Masa Depan Pertanian: Tanaman Transgenik dan Persepsinya di Masyarakat Global

  • Bagikan
ilustrasi rekayasa genetik tanaman
ilustrasi tanaman transgenik

Oleh: Trisnawaty AR; Muh. Rispan Ady Idris; Bunyamin; dan Rinaldi Sjahril
Program Doktoral Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin

Pertumbuhan penduduk saat ini yang semakin meningkat dan tidak dibarengi dengan peningkatan produksi memberikan tantangan yang besar pula terhadap upaya penyediaan pangan. Badan pangan dunia (FAO) memperkirakan pada tahun 2050 terjadi masalah kelangkaan dan ancaman krisis pangan dunia.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah krisis pangan tersebut salah satunya melibatkan penggunaan rekayasa genetika yang dikombinasikan dengan bioteknologi. Secara teoritis, rekayasa genetika adalah perubahan, modifikasi, dan/atau penambahan materi tambahan yang disengaja pada suatu gen dalam suatu organisme untuk menghasilkan turunan yang diinginkan manusia. Tanaman transgenik, sering dikenal sebagai tanaman rekayasa genetika, yaitu tanaman yang susunan genetiknya telah diubah dengan memasukkan atau memodifikasi gen dari organisme lain.

Beberapa orang menganggap bahwa produk rekayasa genetika, yang biasa disebut organisme hasil rekayasa genetika/ Genetically Modified Organism (GMO), memegang peranan untuk mengatasi kelangkaan pangan dengan pengembangan teknologi tanaman transgenik. Tanaman transgenik hasil rekayasa genetika ini dipercaya memiliki kualitas yang lebih baik, seperti peningkatan produktivitas, resistensi hama, toleran herbisida, dan kandungan nutrisi yang tinggi.

Tanaman transgenik ini telah menjadi perdebatan kontroversial sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980-an. Perkembangan tanaman transgenik melibatkan penggunaan rekayasa genetika untuk mentransfer gen dari satu organisme ke organisme lain, termasuk tanaman. Sejarah perkembangan tanaman transgenik dimulai pada tahun 1970-an hingga 1980an dimana rentang tahun ini merupakan awal perkembangan teknologi genetika molekuler.

Sejarah Perkembangan Tanaman Transgenik

Sejarah tanaman transgenik mencerminkan perjalanan panjang dan kompleks, dengan pencapaian signifikan dalam bidang rekayasa genetika tanaman, namun juga menantang masyarakat global untuk menilai dan mengelola dampaknya secara bijaksana. Berikut adalah gambaran umum dari sejarah perkembangan tanaman transgenik:

  1. Awal Pengembangan Teknologi Genetika Molekuler

Pada tahun 1973, terjadi perkembangan signifikan dalam teknologi rekayasa genetika molekuler dengan ditemukannya teknik rekayasa genetika menggunakan enzim pemotong DNA (restriction enzymes). oleh Hurbert Boyer dan Stanley Cohen.

  1. Pengembangan Tanaman Transgenik Pertama

Tahun 1980-an merupakan tahun pengembangan tanaman transgenik pertama. Pada tahun 1982, tanaman pertama yang berhasil diubah secara genetika untuk mengekspresikan sifat-sifat baru adalah tanaman tembakau. Tahun 1983, peneliti Belgia, Marc Van Montagu, dan Amerika Serikat, Mary-Dell Chilton, secara terpisah mengisolasi gen yang terlibat dalam pengembangan tumor pada tanaman. Penemuan ini membuka jalan untuk rekayasa genetika tanaman. Pada tahun tersebut tanaman pertama yang dihasilkan melalui teknik rekayasa genetika adalah tembakau transgenik. Pada tahun 1986, peneliti Swedia, Rudolf Flavell, mengembangkan tanaman yang resisten terhadap antibiotik tertentu, menjadi langkah awal dalam pembuatan tanaman transgenik resisten antibiotika.

  1. Komersialisasi Tanaman Transgenik

Pada awal 1990-an, tanaman transgenik mulai dikembangkan untuk pertanian dan diujicobakan di lapangan. Sejumlah tanaman, seperti kedelai, jagung, dan kapas, dimodifikasi genetik untuk menunjukkan sifat-sifat seperti resistensi terhadap hama, herbisida, atau penyakit, serta peningkatan hasil. Pada 1996, Monsanto meluncurkan tanaman transgenik pertama untuk dijual secara komersial, dengan tanaman jagung yang tahan terhadap serangan hama, yaitu varietas jagung Bt (Bacillus thuringiensis) yang mulai ditanam di Amerika Serikat.

  1. Pertumbuhan Penggunaan Tanaman Transgenik di Seluruh Dunia

Tahun 2000-an merupakan perkembangan penggunaan tanaman transgenik di seluruh dunia. Banyak negara mulai mengadopsi teknologi tanaman transgenik, terutama di Amerika Serikat, Brasil, Argentina, India, dan China. Perusahaan bioteknologi, seperti Monsanto (sekarang dimiliki oleh Bayer), Syngenta, dan Dow AgroSciences, memainkan peran penting dalam mengembangkan dan memasarkan tanaman transgenik.

Perkembangan teknologi biologi molekuler mempercepat pengembangan tanaman transgenik. Metode CRISPR-Cas9, yang memungkinkan modifikasi gen dengan tepat, menjadi terkenal dan menyediakan alternatif yang lebih presisi dibandingkan metode sebelumnya. Berbagai jenis tanaman transgenik dikembangkan, termasuk padi, kentang, dan kacang-kacangan, dengan tujuan meningkatkan ketahanan terhadap cuaca ekstrem, meningkatkan hasil, dan mengurangi kebutuhan pestisida. 

  1. Isu dan Regulasi

Tahun 2010-an, terjadi beberapa isu dan regulasi terkait pengembangan tanaman transgenik. Peningkatan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan kesehatan manusia dari tanaman transgenik mengakibatkan perdebatan yang intens. Beberapa negara mulai mengenakan regulasi ketat terhadap tanaman transgenik, sementara yang lain merangkul teknologi tersebut dengan lebih terbuka.

  1. Inovasi dan Terobosan Baru

Tahun 2020-an mulai dilakukan inovasi dan terobosan baru terkait tanaman transgenik. Penelitian terus berlanjut untuk mengembangkan tanaman transgenik yang dapat memberikan solusi terhadap tantangan pertanian global, seperti perubahan iklim, ketahanan tanaman terhadap penyakit, dan peningkatan produktivitas.

Persepsi Masyarakat Terhadap Tanaman Transgenik

Sederhananya, tanaman transgenik diciptakan dengan memasukkan gen sifat yang diinginkan pada makhluk hidup lain ke dalam tanaman. Hal ini dilakukan dengan menggunakan vektor, atau perantara, yang paling umum adalah bakteri Agrobacterium tumefeciens. Tidak hanya di Indonesia, kekhawatiran untuk mengkonsumsi produk transgenik diantaranya:

  1. Keamanan Pangan: salah satu keprihatinan utama masyarakat terkait dengan tanaman transgenik adalah keamanan pangan. Beberapa orang khawatir bahwa mengonsumsi tanaman yang dimodifikasi genetik dapat berdampak negatif pada kesehatan manusia, seperti alergi, keracunan, atau kemungkinan terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik akibat penggunaan marka tahan antibiotik dalam organisme transgenik.
  2. Dampak Lingkungan: beberapa kelompok pemerhati lingkungan khawatir bahwa penanaman tanaman transgenik dapat memiliki dampak negatif pada lingkungan sekitar, seperti berkurangnya keanekaragaman hayati atau munculnya organisme invasif.
  3. Pertanyaan Etika: beberapa orang menyoroti pertanyaan etika terkait dengan manipulasi genetik tanaman, terutama dalam hal hak paten dan kekayaan intelektual yang dapat menguntungkan perusahaan besar.
  4. Dampak Sosial Ekonomi: keprihatinan terkait dengan dampak sosial ekonomi penyebaran tanaman transgenik, termasuk konsekuensi terhadap petani tradisional dan ekonomi lokal.

Pro-Kontra Tanaman Transgenik

Pro Tanaman Transgenik

Kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan oleh tanaman hasil rekayasa genetika dapat ditingkatkan, menurut para peneliti dan praktisi. Rasa, nutrisi, aroma, dan kualitas produk semuanya dapat ditingkatkan dengan memanipulasi gen tanaman untuk memperpanjang umur simpan setelah panen.

Banyak pihak yang mendukung penggunaan tanaman transgenik karena mereka yakin produk rekayasa genetika tanaman transgenik pada akhirnya akan mampu memecahkan masalah dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Teknologi ini pertama kali ditemukan dalam upaya mengatasi bahaya kekurangan pangan secara global. Ilmuan serta praktisi mengakui bahwa tanaman dari hasil rekayasa genetika berpotensi menghasilkan peningkatan hasil produksi dan kualitas secara signifikan. Rekayasa genetika tanaman mampu menghasilkan kualitas nutrisi, aroma, rasa dan kualitas produk, sehingga ketika pascapanen, produk dapat disimpan cukup lama.

Selain daripada itu, tanaman transgenik juga dapat bertahan dari serangan hama, hal ini disebabkan karena tanaman transgenik dapat menghasilkan racun bakteri yang mampu membunuh serangga, sehingga penggunaan pestisida dan herbisida dapat dikurangi. Tanaman transgenik memiliki kemampuan beradaptasi pada situasi ekstrim seperti kondisi tanah yang sangat kering, banjir, salinitas yang tinggi serta cuaca ekstrim. Dengan rekayasa genetika, tanaman dapat memproduksi asam lemak linoleat sehingga memiliki kemampuan bertahan hidup yang stabil terhadap suhu dingin dan beku

Tanaman transgenik juga dikembangkan dibidang kesehatan, karena dapat memproduksi senyawa yang berguna untuk kesehatan seperti vaksin dan vitamin. Saat sekarang ini telah banyak dikembangkan tanaman yang memiliki kemampuan produksi vaksin diantaranya pisang, tomat dan kentang. Sejak tahun 1980 dihasilkan padi emas (golden rice) yang merupakan tanaman transgenik yang berguna untuk mengatasi jumlah penderita yang memiliki riwayat kekurangan vitamin A.

Dari teknologi ini juga dapat menghasilkan jenis tanaman yang banyak mengandung gizi seperti labu, kentang dan tomat yang didalamnya terkandung komposisi vitamin yang tinggi yakni A, C dan E; kandungan asam amino esensial yang lebih banyak terapat  pada tanaman jagung dan kedelai; kemampuan daya serap lemak lebih rendah dengan kadara pati yang tinggi yakni ada pada tanaman kentang; tanaman yang mengandung banyak alicin yang berguna menurunkan kolesterol adalah daun bawang; serta tanaman yang menghasilkan insulin yang berguna untuk pengobatan diabetes adalah kacang-kacangan.

ISAAA (International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications) juga membenarkan tentang manfaat penerapan rekayasa genetika tanaman bahwa antara tahun 1996 – 2012 tanaman transgenik dapat meningkatkan ketahanan pangan, memungkinkan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkesinambungan, dan membantu pencegahan perubahan iklim dengan meningkatkan produksi tanaman. James (2013), mengemukakan bahwa perbaikan lingkungan dapat dilakukan dengan tidak menggunakan pestisida secara berlebihan guna mengurangi pencemaran lingkungan, membantu perluasan pelestarian lahan selama ±16 tahun, dan mengurangi kemiskinan dengan meningkatkan pendapatan lebih dari 16,5 juta petani kecil dan keluarga mereka, atau 70% dari jumlah penduduk dunia pada tahun 2022 yang termasuk penduduk termiskin

Meskipun terdapat manfaat yang dihasilkan dari tanaman transgenik cukup beragam, dan yang dijustifikasi oleh peneliti dan praktisi yang bergelut dibidang rekayasa genetika ternyata belum dapat menyesuaikan implemnetasi teknologi ini sebagai metode alternatif baru dibidang komoditi pangan. Hal ini dikarenakan adanya asmumsi bahwa tanaman transgenetik dapat berdampak pada kesehatan manusia dan kesenjangan ekosistem.

Kontra Tanaman Transgenik

Di tinjau dari ilmu kesehatan, tanaman transgenik disinyalir memiliki dampak yang serius terhadap manusia yakni dapat menyebabkan keracunan. Tanaman transgenik memiliki kemampuan kekebalan terhadap hama jika diberikan gen Bt, namun disisi lain juga berdampak buruk pada manusia yaitu keracunan. Menurut syamsi (2014) bahwa penggunaan gen Bt di tanaman jagung dan kapas juga berdampak pada manusia yaitu menyebabkan alergi pada manusia (Syamsi, 2014), demikian pula dengan kedelai transgenik yang diintroduksi dengan gen penghasil protein metionin dari tanaman brazil nut. Hasil uji skin prick-test menunjukkan kedelai transgenik tersebut positif sebagai alergen (Karmana, 2009). Syamsi (2014) menambahkan, selain membuat dampak alergi, tanaman modifikasi genetika juga diduga bersifat karsinogenik atau memiliki potensi menyebabkan kanker, serta minim kandungan gizi karena kandungannya telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menghilangkan beberapa kandungan alami produk hasil olahannya.

Ternak yang diberi pakan dari tanaman hasil rekayasa genetika mengalami perubahan dalam perutnya yang terindikasi menyebabkan kanker, kerusakan ginjal dan organ tubuh lainnya, serta perkembangan otak yang lambat. Lebih lanjut, tanaman transgenik yang diintroduksi dengan antibiotik Kanamicyn-R apabila dikonsumsi manusia dianggap dapat menyebabkan resistensi bakteri dalam tubuh akibat paparan  antibiotik secara kontinu. Akibatnya, penggunaan antibiotik untuk menyembuhkan penyakit menjadi tidak ampuh lagi (Karmana, 2009).

Pada tahun 2009 Gilles-Eric Seralini dari Universitas Caen melakukan riset terhadap objek tikus yang diberikan makanan dari olahan hasil rekayasa genetika dalam jangka waktu yang relaatif panjang, dan hasil dai riset tersebut adalah lebih dari 50% tikus jantan dan 70% tikus betina mengalami kematian prematur; tikus yang diberi minuman dengan kandungan unsur herbisida memiliki dampak peningkatan ukuran tumor sebesar 200 – 300%; sementara tikus yang diberi makan jagung transgenik mengalami  kerusakan pada sejumlah organ tubuh terutama terjadi kerusakan pada hati dan ginjal (Khalifamart, 2013). Sebelumnya, ditahun 1998, A. Putzai dari Inggris juga melakukan riset terhadap tikus yang diberi pakan kentang transgenik dan menemukan munculnya gejala kekerdilan dan imunodepresi (Haryanti, 2012).

Dampak negatif dari tanaman rekayasa genetika terhadap lingkungan, seperti berkurangnya keanekaragaman hayati, patut mendapat perhatian. Hal ini hanya dapat terjadi akibat polusi alat kelamin. Tanaman transgenik dapat menggunakan varietas tanaman asli dengan menyebarkan serbuk sarinya, sehingga persilangan atau pertukaran gen dengan tanaman asli yang mengakibatkan tanaman berubah menjadi tanaman transgenik seluruhnya atau sebaliknya terjadi penularan sifat ermutasinya pada tanaman non transgenik (Karmana 2009).

Keanekaragaman hayati tanaman tidak hanya dapat menyebabkan ancaman serupa, tetapi juga keanekaragaman hayati hewan. Hal ini berdasarkan hasil laboratorium dari tanaman transgenik yang mengandung gen ketahanan terhadap serangga, seperti Bt. Selain itu, Bt sari taburkan pada larva daun milkweed dengan larva kupu-kupu Monarch yang spesifik.

Dampak negatif dari tanaman rekayasa genetika terhadap lingkungan yaitu hilangnya keanekaragaman hayati. Hal ini dapat terjadi akibat adanya polusi gen. Tanaman transgenik dikhawatirkan dapat mengancam pertumbuhan varietas asli tanaman dengan menyebarkan serbuk sarinya sehingga terjadi persilangan atau pertukaran gen yang mengakibatkan tanaman berubah menjadi tanaman transgenik seluruhnya melalui penularan sifat ermutasinya pada tanaman non transgenik (Karmana 2009). Losey et al. (1999) menambahkan, selain keanekaragaman hayati tanaman, keanekaragaman hayati hewan pun mengalami ancaman serupa.

Hal tersebut dibuktikan dari hasil uji laboratorium pada tanaman transgenik yang mempunyai gen resisten pestisida, yakni jagung Bt, serbuk sari jagung Bt yang ditaburkan pada daun milkweed mengakibatkan kematian larva spesies kupu-kupu Monarch (Danaus plexippus). Hasil uji ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hansen dan Obrycki (1999) dengan memberi makan larva kupu-kupu monarch dengan daun milkweed yang diambil di sekitar ladang jagung Bt. Studi ini menunjukkan bahwa jagung Bt meracuni kupu-kupu monarch yang hidup di sekitar ladang jagung tersebut. Kematian organisme non target ini dikhawatirkan akan menimbulkan kesenjangan ekosistem akibat musnahnya keanekaragaman hayati kupu-kupu tersebut.

Dampak lain yang ditimbulkan dari penggunaan tanaman transgenik yaitu dalam bidang sosial dan ekonomi yaitu, apabila tanaman transgenik dibudidayakan secara besar-besaran di seluruh dunia, maka dikhawatirkan akan terjadinya pergeseran monopoli benih dari yang semula milik umum atau common property, yaitu petani menjadi pemilik benih yang bisa disimpan dan ditanam berulang kali, menjadi milik segelintir perusahaan besar multinasional (Santosa, 2000).

Persaingan dalam perdagangan dan pemasaran produk pertanian transgenik akan menimbulkan ketidakadilan bagi negara agraris berkembang karena adanya kesenjangan teknologi yang sangat jauh dengan negara maju. Kesenjangan tersebut timbul karena bioteknologi modern sangatlah mahal sehingga sulit bagi negara berkembang untuk mengembangkannya. Hak paten yang dimilik produsen produk transgenik juga semakin menambah dominasi negara maju. Petani yang menanam benih transgenik tanpa ijin dapat dituntut ke pengadilan karena dianggap melanggar property right.

Sejak awal, tanaman transgenik menuai kontroversi terkait keamanan pangan, dampak lingkungan, dan etika. Beberapa kelompok mendukung tanaman transgenik sebagai solusi untuk keamanan pangan dan peningkatan produktivitas, sementara yang lain menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang terhadap ekosistem dan kesehatan manusia. Negara-negara dan lembaga-lembaga internasional terus berdebat dan merumuskan regulasi terkait penggunaan tanaman transgenik.

Perkembangan budidaya tanaman hasil rekayasa genetika sebagai komoditi pangan cukup pesat dan menjanjikan, namun terdapat berbagai kekhawatiran terhadap pemanfaatan tanaman ini, terutama menyangkut masalah kesehatan dan aspek lingkungan. Kontradiktif tersebut sangatlah wajar, mengingat setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda.

Impementasi teknologi sangat diharapkan berkontribusi dalam upaya menemukan alternatif pemenuhan kebutuhan pangan, namun juga diperlukan etika mengenai norma dan nilai-nilai moral yang melindungi hak-hak asasi manusia serta makhluk hidup lainnya. Pengembangan teknologi dan pemanfaatan sumber daya hayati diperuntukkan seluas-luasnya bagi kepentingan manusia dan makhluk hidup lainnya, wajib menghindari konflik moral yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap harkat manusia dan perlindungan lingkungan hidup.

====

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version