Penjelasan BMKG Soal Cuaca Buruk yang Mengakibatkan Ribuan Ikan Mati Mendadak

  • Bagikan
Cuaca buruk membuat banyak ikan mati di Waduk Jatiluhur.

Mediatani – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab ribuan ikan yang mati mendadak di beberapa wilayah perairan, termasuk di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, dan Waduk Saguling, Bandung Barat. Menurut BMKG kejadian tersebut bisa disebabkan karena cuaca buruk yang membuat ribuan ikan kekurangan oksigen dan mati.

Dilansir dari Detik, Minggu (31/1/2021), Koordinator Sub-Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra mengatakan bahwa curah hujan yang tinggi atau terus-menerus melanda sebuah area perikanan, membuat kandungan oksigen dalam air bisa menurun secara drastis dan mempengaruhi kondisi ikan.

Secara alamiah, suatu perairan atau kolam ikan yang semakin dalam, maka oksigen di bagian dasarnya akan semakin tipis. Sehingga, jika bagian atas perairan juga kekurangan oksigen akibat curah hujan, hal tersebut akan mempengaruhi kondisi ikan.

“Nah, yang kedua yaitu dampak dari curah hujan tinggi yang membawa material dari sekitar kolam dan tercampur pada air yang terbawa ke dalam kolam/perairan,” jelas Agie.

Selain itu, hujan yang turun membuat banyak material labil, seperti lumpur, daun, dan bahan organik lainnya di sekitar kolam yang bercampur dan masuk ke dalam perairan yang menjadi wadah ikan.

Di perairan yang menjadi tempat tercampurnya bahan organik tersebut akan menjadi sasaran bakteri. Jadi bakteri menyerap bahan organik dengan menggunakan oksigen yang terdapat pada perairan. Hal tersebutlah yang menyebabkan penipisan oksigen di perairan sehingga menyebabkan ikan mati.

Untuk menyelamatkan mata pencariannya di tengah kondisi cuaca buruk, Agie menyarankan agar para pembudidaya ikan menggunakan rekayasa teknologi budidaya. Di samping itu, ia mengingatkan pengusaha ikan untuk memantau data-data BMKG mengenai prediksi cuaca buruk.

“Kalau advice saya untuk petani saat ini tentu saja bisa mengantisipasi dengan memanen lebih awal dengan memperhatikan informasi dari BMKG, atau meminimalisir dampak menurunnya kadar oksigen di dalam air,” jelasnya.

Dalam konteks perkembangan cuaca, pihaknya memprediksi curah hujan tinggi masih akan terjadi hingga Maret 2021.

Diberitakan sebelumnya, akibat cuaca buruk di Waduk Jatiluhur dan Waduk Saguling, ribuan ikan mati mendadak. Salah seorang Petani ikan Edo Junaedi di Waduk Jatiluhur menyebut fenomena tersebut sudah terjadi sejak lima hari sebelumnya.

Menurutnya, selama lima hari berturut-turut, cuaca mendung membuat tidak adanya cahaya matahari yang masuk dan membuat suhu perairan menjadi dingin. Kondisi perairan seperti itu membuat ikan mabuk dan mati.

Fenomena serupa juga terjadi di wilayah perairan lainnya seperti di Waduk Saguling dan kawasan Danau Maninjau, Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Bandung Barat Unang Husni Thamrin, Minggu (31/1/2021) mengatakan selama sepekan terakhir, ada sekitar 25 ton ikan yang mati di KJA di blok Bunder, Perlas, dan Gombong yang berada di waduk Saguling.

Sementara di Danau Maninjau, Agam, Sumatera Barat (Sumbar), total ikan yang mati secara massal mencapai 15 ton. Ikan itu tersebar di Nagari Bayua sebanyak lima ton dan Nagari Koto Malintang 10 ton. Ikan tersebut berasal dari puluhan keramba jaring apung milik puluhan petani.

“Satu keramba jaring apung dengan kematian sekitar 100 sampai 200 kilogram,” ungkap Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Ermanto, Kamis (4/2/2021).

Dari dugaan sementara, kata Ermanto,  kematian ikan itu disebabkan oleh angin kencang yang terus melanda daerah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut mengakibatkan ikan menjadi pusing dan mengapung ke permukaan danau, karena oksigen di dasar danau berkurang.

  • Bagikan