KUR BRI Berhasil Bantu Kelompok Peternak di Gerung Tingkatkan Omzet

  • Bagikan
Salah satu peternak penggemukan sapi yang tergabung pada kelompok peternak di Gerung Lombok Barat sedang memberikan makan ternaknya. (Foto: Istimeswa)
Salah satu peternak penggemukan sapi yang tergabung pada kelompok peternak di Gerung Lombok Barat sedang memberikan makan ternaknya. (Foto: Istimeswa)

Mediatani –  Bank BRI terus berkomitmen menjadi penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) seluas-luasnya pada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di berbagai sektor termasuk peternakan.

Salah satu yang merasakan manfaat KUR tersebut adalah para anggota kelompok peternak sapi Reyan Baru di Gerung, Lombok Barat.

Kelompok peternakan ini bergerak di bidang penggemukan sapi yang menjadi salah satu klaster Hidupku binaan BRI unit Gerung. Mereka langsung menggunakan dana KUR BRI itu untuk membeli sapi-sapi indukan.

Ketua kelompok peternak Reyan Baru Sudirman mengaku bahwa awalnya, sapi yang ada di kelompok ternak ini berjumlah 89 ekor milik 18 orang peternak. Dalam kurun waktu tiga bulan saja, populasi ternak meningkat hingga mencapai lebih dari 160 ekor dengan peternak sebanyak 127 orang.

KUR yang diberikan oleh Bank BRI kepada masing-masing peternak berbeda-beda mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 150 juta.

Menurut Sudirman, bisnis peternakan utamanya penggemukan sapi masih memiliki prospek yang cerah karena memiliki nilai ekonomi tinggi, jika dikelola dengan manajemen secara baik dan benar. Karena itu, peternak  berpeluang mendapat penghasilan guna meningkatkan kesejahteraannya.

Baca Juga :   Mendadak Kaya, Ratusan Petani di Desa Sumurgeneng Beli Mobil Mewah

“Masyarakat di sini makin antusias beternak karena suntikan modal KUR dari BRI,” kata Sudirman dikutip dari  lombokpost.jawapos.com, Selasa (2/11).

Adapun jenis sapi yang dipelihara untuk digemukkan dan diternakkan, yakni sapi Brangus dan Limosin. Kelompok peternakan sapi Reyan Baru di Gerung memilih jenis ini, sebab keuntungan yang diperoleh dalam beternak sapi luar lebih besar dibanding sapi lokal.

Selain berat badannya, harga juga menjadi penilaian. Di mana rata-rata harga sapi brangus dan Limosin berkisar Rp 20-27 juta, sedangkan sapi lokal harganya hanya mencapai Rp 14-20 juta saja.

Perbedaan lainnya yaitu indukan sapi kecil jenis Bali saat dikawinkan harga anaknya tak lebih dari Rp 5 juta. Berbeda dengan anakan sapi limosin dan brangus yang baru lahir, harganya bisa terjual hingga puluhan juta.

Sudirman mengakui bahwa keuntungan yang didapatkan dalam beternak dan penggemukan sapi bisa mencapai Rp 200 juta per bulan.

Baca Juga :   Restoran Apung Ekas, Tempat Menikmati Sensasi Makan di Atas Laut Lombok Timur

Terkait prospek pasar penggemukan sapi, para peternak biasa menjual sapi-sapinya di Pasar Hewan Mangkung, Pasar Hewan Selagalas Lombok Tengah hingga Pasar Hewan Masbagik, Lombok Timur.

Adrian, salah satu peternak yang menjadi nasabah KUR BRI juga mengaku mendapatkan pinjaman Kupedes sebesar plafon Rp 150 juta.

Kupedes BRI merupakan kredit yang bertujuan untuk mengembangkan atau meningkatkan usaha mikro yang layak, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan debitur.

Sejak tahun 2010, Adrian menjadi nasabah BRI dan kini telah menambah jumlah sapinya untuk meningkatkan omzet penjualan. Saat ini ia sudah memiliki empat ekor sapi yang terdiri dari dua limosin dan dua lokal.

Selain Adrian, Bank BRI juga memberikan modal berupa dana KUR ke peternak lainnya dengan tujuan  membantu mengembangkan bisnis teman sesama anggota kelompok sapi tersebut.

“Kelompok ternak ini didirikan pada 2010, awalnya 18 orang dan sekarang sudah 127 orang. Peminatnya makin banyak apalagi ini ada BRI masuk membantu modal teman-teman untuk beli sapi, jadi makin antusias,” pungkas Adrian.

  • Bagikan