Pakar Pertanian UGM Berikan Solusi Hadapi Ancaman Krisis Pangan

  • Bagikan
Sumber foto: https://www.republika.co.id/

Mediatani – Pengamat pertanian dari Universitas Gadjah Mada, Jaka Widada mengatakan bahwa krisis pangan sudah di depan mata. Bahkan beberapa negara mulai merasakan dampaknya.

Baca Juga :   Asosiasi Kuliner Palembang Minta Pemerintah Longgarkan Larangan Penggunaan Ikan Belida

Masyarakat awam mungkin masih menganggap sebelah mata isu ini, sebab mereka masih dapat menikmati dan mendapatkan bahan pangan dengan cukup mudah.

Akan tetapi, menurut Jaka, seperti dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (28/6/2022), krisis pangan sesungguhnya sudah sangat terasa. Ancaman tersebut ditandai dengan perubahan iklim yang tak menentu, hujan ekstrem, dan bencana alam seperti banjir, kekeringan serta ledakan hama dan penyakit yang mengakibatkan gagal panen.

“Itu sebenarnya tanda-tanda krisis pangan akan terjadi. Jumlah penduduk terus naik, sementara kenaikan jumlah pangan tak seimbang dengan kenaikan jumlah penduduk,” kata Jaka.

Badan Pangan Dunia (FAO) memperkirakan pada tahun 2050 penduduk dunia akan mencapai 10 miliar jiwa. Ledakan penduduk yang sedemikian besar itu tentunya memerlukan asupan pangan dalam jumlah yang besar juga.

Jaka menjelaskan, agar krisis pangan dunia dan kelaparan tak terjadi, perlu ada peningkatan produksi pangan dunia. Idealnya, produksi pangan untuk saat ini berkisar 70 persen. Jika di sebagian negara produksi pangannya masih sekitar 10 persen, maka akan sulit untuk mencapai target tersebut.

Apa yang harus dilakukan?

Jaka menyebut, peningkatan suhu dan CO2 akan berdampak terhadap hasil pertanian. Dan di sisi lain, petani juga harus dihadapkan dengan permasalahan sumber pengairan yang selama ini masih bergantung pada air tanah.

Ada kekhawatiran yang muncul apabila sumber air itu dalam beberapa tahun akan habis dan membuat kekeringan permanen di beberapa daerah, yang dapat mengakibatkan terjadinya krisis pangan di masa depan.

Oleh karena itu, persoalan tersebut perlu direspon dengan melakukan pengembangan varietas-varietas tanaman pangan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Salah satu contohnya yaitu pengembangan varietas pada Gama Gora yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan air yang jauh lebih sedikit.

“Untuk memproduksi 1 Kg varietas yang ada saat ini memerlukan 2.500 liter air. Harapannya itu bisa diturunkan di bawah 100 atau 50 liter untuk per kilo beras. Harapannya akan ada varietas-varietas adaptif terhadap perubahan iklim lainnya,” terang Jaka.

Selain itu, tambah Jaka, perlu adanya pengembangan teknik pertanian yang dapat menghemat pupuk supaya dapat mendukung produktifitas pangan di Indonesia. Misalnya, pembuatan pupuk secara mandiri yang dapat menggantikan pupuk pabrikan yang didasari pada pengembangan biologi tanah dan tanaman.

Jaka juga menambahkan, perlu adanya pemberian edukasi kepada generasi muda agar makin banyak anak muda yang tertarik untuk menjadi petani.

“Upayanya bagaimana menjadikan hasil pertanian sebagai komoditas yang menguntungkan dan menjanjikan. Dengan teknologi seperti model otomatisasi pertanian juga menjadi pekerjaan yang menarik,” terangnya.

Jaka mengatakan, upaya untuk meningkatkan produksi pangan di dalam negeri harus dilakukan secara kolektif antara pemerintah dan masyarakat.

  • Bagikan