Home / Berita / Nasional / Peternakan

Jumat, 22 Januari 2021 - 18:49 WIB

Mahasiswa-Masyarakat Budidaya Indigofera, Pakan Ternak Alami & Berprotein Tinggi

bibit tanaman indigofera /ist

bibit tanaman indigofera /ist

Mediatani – Mahasiswa Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen melakukan penanaman dan membudidayakan tanaman indigofera yang merupakan jenis tanaman kacang-kacangan dan rumput untuk pakan ternak di kawasan Beunyot, Juli Bireuen.

Budidaya pakan ternak itu diketahui telah dirintis sejak bulan lalu.

Budidaya tanaman pakan ternak ialah program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Budidaya Indigofera disebut sebagai bahan alternatif untuk pakan ternak sehat yang alami dan tentunya berprotein tinggi. Indigofera pun mulai ditanam, Senin (18/01/2021), bersama masyarakat dan kelompok ternak di kawasan tersebut.

Dilansir Jumat, (22/1/2021) dari situs berita Serambisnews.com, Ketua Kelompok kegiatan PHP2D, Khuzaimah kepada Serambinews.com, Selasa (19/01/2021), menuturkan, bahwa sebagian masyarakat setempat belum mengenal betul mengenai tanaman Indigofera itu. Meski ternyata tanaman yang bisa dijadikan pakan ternak itu tepat berada di sekitaran mereka.

Baru ketika dijelaskan tentang jenis tanaman dan manfaat untuk pakan ternak, kemudian masyarakat setempat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa. Mulai dari proses penggemburan tanam, penanam bibit, dan perawatan hingga proses penanaman yang dilakukan bersama-sama.

Ketua kelompok ternak setempat, Anwar mengharapkan agar program-program tersebut dapat terus dilakukan dan lagi digelar pada tahun ini dengan tema pengolahan pakan ternak.

Baca Juga :   Australia Bangun Observatorium Laut yang Berbentuk Paus

Hal itu agar masyarakat setempat bisa mengetahui lebih lanjut lagi tentang pengolahan pakan ternak, khususnya dari tanaman indigofera itu.

Keuchik Beunyot Juli, Baktiar  menambahkan bahwa dengan adanya kegiatan mahasiswa melaksanakan program PHP2D mampu menambah pengetahuan masyarakat  dan masyarakat memperoleh ilmu yang lebih lagi tentang pakan ternak.

Pihaknya juga mengharapkan dengan tanaman indigofera itu, bisa meningkatkan nilai ekonomi masyarakat kedepannya.

Penanaman tersebut dilakukan Wakil rektor III Dr Azhari SE MSi Ak CA dan sejumlah dosen serta mahasiswa dan masyarakat setempat, Senin (18/01/2021).

Pada berita yang lain, berkaitan dengan melambungnya harga daging sapi, para peternak sapi potong mengaku bahwa mahalnya harga daging sapi saat ini merupakan imbas naiknya harga pakan ternak.

Olehnya itu mengakibatkan harga daging sapi di tingkat penggemukan harus disesuaikan dengan biaya produksi di lapangan.

Ketua Asosiasi Peternak Sapi Potong Indonesia, Suparno menjelaskan ada beberapa komponen yang ikut menentukan dan menyebabkan harga daging sapi. Di antaranya disebutkannya, ialah biaya produksi untuk proses penggemukan.

Salah satu komponennya yakni pakan ternak, hal itu meliputi nutrisi atau konsentrat dan pula pakan sapi pendamping.

Suparno memaparkan, dari sisi pakan sendiri memang diketahui ada kenaikan harga pada pakan konsentrat merek tertentu.

Baca Juga :   Dilaporkan Polisi Karena Mencuri Jeruk, Petani: Kami yang Menanam Sendiri

Biasanya, lanjutnya, harga pakan konsentrat itu berkisar Rp120 ribu per kilogram dan saat ini menjadi Rp180 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram.

Menurut dia, karena harga pakan konsentrat yang mengalami peningkatan itu maka mengakibatkan harga daging sapi potong turut terdongkrak atau naik.

Sampai saat ini, rata-rata harga timbang hidup sapi sebesar Rp46 ribu per kilogram.

“Biaya produksi sapi ini karena pakan terutama yang paling dominan. Nutrisi sapi itu ada di konsentrat ditambah hijauannya, itu komposisinya. Rate rerata gambarannya satu ekor sapi membutuhkan pakan kurang lebih Rp25 ribu-Rp30 ribu per hari dan itu belum hijauannya yang berupa rumput julur. Untuk masa penggemukan sapinya membutuhkan waktu antara 3-4 bulan, dan nantinya baru bisa dipotong. Jadi, tinggal dihitung saja biaya produksinya,” kata Suparno, Kamis (21/1/2021) dikutip Jumat (22/1/2021) dari situs Radioidola.com.

Lebih lanjut Suparno menambahkan bahwa kenaikan harga daging sapi potong juga berkaitan dengan pasokan sapi impor yang terhambat karena pandemic covid-19. Penyebabnya juga kran impor sapi dari Australia juga belum dibuka pemerintah.

“Ini ada keterlambatan impor sapi dari Australia untuk jenis Bharman Crossing atau sapi BX. Memang sapi impor ini harganya dikatakan lebih murah dari sapi lokal,” terangnya. (*)

Share :

Baca Juga:

Kades Jimbar, Pracimantoro, Wonogiri, Sutrisno (kiri)

Nasional

Harga Panen Anjlok, Petani di Wonogiri Memilih Merantau

Berita

Cara Kampung Tangguh Jaya Menjaga Ketahanan Pangan dengan Budidaya Ikan dan Sayur

Berita

Harga Ayam Hidup Terjun Bebas, Peternak Menjerit

Berita

Marak Laka Lantas karena Sapi, Anggota DPR: Mengapa Jalan Jadi Lapangan Pengembalaan?  

Berita

Warga Sumsel Makan Ikan Pari Raksasa yang dilindungi

Berita

Sawah Mengering, Petani di Pangandaran Beralih Tanam Jahe

Berita

Warga Temukan Ikan ‘Dewa’ Berukuran Jumbo Pasca Banjir Bandang di Puncak Bogor

Berita

Kerja sama RI – Amerika dalam Proyek SEA Lampaui Target