Optimalkan Bonus Demografi di Indonesia untuk Regenerasi Sektor Pertanian

  • Bagikan
Sumber foto: koran.tempo.co ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas

Mediatani –¬†Dimasa pandemi saat ini, sektor pertanian adalah salah satu sektor yang mampu bertahan dan bisa membantu pemulihan ekonomi di Indonesia. Sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif dibanding sektor lainnya yang mengalami pertumbuhan negatif.

Melihat hal tersebut, Hermanto selaku Anggota Komisi IV DPR RI mengingatkan bahwa pada masa pandemi covid-19 sekarang ini, sektor pertanian memang mengalami pertumbuhan positif dibanding sektor lain yang mengalami pertumbuhan negatif.

Merespon hal tersebut, Hermanto juga memberi saran agar lebih mengoptimalkan fungsi dari bonus demografi yang sedang dialami oleh Indonesia. Peningkatan fungsi dari bonus demografi dalam rangka mengatasi permasalahan regenerasi tenaga kerja yang mumpuni dalam sektor pertanian. Momentum yang sedang dialami Indonesia saat ini harus dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya. Bonus demografi ini dinilai bisa menjadi salah satu solusi untuk peningkatan Sumber daya manusia (SDM) terutama pada sektor pertanian.

“Kondisi bonus demografi yang dialami Indonesia ini harus dikelola sebaik – baiknya. Jangan sampai kita kehilangan momentum yang sangat baik ini,” kata Hermanto dilansir dari Antara, Senin, 8 Februari 2021.

Sekadar informasi bahwa bonus demografi akan terjadi jika suatu negara memiliki jumlah penduduk usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk usia nonproduktif. Sehingga pentingnya kontribusi dari kalangan milenial atau generasi muda diharapkan agar tidak ragu untuk kembali menekuni sektor pertanian. Jika ditekuni dengan serius, maka sektor pertanian bisa mendatangkan penghasilan yang tidak kalah dengan sektor lain.

Alasan pemanfaatan bonus demografi pada sektor pertanian adalah untuk meningkatkan kesejahteraan pada sektor pertanian ini. Semakin banyaknya generasi – generasi yang produktif yang menekuni sektor pertanian ini, maka semakin besar pula peluang sektor pertanian untuk terus memberikan kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi terutama pada sektor pertanian.

“Ada milenial yang menekuni bisnis pertanian, penghasilannya ratusan juta sebulan,” ucap Hermanto.

Sementara itu, pendapat yang sama disampaikan oleh Asna Mustofa selaku akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Asna Mustofa menilai regenerasi petani sangat penting dilakukan guna mendukung program pertanian berkelanjutan. Adanya program regenerasi petani memang diperlukan agar mendukung program pertanian berkelanjutan dan mendukung program ketahanan pangan.

Asna yang juga menjadi salah satu dosen di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tersebut mengatakan bahwa perlu dibuat berbagai program yang inovatif dan kreatif guna menarik minat petani muda. Tidak hanya itu, kata dia, teknologi pertanian juga dapat mendukung peningkatan produksi dan efisiensi. Sehingga diharapkan peran teknologi yang dinilai mampu menjadi salah satu pemicu kesuksesan pemanfaatan bonus demografi yang tengah dialami oleh Indonesia.

“Teknologi yang diperlukan tidak harus canggih, tetapi yang sepadan. Dalam arti teknologi yang sesuai kebutuhan. Teknologi yang terlalu tinggi pun akan butuh biaya yang tinggi, sehingga harus disesuaikan juga dengan lahan yang akan digarap,” katanya.

Sekadar informasi, berdasarkan data Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian mencatat petani muda yang ada di Indonesia yang usianya berada diantara  20-39 tahun hanya berjumlah sekitar 2,7 juta orang atau sekitar 8 persen dari total jumlah petani di Indonesia. Sementara itu, Melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019, jumlah petani muda tercatat mengalami penurunan yaitu 415.789 orang dari periode 2017 ke 2018. Hal ini menandakan bahwa, peran generasi muda atau generasi produktif yang ada di Indonesia masih kurang tertarik untuk terjun ke sektor pertanian.

  • Bagikan