Alumni Sastra Arab Sukses Bertani Hidroponik, Belajar dari Youtube hingga Jual Motor

  • Bagikan
Muhammad Al Fauzan/Via IDN Times/IST

Mediatani – Aktivitas bercocok tanam di wilayah perkotaan atau urban farming belakangan ini menjadi tren di kalangan generasi milenials.

Padahal, dulunya tidak yang sedikit berpandangan bahwa profesi bercocok tanam kurang cocok bagi generasi muda perkotaan.

Sosok Muhammad Nur Al Fauzan (23) salah satunya. Seorang milenial yang berani mendobrak stigma tersebut dan kini mengembangkan bercocok tanam selada dengan metode hidropinik.

Ocang, sapaannya pun membuktikan bahwa milennial nyatanya bisa terjun di dunia pertanian.

Dia mengembangkan usaha cocok tanamnya dan memberi nama Samata Green House (SGH) yang berlokasi di Jalan Karaeng Makkawari Ujung, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Lokasinya tak jauh dari Jalan Letjen Hertasning, Kota Makassar.

  1. Terinspirasi setelah menonton video di YouTube

Ocang mengaku pada mulanya tidak ada pikiran untuk bertani. Namun, pikiran itu baru kemudian muncul 9 bulan lalu atau sekitar September 2020.

Kala itu, dia baru saja memperoleh inspirasi setelah menonton video di YouTube tentang perkembangan pertanian.

Karena yang ditontonnya saat itu adalah video tentang aktivitas pertanian modern dengan sistem hidroponik, Ocang pun merasa tertarik dengan metode itu.

Baginya, metode hidroponik yang lebih memanfaatkan air tanpa tanah terlihat lebih mudah.

“Jadi di situ saya tertarik karena kan pada dasarnya petani itu butuh cangkul sementara ini tidak. Pokoknya serba ribet, simpel dan tidak perlu tenaga sekali,”kata Ocang, melansir, Senin (14/6/2021) dari laman IDN-Times.com.

Sebagai langkah awal, Ocang pun mencoba menanam selada secara hidroponik di dalam 48 lubang tanam yang total panjangnya 2 meter. Selada ternyata bukan pilihan pertamanya.

Ada empat jenis tanaman lainnya yang dicobanya yaitu sawi paccoi, sawi Cina, seledri, dan daun mint.

Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menanam selada karena saat itu permintaan akan selada sedang tinggi.

“Masyarakat lebih banyak yang cari selada makanya saya tanam selada. Dulu ada sekitar 4 jenis sayuran saya tanam. Tapi karena selada yang lebih banyak yang cari makanya saya berhentikan yang lainnya,” ujarnya.

  1. Sempat tidak didukung keluarga
Baca Juga :   Urban Farming, Kesenangan yang Menjadi Cuan

Keputusan Ocang yang memilih terjun di dunia pertanian rupanya sempat tidak didukung keluarga. Pasalnya, sebagian besar keluarganya berlatar akademisi sehingga dipandang tidak cocok dengan aktivitas pertanian.

Stigma yang melekat adalah petani bekerja di kampung dan di sawah.

“Tapi di situ mereka belum tahu hidroponik itu kayak bagaimana. Di situ memang awalnya tidak dapat restu. Jadi saya langsung ambil langkah, percuma kalau digambarkan secara teori terus, tapi tidak ada praktik. Makanya langsung saya beranikan praktik,” jelasnya.

Untuk membuktikan kesungguhannya, Ocang langsung membuat gebrakan meskipun masih berskala kecil. Setelah ada hasil, barulah keluarganya tertarik dan mendukung langkahnya.

Di sisi lain, pro kontra juga datang dari teman-temannya. Ada yang mendukung ada juga yang tidak. Ocang dianggap tidak cocok jadi petani karena latar belakang pendidikanya yaitu Sastra Arab pada 2015 lalu.

“Kalau dari teman itu sangat menyetujui. Ada yang menyetujui ada juga tidak karena mereka pikir kenapa mau jadi petani padahal dari jurusan yang berbeda, tidak sinkron,” kata alumni Universitas Islam Negeri Alaudin Makassar ini.

  1. Belajar otodidak tanpa latar belakang ilmu pertanian

Latar belakang pendidikan yang berbeda tidak membuat minatnya untuk mempelajari metode hidroponik luntur.

Dia belajar metode hidroponik dari YouTube secara otodidak, termasuk cara membangun green house miliknya, meskipun tetap dibantu oleh teman-temannya.

Dia bahkan menghabiskan waktu hampir 2 pekan untuk belajar. Selama masa itu, dia mempelajari teori hidroponik.

Setelah paham, barulah dia berani mencoba tapi setelah belajar langsung dari seorang ahli pertanian di Universitas Hasanuddin.

“Setelah saya pahami semua, saya pikir sepertinya tidak lengkap kalau tidak langsung bertanya kepada ahlinya. Satu hari saya belajar di situ. Karena saya sudah paham teorinya tinggal penjelasan secara langsungnya,” kata Ocang.

Untuk modal awal membangun kebun, Ocang rela menjual motor kesayangannya. Hasil penjualan sepeda motor itu ditambahkan juga dengan uang tabungannya selama ini.

“Modal awal sekitaran Rp25 juta ukuran 8 x 11. Sama instalasinya itu semua. bibit pupuk. Tapi kan kalau kita di hidropinik bukan pupuk tapi nutrisi,” katanya lagi.

  1. Bekerja spartan supaya kembali modal
Baca Juga :   Usir Kutu Rambut Dengan Tanaman Amargo

Untuk menggenjot penjualan di awal-awal, dia mengaku harus bekerja secara spartan supaya bisa cepat kembali modal.

Selada yang ditanamnya ada yang dijual langsung ke pelanggan, dijual ke pasar tradisional, dijual melalui media sosial hingga dijual ke sesama petani hidroponik juga.

“Misalnya kita tidak dapat pembeli, kita kembali ke petani juga. Jadi saling membantu,” katanya sembari terkekeh.

Kini permintaan selada dari Samata Green House semakin meningkat. Bahkan tak sedikit permintaan dari beberapa restoran makanan Korea yang juga tengah menjamur di Makassar.

Meski begitu, bukan berarti dia tak pernah merugi. Kerugian pernah dialaminya saat terjadi badai angin dan hujan yang mengakibatkan hampir seluruh tanaman seladanya rusak. Atap ruangan hidroponiknya terangkat dan pipa-pipa air bengkok.

Dampak dari badai itu baru terlihat sepekan setelahnya. Tanaman selada sekebun rusak akibat terkena air hujan. Tanaman hidroponik memang tidak boleh terkena air hujan langsung jika tak ingin rusak.

“Jadi dibuang semua sekitar 125 kilo yang kalau dirupiahkan sekitar Rp4,5 juta. Mau diapa, tidak bisa juga dijual ke orang karena teksturnya sudah rusak. Namanya bencana alam, kita tidak tahu,” ungkapnya.

  1. Jika sudah ada niat, langsung eksekusi

Ocang pun berbagi tips bagi milenial lain yang mungkin juga tertarik menekuni dunia cocok tanam. Langkah awalnya harus mempelajari teori jika ada niat ingin membuat bisnis secara hidroponik.

“Kalau sudah bosan pelajari, langsung terjun lapangan tapi jangan berhenti di situ,” lanjutnya.

Setelah itu, tekan dia, harus kreatif. Seperti dirinya yang tidak punya dasar ilmu pertanian, maka dia mau belajar otodidak. Semua itu demi menunjang kreativitasnya.

“Intinya jangan hanya niat saja. Kan banyak orang begitu, punya niat tapi tidak direalisasikan. Pokonya kalau sudah ada niat, langsung eksekusi,” kata, memberi semangat. (*)

  • Bagikan