Ilustrasi: Pengembangan budidaya vanili di Salatiga

Mediatani – Di tahun 1980-an, komoditas perkebunan vanili dari Salatiga, Jawa Tengah, pernah mengalami masa kejayaannya. Waktu itu harganya mencapai angka yang fantastis, sehingga vanili mendapat julukan emas hijau karena harga jualnya di pasaran. Namun karena harganya sempat terpuruk, para petani banyak yang membabat habis tanaman vanili di kebunnya.

Seiring adanya kenaikan harga yang tinggi, Pemkot Salatiga mengajak petani kembali membudidayakan tanaman vanili. Harga vanili kering mencapai Rp4 juta per kilogram (kg) sehingga bisa menjadi penghasilan tambahan dan meningkatkan perekonomian anggota kelompok tani di Kota Salatiga.

Maka dari itu, dalam peringatan Hari Tani Kemarin, Wali Kota Salatiga Yuliyanto yang didampingi Wakil Wali Kota Muh Haris menyerahkan bantuan tiga ribu batang bibit vanili dan alat pertanian kepada petani di Kota Salatiga.

“Kami juga akan membantu mencarikan pembelinya sehingga ke depan, Salatiga akan semakin sejahtera dan mandiri,” kata Yuliyanto saat disela acara peringatan Hari Tani ke-60 yang digelar di komplek rumah pemotongan hewan (RPH) Salatiga, Kamis (24/9/2020).

Karena nilai jualnya yang tinggi itu, komoditas ini lantas disebut sebagai emas hijau. Belum lama ini ia juga menerima kunjungan utusan dari Jakarta yang berencana menjadikan Kota Salatiga sebagai pilot project Vanili Nusantara.

“Surat sudah saya terima dan sudah saya disposisikan kepada Kepala Dinas Pertanian bahwasanya, pencanangan Kota Salatiga sebagai pilot project vanili nusantara akan diresmikan oleh Ketua MPR,” ujarnya.

Yuliyanto mengakui, dengan wilayah pertanian yang tidak lebih dari 700 hektare dan jumlah petani yang sangat kecil, bukan berarti sektor pertanian di Kota Salatiga lantas diabaikan begitu saja. Sebab pertanian merupakan bagian dari prioritas yang harus diperhatikan keberadaannya.

Baca Juga  Saireri Paradise Foundation (SPF) Gelar Ibadah Konservasi Penyu

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Salatiga Nunuk Dartini menjelaskan, bantuan 3.000 batang bibit vanili diberikan kepada asosiasi petani, Gapoktan Sedyo Makmur Kelurahan Kumpulrejo, Sri Mulih Kelurahan Tingkir Lor, Sumber Rejeki Grogol Kelurahan Dukuh, Al Barokah Kelurahan Blotongan, dan Rejo Mulyo Kelurahan Noborejo.

“Semoga kegiatan ini berguna dan bisa bermanfaat bagi petani di Salatiga. Sehingga mereka bisa semakin mandiri,” pungkasnya.

Pencanangan program Pemkot ini juga sejalan dengan program Kementan yang menargetkan pertumbuhan ekspor untuk sejumlah komoditas perkebunan seperti kopi, kelapa, lada, pala, dan vanili hingga tiga kali lipat sampai lima tahun ke depan. Hal tersebut dituangkan dalam kebijakan Gerakan Ekspor Tiga Kali Lipat (Gratieks).

Untuk menggenjot peningkatan produksi vanili, Kementan kembali menggalakkan pengembangan komoditas vanili di daerah-daerah yang sebelumnya menjadi sentra produksi. Salah satunya di daerah Salatiga, Jawa Tengah.

“Harus dibantu oleh stakeholder lainnya, eksportir, pengusaha hingga di level paling bawah untuk mengembangkan. Tiga kali lipat ini dalam lima tahun, karena perkebunan paling tidak tanam dua sampai tiga tahun baru bisa tumbuh,” kata Syahrul.

Selain pemberian bantuan bibit dan fasilitas, pada peringatan Hari Tani ke-60 itu juga menggelar beberapa kegiatan lainnya. Diantaranya tebar bibit ikan, peresmian Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan vaksinasi rabies.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here