Kaji Ulang Kesepakatan Ekspor Gandum dengan Ukraina, Putin: Barat Ingin Mengambil Keuntungan

  • Bagikan
Kapal pengangkut gandum dari Ukraina

Mediatani – Sebanyak 30 ribu ton gandum diangkut dengan sebuah kapal bertolak dari Pelabuhan Laut Hitam Chornomorsk, Ukraina menuju Ethiopia. Kapal tersebut merupakan kapal ketiga yang sebelumnya telah direncanakan Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP).

“Kapal itu menuju Ethiopia. Menurut perkiraan PBB, Ethiopia berada di ambang krisis pangan,” kata Kementerian Infrastruktur Ukraina dalam sebuah pernyataan, Sabtu (17/9/2022).

Menurut Kementerian Infrastruktur Ukraina, dalam kemitraannya dengan WFP, sudah tiga kapal yang memuat lebih dari 90 ribu ton gandum dan sedang dalam perjalanan menuju Ethiopia dan Yaman.

“Kami berencana untuk mengekspor 190 ribu ton lagi, yang saat ini sedang dibeli oleh mitra PBB,” katanya.

Sementara itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin pekan lalu mengatakan, berencana akan merevisi kesepakatan koridor pengiriman gandum dan biji-bijian yang telah dicapainya dengan Ukraina.

Menurut Putin, komoditas tersebut tak dikirim ke negara berkembang, tapi justru ke negara-negara kaya seperti Eropa. Hal itu berpotensi akan memicu terjadinya krisis pangan global.

Baca Juga :   Produk Hewani Penyumbang Gas Metana Pada Pemanasan Global

Putin menjelaskan, kesepakatan koridor pengiriman gandum yang diteken negaranya dengan Ukraina lewat mediasi PBB dan Turki bertujuan untuk meringankan lonjakan harga pangan yang terjadi di negara-negara berkembang. Namun, justru negara-negara Barat yang kaya yang mengambil keuntungan dari hasil kesepakatan tersebut.

“Jika kita mengecualikan Turki sebagai negara perantara, maka hampir semua biji-bijian yang diekspor dari Ukraina dikirim bukan ke negara berkembang termiskin, tapi ke negara-negara Uni Eropa,” ungkap Putin saat berbicara di Eastern Economic Forum yang digelar di Vladivostok, 7 September lalu.

Hanya dua dari 87 kapal, ungkap Putin, yang membawa 60 ribu ton produk dan dikirim ke negara-negara miskin. Dia dalam konteks ini, menuduh Barat bertindak sebagai negara kolonial.

“Sekali lagi, negara-negara berkembang telah ditipu dan terus ditipu. Jelas bahwa dengan pendekatan ini, skala masalah pangan di dunia hanya akan meningkat, yang dapat menyebabkan bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ucapnya.

Oleh karena itu, Putin megantakan akan mengkaji untuk membatasi tujuan ekspor biji-bijian dan makanan lainnya. Hal tersebut bakal bahas bersama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sebagai tokoh yang turut memediasi kesepakatan dengan Ukraina.

Baca Juga :   Indonesia Pimpin Pembahasan Panduan Pengelolaan Perikanan Skala Kecil di ASEAN

Sebelumnya, pada 22 Juli lalu, Rusia dan Ukraina telah menandatangani perjanjian kesepakatan koridor gandum di Istanbul yang diteken di bawah pengawasan PBB dan Turki.

Dengan adanya perjanjian tersebut, Moskow memberi akses kepada Ukraina untuk mengekspor komoditas biji-bijiannya, termasuk gandum, dari pelabuhan-pelabuhan di Laut Hitam yang kini berada di bawah kontrol pasukan Rusia.

Kesepakatan itu menjadi kesepakatan paling signifikan yang dicapai sejak konflik Rusia-Ukraina pecah pada 24 Februari lalu.

Saat ini, Rusia dan Ukraina mejadi penyumbang 25 persen produksi gandum dan biji-bijian dunia. Sejak konflik pecah pada Februari lalu, rantai pasokan gandum dari kedua negara itu menjadi terputus.

Konflik tersebut membuat Ukraina tidak dapat melakukan pengiriman dikarenakan pelabuhan-pelabuhannya direbut dan dikuasai Rusia. Di sisi lain, Moskow tak bisa mengekspor karena adanya sanksi dari Barat.

  • Bagikan