Pangkas Impor Gandum, Saatnya Makan Sorgum

  • Bagikan
ilustrasi tanaman sorgum
ilustrasi : hamparan tanaman sorgum

Opini Oleh : Claristha Delaros Mau, Daris Fitriana Zulfa, Marshanda Salsabila F., Muhammad Fiqri, dan Patricia Asry Mera *

Gandum dengan nama ilmiah (Triticum aestivum L.) merupakan salah satu tanaman pangan yang banyak dikonsumsi oleh warga dunia.

Di Indonesia sendiri gandum bukanlah makanan pokok, tetapi Indonesia menjadi negara pengimpor gandum terbanyak di dunia. Gandum dikonsumsi dalam bentuk olahan tepung terigu seperti roti, kue, mie instan, pasta, dan makanan olahan pabrik lainnya.

Kenapa harus impor?

Indonesia saat ini tidak mampu memproduksi gandum sendiri. Gandum pada dasarnya bukan tanaman yang cocok ditanam di iklim tropis seperti di Indonesia. Gandum tumbuh subur di wilayah subtropis seperti Australia, Kanada, Rusia, Amerika, dan Negara Eropa lainnya.

Hal ini menjadi alasan kurang berkembangnya budi daya gandum di negeri kita. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga penelitian sedang mengembangkan varietas gandum tertentu yang cocok ditanam di Indonesia.

Dengan terus meningkatnya kebutuhan akan gandum setiap tahunnya dan tidak dapat diproduksinya gandum di Indonesia, menjadi alasan kenapa Indonesia pengimpor gandum terbesar di dunia.

Lantas tanaman apa yang dapat dijadikan sebagai pengganti gandum?

Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan kelompok tanaman serealia yang dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti gandum. Sorgum dapat dibudidayakan di iklim tropis hingga subtropis. Tanaman ini bahkan dapat tumbuh di daerah beriklim panas dan kering dengan curah hujan rendah sekalipun.

Selain bijinya yang dijadikan sebagai makan pokok, batangnya mengandung gula dan bioetanol yang cukup tinggi. Oleh karena itu, sorgum memiliki multifungsi sebagai bahan makanan pokok, pakan ternak, dan sebagai bahan baku industri.

Kelebihan sorgum dibandingkan dengan gandum adalah mempunyai daya adaptasi yang relatif tinggi dan dapat tumbuh disegala jenis tanah dengan tingkat pH tanah kurang dari 5. Dalam pembudidayaannya sorgum membutuhkan air yang lebih sedikit dibandingkan dengan gandum. Hal ini yang membuat sorgum cocok dibudidayakan di Indonesia.

Dari segi kandungannya, sorgum memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Tidak hanya karbohidrat, kandungan protein dalam sorgum hampir setara dengan gandum dan bahkan lebih tinggi daripada beras. Selain itu, kandungan serat dan zat besi dalam sorgum paling tinggi dibandingkan gandum dan beras.

Kelebihan dari tepung sorgum dibanding tepung terigu dari gandum adalah bebas dari kandungan gluten (gluten free). Gluten adalah salah satu jenis protein pada gandum yang dapat menimbulkan reaksi alergi seperti gangguan pencernaan, anemia, hingga berisiko kekurangan vitamin dan mineral.

Gluten juga dapat merusak jaringan saraf pada penderita autisme sehingga akan memicu perilaku agresif. Meskipun tidak menimbulkan dampak yang begitu serius bagi sebagian besar orang, gluten dapat membuat kinerja pencernaan menjadi lebih berat.

Sorgum dapat dikonsumsi seperti beras biasa atau dapat juga dijadikan sebagai tepung seperti tepung gandum. Tepung sorgum dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan seperti kue, cookies, brownies, sup, dan bubur. Fungsinya tidak jauh berbeda dengan gandum.

Sorgum cocok ditanam di wilayah Indonesia, tidak seperti gandum yang harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Di Indonesia terdapat beberapa daerah yang sudah membudidayakan sorgum seperti Pati, Demak, Wonogiri, Grobogan, Gunung Kidul, Kulon Progo, Lamongan, Probolinggo, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Dalam konteks pembudidayaan tanamannya, sorgum lebih bersahabat dengan iklim tropis Indonesia jika dibandingkan dengan gandum yang berasal dari negara beriklim non tropis yang tentunya memiliki latar alam, lingkungan, cuaca dan iklim yang sangat berbeda dengan Indonesia.

Mari pangkas impor gandum, yuk makan sorgum!!!!

==**==

*) Tim penulis adalah Mahasiswa Politeknik UNHAN RI Kampus Ben Mboi, Program Studi Budidaya Pertanian Lahan Kering

Tim penulis, Claristha Delaros Mau, Daris Fitriana Zulfa, Muhammad Fiqri, Marshanda Salsabila F., dan Patricia Asry Mera
  • Bagikan