Home / Agribisnis / Berita / Nasional

Kamis, 4 Oktober 2018 - 21:16 WIB

PB HMI : Stop Kampanye Hitam Produk Unggulan Pertanian Indonesia

robi syahrir

robi syahrir

Mediatani.co – Bogor, 4 Oktober 2018. Kampanye hitam produk unggulan Indonesia oleh oknum-oknum aktivis Internasional belakangan semakin marak. Ketua Bidang Lingkungan Hidup Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Robi Syahrir pun angkat bicara mengenai hal tersebut.

Ia menyatakan bahwa Indirect Land Use Change (ILUC) akan menjadi landasan bagi perumusan kebijakan penggunaan biodiesel berbasis minyak nabati di Uni Eropa dalam kaitannya untuk mengurangi emisi karbon dan dampak perubahan iklim.

Namun ia menduga skema Indirect Land Use Change (ILUC) yang tengah disusun komisi Uni Eropa merupakan upaya untuk melemahkan posisi komoditas sawit dan turunannya di pasar Eropa dan AS.

Baca Juga :   Di Tengah Diskriminasi Sawit, Uni Eropa Beberkan Hal Ini

“Hal ini dikarenakan penyusunan ILUC oleh Komisi Uni Eropa merujuk pada aturan Renewable Energy Directive II (RED II), sementara kriteria RED II cenderung bias pada jenis tanaman penghasil minyak nabati di negara-negara Eropa ”, ujar Robi.

Robi menyampaikan, bahwa Bidang Lingkungan Hidup PB HMI akan senantiasa mendukung pemerintah untuk mengambil langkah strategis dalam memperjuangkan komoditas unggulan Indonesia, terutama sawit.

“Selain itu, dalam waktu dekat ia menjanjikan akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dan segera melayangkan surat ke kedutaan besar negara-negara yang terindikasi sering melakukan kampanye hitam pada produk-produk komoditas unggulan Indonesia.” Tambahnya.

Menurutnya, seharusnya kriteria yang digunakan bersifat global karena kenyataannya berbeda karakteristik antara sawit dan jenis tanaman penghasil minyak nabati lainnya, seperti Rapeseed atau Bunga Matahari (Sunflower).

“Tanaman sawit memiliki rendemen paling tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya.” Jelasnya kepada awak media.

Baca Juga :   Komoditas Pertanian Sulawesi Utara dipastikan Telah Memenuhi Syarat Ekspor ke Tujuh Negara

Robi pun menyampaikan bahwa dalam banyak kasus, proses produksi sawit di Indonesia justru berperan sebagai carbon sink (penyerap karbon) karena dibudidayakan di lahan-lahan tidak produktif, seperti eks-konsesi HPH, lahan bekas tambang, dan lahan marjinal lainnya.

“Apabila tujuannya untuk mengurangi emisi karbon, dalam konteks Indonesia, seharusnya sawit masuk dalam komoditas unggulan yang harus didukung, baik skala nasional maupun global”. Pungasnya.

 

/J

Share :

Baca Juga

Ilustrasi Pocong di ebun durian

Internasional

Petani Durian di Malaysia Usir Pencuri Pakai Pocong dan Dupa

Agribisnis

Gejolak Harga Dapat Diatasi Dengan Intensifikasi Lahan
launching gerakan stabilisasi pasokan dan harga kedelai

Berita

Andalkan 3 Agenda Terbaru, Mentan Pastikan Pasokan dan Harga Kedelai Stabil

Panduan Budidaya

LKPP Nobatkan Kementan Sebagai Salah Satu Pengelola Barang dan Jasa Paling Transparan

Inspiratif

Perempuan Ini Raih Pundi-pundi Rupiah dari Jualan Bunga di Kupang

Agribisnis

Petani Timun Sukses Mudah Tanam Hasil Panen Melimpah

Nasional

Resmikan Sarana dan Prasarana Polbangtan, Mentan: Harus Lahir Enterpreneur Daerah
Merawat Bonsai

Panduan Budidaya

Cara Praktis Merawat Bonsai