Home / Inovasi

Minggu, 28 Juni 2020 - 07:42 WIB

Lahan Tani Ideal dari Bebatuan yang Dihancurkan

Mediatani – Tanah yang ideal untuk tanaman yaitu tanah di sekitar gunung berapi. Hal tersebut dikarenakan abu dan endapan meletus dari gunung berapi dalam aliran piroklastik, endapan ini lah yang kemudian cepat terurai di tanah sekitarnya dan membentuk kotoran kaya mineral sehingga membuat tanah menjadi subur.

Sebuah penelitian baru telah menemukan bahwa petani dapat menambahkan batu yang dihancurkan ke tanah pertaniannya guna meniru efek kaya mineral dan juga karbon dioksida. Mereka melepaskan nutrisi penting dan menciptakan kondisi ideal untuk pertanian saat bebatuan larut dalam tanah.

Temuan yang dipublikasikan oleh jurnal Nature Plants ini merupakan studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Sheffield dan tim ilmuwan internasional. Penelitian ini merupakan yang pertama dari jenisnya yang menyarankan tanah kaya mineral sebagai solusi untuk membantu mengurangi emisi karbon. 

Penulis utama penelitian, David beerling mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya telah lama mengetahui bahwa dataran vulkanik subur adalah tempat yang ideal untuk menanam tanaman tanpa memberi efek kesehatan yang buruk. Namun, sampai sekarang hanya ada beberapa orang yang mempertimbangkan lebih lanjut tentang bagaimana menambahkan batu ke tanah yang ternyata dapat menangkap karbon.

Baca Juga :   Air Got dan Comberan Jadi Pupuk Tanaman, Emang Bisa?

Penambahan endapan batuan silikat yang bekerja cepat, seperti basal yang dihancurkan ke tanah pertanian adalah kunci dari penelitian ini. Mineral akan menambah penghalang terhadap hama dan penyakit dan membantu dalam penangkapan karbon.

Pelapukan batuan yang disempurnakan ini juga memberi beberapa manfaat lain yaitu metode ini tidak akan menghilangkan lahan pertanian yang mungkin atau membuat tekanan pada sumber daya air.

Batuan silikat dapat ditambahkan ke tanah apa pun, tetapi penelitian menunjukkan bahwa tanah subur yang bisa dibajak untuk tanaman adalah tempat yang optimal untuk memulai. Beberapa pertanian yang sebelumnya juga sudah menambahkan batu kapur yang dihancurkan ke tanah, sehingga bahan dan peralatan yang diperlukan untuk mencoba pelapukan batuan ini sebenarnya sudah tersedia.

Baca Juga :   Sudah Layakkah Petani Indonesia Beralih ke Padi Hidroponik?

Pelapukan batuan yang ditingkatkan dapat membantu memastikan keamanan pangan global di masa depan dan menyediakan outlet baru untuk menyerap karbon.

Penelitian tentang strategi menghilangkan CO2 secara aktif ini memberi dampak besar dan diadaptasi dengan sangat cepat karena dapat memoderasi adanya perubahan iklim yang besar dimasa depan akibat pengurangan jumlah CO2 yang masuk ke atmosfer akibat pembangkitan energi.

Para peneliti berharap metode ini dapat digunakan untuk membuat tanah nutrisi yang membantu mengurangi dampak perubahan iklim.

James Hansen dari Earth Institute di Columbia University yang juga penulis dari penelitian ini menyebutkan bahwa strategi untuk mengeluarkan CO2 dari atmosfer sekarang ada dalam agenda penelitian, dan mereka membutuhkan penilaian realistis dan juga saran tentang apa yang mungkin dapat mereka lakukan dalam menghadapi tantangan yang ada.

Share :

Baca Juga

Inovasi

Inovasi Kelautan dan Perikanan: Mie Kristal Rumput Laut sebagai Pangan Alternatif
Mahasiswa IPB yang menjadi pemasar ulat hongkong (Foto : Abdul Mujib)

Berita

Mahasiswa IPB Pasarkan Ulat Hongkong Di 12th Agrinex

Inovasi

Jimmy Hantu: Tanah Indonesia Rusak Karena Genosida Ecology

Inovasi

Canggih, Tanaman Ini Bisa Usir Asap Rokok Di Rumah

Inovasi

Cara Baru Menanam Bawang Putih di Rumah
pemanfaatan tata air (ilustrasi)

Agribisnis

Minimalkan Dampak Perubahan Iklim, Kementan Galakkan Rekayasa Ketersediaan Air

Inovasi

Buah Markisa Ternyata Juga Memiliki Banyak Manfaat Lho!

Inovasi

Tanaman Kakao Terancam Punah, Ilmuwan Siapkan Strategi Penyelamatan