mustam Arif mengatakan bahwa dari hasil 25 industri kayu besar, sedang, dan kecil, yang dipantau, tidak satu pun yang mendapatkan batuan insentif pemerintah bagi UMKM di masa pandemi.

“Industri kehabisan modal dan kesulitan memperoleh bahan baku. Tetapi di sisi lain kami juga menemukan kejahatan pembalakan liar meningkat signifikan di masa pandemi. Jangan sampai industri kayu bangkrut, sementara hutan kita pun habis,” lanjutnya…baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

Banner Iklan Mediatani
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani