Home / Nasional

Rabu, 28 Oktober 2020 - 22:33 WIB

Makna Sumpah Pemuda Bagi Petani Milenial

Petani, ujung tombak kebutuhan pangan masyarakat. (Okezone)

Petani, ujung tombak kebutuhan pangan masyarakat. (Okezone)

Mediatani – Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada Rabu, 28 Oktober 2020 ini merupakan momentum bersejarah bagi rakyat Indonesia, tak terkecuali bagi para petani milenial di Tanah Air. Salah satu dari mereka Nur, Agis Aulia, memberikan harapannya di hari Sumpah Pemuda yang ke 92 tahun ini.

Founder Jawara Farm yang berbasis di Kabupaten Serang, Provinsi Banten ini mengatakan bahwa hari sumpah pemuda dan sektor pertanian adalah dua korelasi yang sama-sama tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, Sumpah Pemuda adalah semangat besar yang tidak boleh pudar oleh berbagai dinamika dan tantangan jaman. Sementara pertanian adalah sumber kehidupan utama yang tidak boleh padam oleh berbagai keadaan. Termasuk adanya krisis pandemi Covid 19 yang melanda seluruh dunia.

“Harus menjadi tonggak sejarah, dimana masalah pangan harus tertanam didalam benak pemuda,” katanya, Rabu, 28 Oktober 2020.

Selama pemuda dan pemudi Indonesia masih mengkonsumsi beras, sagu, buah, sayur dan kebutuhan gizi hewani, maka, itu artinya mereka masih butuh peranan petani dan peternak untuk memenuhi kecukupan makanan sehari-hari.

“Oleh karena itu, sudah selayaknya pemuda dan pemudi di seluruh Indonesia peduli pada sektor pertanian, dan semoga mereka bisa terlibat langsung dalam menyiapkan pangan terbaik untuk negeri. Selamat hari sumpah pemuda, semoga ini menjadi komitmen kita untuk berkontribusi dalam melahirkan kedaulatan pangan Indonesia. Merdeka,” katanya.

Agis sendiri adalah seorang sosok muda yang dikenal banyak menorehkan prestasi di bidang pertanian meskipun ia merupakan lulusan dari PSDK Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah. Berkat kerja kerasnya juga ia lantas menjadi tokoh yang menginspirasi banyak pemuda Banten untuk terjun sebagai petani dan peternak.

Baca Juga :   Harga Gabah Petani di Blora Anjlok, Hanya Rp 3.500 per Kilogram

Peran Petani Milenial

Tahun ini ada sekitar 33,4 juta petani yang bergerak di semua komoditas sektor pertanian. Angka tersebut jumlahnya jauh lebih kecil jika dibandingkan jumlah petani pada tahun sebelumnya yang mencapai 34,58 juta. Padahal, selama pandemi Covid-19 sektor pertanian selalu menjadi andalan dan tulang punggung ekonomi bangsa.

Hal tersebut dikemukakan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Syahrul berharap ada regenerasi petani untuk menghadirkan petani baru yang berusia muda. Hal itu penting dilakukan sebagai bentuk antisipasi.

“Pertanian sangat terbuka untuk semua usia. Semakin muda semakin kuat, semakin enerjik, semakin kritis, makin apik kerjanya. Pertanian dengan semangat baru harus diluncurkan. Seperti membangun prilaku baru dan behaviour anak muda untuk mendapatkan pendapatan yang jauh lebih baik dari bidang pertanian,” kata Mentan.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menilai peranan pemuda sangatlah penting, terutama dalam pembangunan pertanian ke depan. Menurut Dedi, pemuda adalah generasi masa kini yang wajib meneruskan perjuangan para petani Indonesia.

“Kami harapkan peran petani milenial ini bukan hanya menjadi duta, tetapi juga menginspirasi generasi lainnya untuk terjun ke sektor pertanian. Kita harus mengajak anak muda terjun ke pertanian dengan semangat inovasi yang mereka miliki. Negara besar seperti Amerika dan China saja bisa maju pertaniannya karena SDM-nya bangkit,” tutupnya.

Baca Juga :   30 Ton Jagung Rendah Aflatoxin Produksi Kelompok Tani Maju Lampung Tembus Pasar Industri

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri menambahkan, regenerasi petani merupakan kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, Kuntoro beharap para pemuda mampu menjadi inspirasi bagi seluruh anak muda di Indonesia.

“Kita semua bisa menjadi pahlawan pangan. Dan saya kira dengan menjadi petani milenial kita bisa membantu ketahan pangan nasional,” tutupnya.

Menurut Kuntoro, perubahan besar selalu diinisiasi oleh semangat anak muda. Karena itu, anak muda memiliki pola yang energi serta ide-ide baru untuk memecahkan permasalahan termasuk dalam dunia pertanian.

“Tonggak perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari apa yang sudah dilakukan para pemuda yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Dari titik itulah kemudian perubahan-perubahan dimulai,” katanya.

Disisi lain, kata Kuntoro, Kementan memiliki tanggung jawab besar dan perhatian khusus terhadap perkembangan generasi muda Indonesia. Salah satunya dengan menghadirkan teknologi dan mekanisasi pertanian yang selanjutnya dioprasikan oleh anak muda.

“Bagaimanapun, masa depan bangsa termasuk wajah pertanian Indonesia ke depan ada di tangan pemuda kita. Oleh karena itu, kementan terus berupaya melahirkan petani muda yang cakap dalam budidaya dan mumpuni dalam penguasaan teknologi,” tutupnya.

Sedikit informasi, Sumpah Pemuda adalah suatu ikrar pemuda-pemudi Indonesia pada 28 Oktober 1928 yang mengaku bertumpah darah satu, bertanah air satu dan berbangsa satu. Ikrar tersebut merupakan hasil putusan Kongres Pemuda II yang digagas Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tahun 1928.

Share :

Baca Juga:

Rakor DKP ini dihadiri Bupati/Walikota Seprovinsi Jambi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pokja Ahli DKP dan undangan lainnya.

Berita

BKP Kementan: Ketahanan Pangan Tanggung Jawab Kita Bersama

Nasional

Peduli Kesuburan Tanah, Perempuan Ini Lebih Untung Bertani Organik

Berita

Demi Kedaulatan Petani, Pemerintah Harus Tertibkan Bulog

Nasional

Gabungan Massa Aksi Blokade Jembatan Suramadu dengan Tabur 2 Ton Garam
Petani minapadi menerbarkan bibit ikan (ilustrasi). [Foto: FAO Indonesia]

Berita

Minapadi Tarik Minat Pemuda ke Sektor Pertanian

Nasional

Respon Cepat Kasus Pemalsuan Benih, Kementan Luncurkan Aplikasi Barcode Berbasis Smartphone

Nasional

Wujudkan Swasembada Daging, Mentan SYL Panen Pedet di Lombok Tengah

Berita

Harga Pakan Naik Namun Harga Telur Anjlok, Pitut Pilih Buang Telur ke Sawah